AS Roma Rombak Lini Tengah, El Aynaoui ke Leipzig dan De Roon Merapat

AS Roma membuat pergerakan mengejutkan pada penghujung bursa transfer musim panas 2026. Giallorossi bersiap melepas Neil El Aynaoui ke RB Leipzig setelah gelandang internasional Maroko tersebut baru menjalani satu musim di ibu kota Italia. Kepergiannya akan langsung diikuti kedatangan Marten de Roon dari Atalanta.

Pergantian tersebut menarik perhatian karena Roma menukar gelandang berusia 25 tahun dengan pemain berpengalaman yang telah menginjak usia 35 tahun. Namun pilihan tersebut menjadi lebih mudah dipahami apabila melihat hubungan Gian Piero Gasperini dengan De Roon selama bertahun tahun di Bergamo.

El Aynaoui sendiri menuju Bundesliga melalui skema pinjaman berbayar. Leipzig bersedia mengeluarkan sekitar 4 juta euro untuk meminjam sang pemain, kemudian memiliki kesempatan mempermanenkannya dengan nilai sekitar 25 juta euro. Roma juga berusaha memasukkan persyaratan tertentu yang dapat membuat pembelian tersebut berubah menjadi kewajiban.

Sementara itu, De Roon sudah menyampaikan keinginannya untuk meninggalkan Atalanta. Klub asal Bergamo dikabarkan bersedia menghormati permintaan pemain yang telah memberikan kontribusi sangat panjang tersebut. Roma hanya perlu menyelesaikan detail terakhir sebelum gelandang asal Belanda itu dapat bergabung dengan Gasperini di Trigoria.

Neil El Aynaoui Selangkah Lagi Meninggalkan AS Roma

Keputusan melepas Neil El Aynaoui menjadi salah satu kejutan terbesar Roma pada periode akhir bursa transfer. Sang gelandang sebelumnya didatangkan dari RC Lens dengan investasi besar dan sempat dipandang sebagai bagian penting dalam pembangunan lini tengah.

Namun situasinya berubah dalam beberapa pekan terakhir. Roma mulai mempertimbangkan kemungkinan menjual atau meminjamkan El Aynaoui ketika sejumlah klub menunjukkan ketertarikan.

RB Leipzig akhirnya bergerak paling serius.

Klub Bundesliga tersebut menawarkan formula yang dapat memberikan pemasukan langsung kepada Roma sekaligus membuka peluang transaksi permanen setelah musim berjalan. Kesepakatan awal berupa pinjaman senilai 4 juta euro dengan opsi pembelian 25 juta euro.

Jika Leipzig akhirnya mengaktifkan pembelian, Roma berpotensi menerima paket keseluruhan sekitar 29 juta euro.

Roma Ingin Opsi Pembelian Bisa Berubah Menjadi Kewajiban

Salah satu bagian yang masih menjadi pembahasan adalah bentuk klausul pembelian El Aynaoui.

Leipzig menginginkan opsi pembelian sehingga klub Jerman masih mempunyai keleluasaan menentukan keputusan setelah melihat performa pemain selama satu musim. Roma, di sisi lain, ingin mendapatkan kepastian lebih besar mengenai kemungkinan transfer permanen.

Karena itu, Giallorossi disebut berusaha memasukkan sejumlah persyaratan yang dapat mengubah opsi menjadi kewajiban membeli.

Persyaratan tersebut dapat berkaitan dengan jumlah pertandingan, menit bermain, pencapaian tertentu, ataupun target klub selama musim berjalan.

Formula semacam ini cukup sering muncul dalam transaksi antara klub Eropa. Roma memperoleh pembayaran pinjaman sekarang, sedangkan Leipzig mendapatkan kesempatan mengevaluasi pemain sebelum mengeluarkan nilai transfer yang lebih besar.

El Aynaoui Baru Satu Musim Mengenakan Seragam Roma

Kepergian El Aynaoui terasa cukup cepat karena pemain asal Maroko tersebut baru bergabung dengan Roma pada musim panas 2025. Ia direkrut dari Lens dengan biaya yang dilaporkan berada di kisaran 23,5 juta hingga 25 juta euro sebelum bonus.

Roma ketika itu melihat El Aynaoui sebagai gelandang modern yang mempunyai kemampuan membawa bola, kekuatan duel, serta energi besar untuk bergerak di berbagai area lapangan.

Penampilannya bersama Lens memang membuat banyak klub Eropa tertarik. Roma akhirnya memenangkan persaingan dan membawanya menuju Serie A.

Namun hanya sekitar satu tahun setelah transfer tersebut, jalur kariernya kembali berubah.

Leipzig Memberikan Kesempatan Baru di Bundesliga

RB Leipzig dapat menjadi tempat yang cukup menarik bagi El Aynaoui. Sepak bola Bundesliga dikenal memberikan banyak ruang untuk gelandang dengan karakter atletis dan kemampuan membawa bola secara progresif.

El Aynaoui mempunyai kualitas tersebut.

Ia bukan gelandang yang hanya bertugas menjaga posisi di depan pertahanan. Pemain internasional Maroko itu bisa bergerak membawa bola, membantu tekanan, mengikuti serangan, dan memenangkan duel di area tengah.

Leipzig juga memiliki tradisi cukup kuat dalam mengembangkan pemain yang masih berada pada usia produktif.

Pada usia 25 tahun, El Aynaoui masih mempunyai banyak ruang untuk meningkatkan konsistensi permainan. Kesempatan mendapatkan menit bermain reguler dapat menjadi faktor penting dalam kepindahannya ke Jerman.

Karakter Leipzig yang mengandalkan energi tinggi juga terlihat cocok dengan sejumlah kualitas utamanya.

Roma Langsung Bergerak Mendapatkan Marten de Roon

Roma tidak membutuhkan waktu lama mencari pengganti. Begitu pembicaraan dengan Leipzig berkembang, nama Marten de Roon langsung muncul sebagai pemain yang dipersiapkan mengisi ruang di lini tengah.

Kepindahan tersebut bahkan sudah berada pada tahap sangat lanjut.

De Roon dikabarkan telah meminta Atalanta mengizinkannya pergi. Pihak klub kemudian bersedia memenuhi permintaan tersebut sebagai bentuk penghargaan terhadap pemain yang sudah menjadi salah satu figur paling penting dalam sejarah modern La Dea.

Biaya transfernya pun sangat rendah.

Roma kabarnya hanya perlu menyiapkan sekitar 1 juta euro dalam bentuk bonus untuk menyelesaikan transaksi tersebut.

Gasperini Akan Bertemu Lagi dengan Salah Satu Pemain Kepercayaannya

Faktor Gian Piero Gasperini menjadi bagian penting dalam rencana transfer ini.

De Roon menghabiskan sebagian besar periode terbaik kariernya bersama Gasperini di Atalanta. Selama bertahun tahun, gelandang Belanda tersebut menjadi pemain yang hampir selalu dipercaya mengisi lini tengah.

Gasperini mengetahui kemampuan De Roon secara menyeluruh.

Ia memahami kapan pemain tersebut harus menekan lawan, bagaimana posisinya ketika tim kehilangan bola, serta perannya dalam menjaga keseimbangan ketika pemain lain bergerak menyerang.

Bagi Roma, keunggulan tersebut dapat mempercepat proses adaptasi.

De Roon tidak perlu mempelajari seluruh tuntutan Gasperini dari awal. Sebaliknya, ia sudah mengenal cara kerja pelatih Italia tersebut setelah melewati ratusan pertandingan bersama.

Mengapa Roma Memilih Pemain Berusia 35 Tahun?

Pertanyaan besar yang muncul tentu berkaitan dengan usia. De Roon sudah berusia 35 tahun, sedangkan El Aynaoui baru 25 tahun.

Secara sederhana, Roma terlihat menukar pemain yang lebih muda dengan gelandang yang mendekati fase akhir karier.

Namun kebutuhan Gasperini tidak selalu berdasarkan usia.

Pelatih Roma tersebut membutuhkan pemain yang memahami sistemnya serta mampu menjalankan tugas dengan disiplin tinggi. De Roon menawarkan kualitas tersebut sekaligus memberikan pengalaman yang sangat besar.

Beberapa alasan yang dapat menjelaskan keputusan Roma antara lain:

  1. De Roon sudah memahami tuntutan Gasperini
  2. Harga transfernya sangat rendah
  3. Roma mendapatkan pemain berpengalaman di Serie A
  4. De Roon mampu bermain sebagai gelandang bertahan maupun gelandang tengah
  5. Kehadirannya dapat memberikan keseimbangan untuk pemain yang lebih ofensif
  6. Adaptasinya diperkirakan lebih singkat dibandingkan pemain baru dari liga lain

Pengalaman juga menjadi elemen penting ketika Roma menjalani kompetisi dengan jadwal padat.

De Roon terbiasa bermain di Serie A, Liga Champions, Liga Europa, dan pertandingan internasional bersama Belanda.

De Roon Merupakan Simbol Era Sukses Atalanta

Sulit membicarakan perkembangan Atalanta dalam satu dekade terakhir tanpa memasukkan nama Marten de Roon. Gelandang asal Belanda tersebut menjadi salah satu pemain yang paling identik dengan kebangkitan La Dea.

Ia mencatat lebih dari 400 pertandingan bersama Atalanta dalam berbagai kompetisi.

Jumlah tersebut menjadikannya salah satu pemain dengan penampilan terbanyak sepanjang sejarah klub.

De Roon bukan pemain yang terkenal karena jumlah gol atau aksi individu spektakuler. Nilai terbesarnya justru terlihat dalam pekerjaan yang sering tidak mendapatkan sorotan utama.

Ia menutup ruang, memutus aliran bola, membantu bek tengah, melakukan tekanan, dan memberikan kebebasan kepada gelandang lain untuk bergerak lebih ofensif.

Kedatangan Franck Kessie Mengubah Situasi di Bergamo

Perubahan komposisi lini tengah Atalanta ikut membuka pintu bagi kepergian De Roon.

Klub Bergamo mendatangkan Franck Kessie, pemain yang sebelumnya juga pernah membela Atalanta sebelum menjalani perjalanan panjang bersama AC Milan, Barcelona, dan klub Arab Saudi.

Kehadiran Kessie memberikan pilihan baru di sektor tengah.

Pada saat bersamaan, De Roon mulai mempertimbangkan kesempatan baru. Ketika Roma dan Gasperini datang dengan tawaran, gelandang Belanda tersebut dikabarkan menyampaikan keinginannya untuk pindah.

Atalanta tidak ingin menghalangi.

Kontrak De Roon sendiri hanya tersisa hingga 2027. Dengan kontribusinya selama bertahun tahun, klub memilih memberikan jalan bagi sang pemain untuk menentukan langkah berikutnya.

Gasperini Mendapat Pemain yang Sudah Hafal Cara Kerjanya

Bagi Gasperini, De Roon bukan sekadar gelandang bertahan. Ia merupakan pemain yang selama bertahun tahun menjadi salah satu penggerak utama sistem Atalanta.

Cara bermain Gasperini membutuhkan koordinasi sangat tinggi.

Ketika seorang pemain bergerak melakukan tekanan, pemain lain harus memahami ruang yang ditinggalkan. Kesalahan beberapa meter saja dapat memberikan kesempatan kepada lawan melakukan serangan balik.

De Roon sudah memahami pola tersebut.

Inilah yang membuat transfer murah ini bisa menjadi cukup penting bagi Roma meskipun usia pemain sudah 35 tahun.

De Roon Bisa Menjadi Penghubung Pelatih dengan Pemain

Kehadirannya juga berpotensi membantu pemain Roma lainnya memahami tuntutan Gasperini.

Seorang pemain yang sudah bekerja lama dengan pelatih dapat menjadi contoh langsung di lapangan latihan.

De Roon mengetahui intensitas yang diinginkan Gasperini, posisi yang harus diambil ketika bola berpindah, dan bagaimana tim bereaksi setelah kehilangan penguasaan.

Pengalaman tersebut dapat membantu proses penerapan instruksi kepada pemain lain.

Roma tidak hanya mendapatkan seorang gelandang, tetapi seseorang yang sangat mengenal cara kerja pelatih mereka.

Perbedaan Karakter El Aynaoui dan De Roon Sangat Terlihat

Pergantian ini bukan pertukaran dua pemain dengan karakter identik. El Aynaoui dan De Roon mempunyai gaya yang cukup berbeda.

El Aynaoui lebih dinamis saat membawa bola. Ia mempunyai kemampuan untuk bergerak melewati tekanan lawan dan menghubungkan lini tengah dengan serangan.

De Roon lebih mengutamakan posisi, duel, tekanan, serta pengamanan ruang.

Karena itu, kedatangan pemain Belanda tersebut kemungkinan akan mengubah pembagian tugas di sektor tengah Roma.

Gasperini dapat memberikan kebebasan lebih besar kepada gelandang lain untuk bergerak ke depan karena De Roon mampu bertahan di belakang mereka.

Pengalaman Bisa Menjadi Senjata Roma di Pertandingan Besar

Roma juga membutuhkan pemain yang tidak mudah kehilangan ketenangan ketika menghadapi pertandingan dengan tekanan tinggi.

De Roon sudah menghadapi hampir seluruh situasi yang mungkin ditemukan seorang pemain Serie A.

Ia pernah terlibat dalam persaingan menuju Liga Champions, bermain menghadapi klub terbesar Eropa, serta menjadi bagian penting ketika Atalanta memenangkan Liga Europa.

Pengalaman tersebut dapat berguna ketika Roma memasuki pertandingan penting.

Bukan berarti De Roon akan selalu menjadi starter. Usianya membuat Gasperini tetap perlu mengatur menit bermain dengan hati hati.

Namun untuk pertandingan tertentu, pengetahuan dan kedisiplinannya dapat memberikan keuntungan besar.

Roma Tetap Menggunakan Dana untuk Posisi Lain

Selisih biaya antara kepergian El Aynaoui dan kedatangan De Roon juga memberikan keuntungan secara finansial.

Roma berpotensi mendapatkan 4 juta euro langsung dari biaya peminjaman El Aynaoui, kemudian tambahan 25 juta euro apabila Leipzig mempermanenkannya.

Pada sisi lain, kedatangan De Roon diperkirakan hanya membutuhkan sekitar 1 juta euro dalam bentuk bonus.

Perbedaan tersebut memberikan ruang kepada manajemen untuk bergerak pada posisi lain.

Roma masih mencari tambahan pemain di sektor serang, terutama winger yang bisa memberikan kecepatan dan produktivitas lebih besar.

Winger Baru Masih Menjadi Prioritas Roma

Setelah menyelesaikan perubahan di lini tengah, perhatian manajemen tetap tertuju pada sektor sayap.

Beberapa nama telah dipertimbangkan.

Luiz Henrique menjadi salah satu pemain yang mendapatkan perhatian Roma. Jamie Leweling dari Stuttgart juga berada dalam daftar, sedangkan Jamie Gittens sebelumnya ikut dikaitkan dengan klub ibu kota Italia.

Roma membutuhkan winger yang mampu memberikan variasi berbeda kepada Gasperini.

Pelatih tersebut menginginkan pemain yang berani menyerang ruang, kuat ketika berhadapan satu lawan satu, serta mampu bergerak menuju area penalti.

Penghematan dari transaksi De Roon dapat memberikan ruang tambahan untuk meningkatkan penawaran kepada target utama.

Leipzig Mendapat Gelandang yang Masih Berusia Produktif

Dari sisi RB Leipzig, kesepakatan El Aynaoui menawarkan risiko yang relatif terkontrol.

Mereka tidak langsung diwajibkan membayar 25 juta euro.

Biaya awal hanya sekitar 4 juta euro untuk peminjaman satu musim. Leipzig kemudian dapat menentukan keputusan berdasarkan performa sang pemain.

Jika El Aynaoui tampil sesuai harapan, opsi pembelian dapat diaktifkan.

Jika tidak, Leipzig mempunyai kemungkinan mengembalikannya kepada Roma, selama persyaratan untuk kewajiban pembelian tidak terpenuhi.

Bundesliga Bisa Sesuai dengan Karakter El Aynaoui

Permainan cepat Bundesliga dapat memberikan ruang yang lebih besar kepada El Aynaoui untuk menunjukkan kualitas atletisnya.

Banyak pertandingan di Jerman berlangsung dengan transisi cepat dan ruang yang lebih terbuka dibandingkan beberapa pertandingan Serie A.

El Aynaoui cukup nyaman ketika harus membawa bola menuju area lawan.

Kemampuan tersebut dapat dimanfaatkan Leipzig ketika melakukan serangan setelah memenangkan penguasaan.

Ia juga mempunyai energi untuk membantu tekanan dari lini tengah. Leipzig selama beberapa musim dikenal menyukai pemain dengan kapasitas fisik besar serta kemampuan melakukan pekerjaan intensif tanpa bola.

Karakter tersebut membuat kepindahan ke Bundesliga terlihat cukup masuk akal bagi gelandang internasional Maroko tersebut.

De Roon Tinggal Menunggu Detail Terakhir Menuju Trigoria

Negosiasi Roma dengan Atalanta berada pada tahap akhir setelah sang pemain menyampaikan keinginannya untuk bergabung.

Hubungan baik antara De Roon dengan Gasperini mempercepat pembicaraan personal.

Roma juga tidak perlu melakukan negosiasi panjang mengenai harga karena Atalanta bersedia memberikan perlakuan khusus sebagai bentuk penghargaan terhadap pengabdian pemain selama bertahun tahun.

Begitu administrasi selesai, De Roon dapat segera menuju Trigoria dan memulai kembali kerja sama dengan pelatih yang sangat mengenalnya.

Gasperini mendapatkan gelandang yang pernah menjadi pusat keseimbangan timnya di Bergamo, sementara Roma dapat menggunakan sebagian besar sumber daya transfer untuk mengejar winger baru sebelum jendela transfer ditutup.

Leave a Reply