Roma Kepleset di Udinese: Gol Bola Mati Bikin Turun ke Posisi 5 Klasemen
AS Roma pulang dari Udine dengan tangan hampa. Di laga Serie A yang digelar di Stadio Friuli pada 2 Februari 2026 malam waktu setempat, Roma kalah 0 1 dari tuan rumah Udinese. Hasil ini membuat Roma gagal kembali ke empat besar dan harus rela turun ke posisi 5 klasemen sementara.
Udinese Menang 1-0, Roma Kehilangan Momen di Kotak Penalti
Sejak peluit awal, pertandingan ini terasa seperti duel yang ditentukan oleh detail kecil, bukan pesta peluang. Roma menguasai bola lebih lama, tapi Udinese tampak lebih siap saat situasi berubah menjadi duel fisik dan transisi cepat.
Gol pembeda lahir pada menit 49 lewat tendangan bebas Jurgen Ekkelenkamp yang berbelok arah dan mengecoh Mile Svilar. Setelah itu, pertandingan mengeras: Roma menekan, Udinese bertahan rapat, dan beberapa momen kunci berjalan tipis sekali.
Babak Pertama: Udinese Menyengat Lebih Dulu, Roma Baru Panas Setelahnya

Roma datang dengan rencana jelas, menumpuk pemain di area tengah untuk menjaga bola tetap hidup. Namun, babak pertama justru dibuka oleh inisiatif tuan rumah. Udinese sempat menguji Svilar lebih awal, memaksa kiper Roma bekerja sebelum laga benar benar tenang.
Setelah fase awal itu, Roma mulai menemukan ritme. Serangan dari sisi sayap dipakai untuk menarik blok lawan melebar, lalu bola diarahkan ke half space untuk mencari tembakan dari jarak menengah atau umpan terobosan cepat.
Masalahnya, hampir semua serangan Roma mentok di sentuhan terakhir. Ada situasi ketika bola sudah masuk area berbahaya, tetapi pengambilan keputusan kurang cepat: tembak terlambat, umpan dipotong, atau penempatan badan tidak ideal sehingga peluang tidak menjadi peluang bersih. Dalam pertandingan ketat seperti ini, satu momen buntu bisa terasa seperti setengah kekalahan.
Gol Ekkelenkamp: Bola Mati, Pantulan, Lalu Sunyi di Sektor Tamu
Memasuki babak kedua, Udinese memulai dengan energi yang sama, dan Roma belum sempat menaikkan tempo ketika momen penentu muncul. Tendangan bebas Ekkelenkamp dilepas dari jarak menengah, lalu bola berbelok setelah mengenai pagar betis, membuat Svilar bergerak ke arah yang salah.
Gol ini mengubah peta laga. Udinese tidak perlu lagi memaksakan penguasaan bola. Mereka cukup rapat, disiplin, dan menunggu Roma frustrasi. Dari sisi Roma, setelah tertinggal, permainan jadi lebih langsung: bola lebih cepat diarahkan ke sepertiga akhir, lebih banyak crossing, lebih banyak upaya tembakan.
Namun ada harga yang harus dibayar. Saat Roma mempercepat serangan, jarak antar lini melebar. Di titik inilah Udinese beberapa kali mendapatkan ruang untuk mengancam lewat serangan balik, memaksa Roma tetap waspada agar tidak kebobolan gol kedua.
Momen Kunci: Gol Dianulir, Lalu Penyelamatan Menit Akhir

Roma sempat merasa sudah mendapat jalan keluar di menit menit akhir. Bryan Cristante mencetak gol pada masa akhir laga, tetapi gol itu dianulir karena offside dalam proses serangan. Dari pinggir lapangan, reaksi Roma terlihat jelas: bukan sekadar kecewa, tapi seperti kehilangan kesempatan yang mungkin hanya datang sekali.
Drama belum selesai. Pada fase tambahan waktu, Roma masih sempat memaksa Udinese bertahan sangat dalam. Gianluca Mancini bahkan mendapatkan kesempatan berbahaya di menit 97, tetapi kiper Maduka Okoye mampu menepis dengan ujung jari. Momen itu jadi simbol malam Roma: sudah dekat, tapi tetap tidak sampai.
Statistik Pertandingan: Roma Dominan Bola, Udinese Menang di Skor
Angka dasar pertandingan memperlihatkan pola klasik laga tandang yang pahit: Roma unggul penguasaan bola dan jumlah percobaan, tetapi Udinese lebih efektif menjaga gawangnya tetap aman sampai peluit akhir.
| Statistik | Udinese | Roma |
|---|---|---|
| Penguasaan bola | 36.1% | 63.9% |
| Tembakan tepat sasaran | 4 | 3 |
| Total tembakan | 7 | 10 |
| Sepak pojok | 4 | 7 |
| Kartu kuning | 5 | 4 |
| Penyelamatan kiper | 3 | 3 |
Melihat angka ini, terasa jelas: Roma memang lebih sering berada di wilayah lawan, tetapi Udinese mampu menjaga Roma tidak mendapatkan banyak tembakan bersih dari jarak dekat. Saat tembakan Roma datang, arahnya juga tidak cukup memaksa untuk membuat Okoye melakukan penyelamatan spektakuler berkali kali.
Susunan Pemain: Skema Sama, Cerita Berbeda di Lapangan
Kedua tim memakai pendekatan yang mirip di atas kertas, tetapi eksekusinya berbeda. Roma bermain dengan skema 3 4 2 1, berusaha mengalirkan bola lewat dua pemain di belakang penyerang untuk mengikat bek tengah Udinese, lalu membuka jalur untuk wing back.
Sementara Udinese tampak nyaman bermain dengan blok menengah, menutup jalur tengah, lalu memancing Roma mengirim bola melebar. Pada situasi bola mati, mereka terlihat siap dan yakin bisa menciptakan satu momen yang cukup.
Roma: Svilar, Mancini, Evan Ndicka, Mario Hermoso, Mehmet Zeki Celik, Cristante, Neil El Aynaoui, Wesley, Matias Soulé, Lorenzo Pellegrini, Donyell Malen
Udinese: Okoye, Oumar Solet, Thomas Kristensen, Nicolo Bertola, Kingsley Ehizibue, Lennon Miller, Jesper Karlstrom, Jordan Zemura, Ekkelenkamp, Arthur Atta, Keinan Davis
Dari pilihan pemain ini, terlihat Roma mencoba menang lewat kontrol, sementara Udinese percaya pada kedisiplinan dan satu dua tusukan yang tepat.
Roma Turun ke Posisi 5: Persaingan Empat Besar Makin Padat
Kekalahan ini langsung terasa di papan atas. Setelah 23 pertandingan, Roma mengoleksi 43 poin dan berada di posisi 5, tepat di bawah Juventus yang punya 45 poin. Di atasnya lagi ada Napoli dengan 46 poin, lalu AC Milan dengan 47 poin, sedangkan puncak klasemen ditempati Inter Milan dengan 55 poin.
Detail ini penting karena jaraknya rapat. Satu kekalahan tandang seperti di Udine bukan hanya soal kehilangan tiga poin, tapi juga membuat posisi berubah cepat. Dalam persaingan yang saling sikut, Roma kini tidak punya banyak ruang untuk terpeleset lagi bila ingin kembali menempel zona Liga Champions.
Kata Gasperini: Kurang Presisi, Kurang Beruntung, Tapi Kepala Tetap Tegak
Pelatih Roma Gian Piero Gasperini menilai timnya tidak bermain buruk secara struktur, namun mengakui ada masalah di area paling menentukan: sepertiga akhir. Ia menyoroti minimnya presisi, serta detail kecil yang tidak berpihak pada Roma pada momen gol Udinese dan momen momen akhir pertandingan.
Ia juga menggambarkan laga ini sebagai pertandingan yang tertutup, di mana kedua tim tidak mudah membangun peluang bersih. Dalam situasi seperti itu, satu bola mati yang berubah arah memang bisa menjadi hakim paling kejam.
PR Roma dari Laga Ini: Membuka Kunci Saat Lawan Bertahan Dalam
Ada satu pelajaran yang terasa sangat nyata dari pertandingan ini: ketika lawan memilih bertahan rapat dan memberi Roma bola, Roma harus punya variasi yang lebih tajam untuk membuka pintu.
Roma sudah punya volume serangan, sudah punya sepak pojok, sudah punya penguasaan bola. Yang kurang adalah cara mengubah dominasi itu menjadi peluang bersih beruntun, bukan hanya tekanan yang terlihat tapi tidak menakutkan.
Di laga seperti ini, biasanya kunci ada pada dua hal. Pertama, pergerakan tanpa bola di kotak penalti, supaya crossing tidak menjadi bola buang buang. Kedua, tembakan dari area 14, bukan asal menendang, melainkan tembakan yang datang dari kombinasi cepat satu dua sentuhan, sehingga blok lawan tidak sempat rapat.
Udinese menunjukkan cara bertahan yang rapi, tetapi Roma juga harus jujur: mereka belum cukup jahat di momen terakhir.
Agenda Berikutnya: Roma Pulang ke Olimpico
Setelah kalah di Udine, Roma dijadwalkan kembali bermain di kandang dan menjamu Cagliari pada 9 Februari 2026 di Stadio Olimpico dengan kick off 20:45 waktu setempat.