Forest Bikin Arsenal Buntu, Sels Menggila, Puncak Tetap The Gunners
Arsenal pulang dari City Ground tanpa gol, tanpa selebrasi, tapi juga tanpa rasa panik. Hasil imbang 0-0 melawan Nottingham Forest pada Sabtu malam 17 Januari 2026 memang terasa seperti peluang yang terbuang, namun satu angka ini tetap cukup untuk menjaga The Gunners aman di puncak klasemen Premier League, bahkan memperlebar jarak menjadi tujuh poin.
Di laga yang keras, rapat, dan penuh momen “hampir”, Forest tampil seperti tim yang tahu persis cara membuat Arsenal frustrasi. Namun di sisi lain, pasukan Mikel Arteta juga punya kisahnya sendiri: dominasi, peluang, xG tinggi, lalu berakhir dengan papan skor yang tetap kaku di angka nol.
Arsenal pegang kendali, Forest bertahan dengan disiplin
Sejak menit awal, arah pertandingan terbaca jelas: Arsenal membawa bola, Forest menunggu. Statistik pun mengonfirmasi. Arsenal menguasai 60 persen penguasaan bola dan melepaskan 15 tembakan, sementara Forest hanya 6.
Tapi sepak bola selalu punya kalimat kecil yang menyebalkan: dominasi tidak selalu berarti kemenangan. Forest memilih cara bermain yang sederhana tapi efektif. Blok rendah, jarak antarlini rapat, duel intens di area tengah, dan satu tujuan utama: jangan beri Arsenal ruang nyaman di kotak penalti.
Cara ini memaksa Arsenal lebih sering mengalirkan bola ke sisi lapangan, mengulang pola crossing, dan berharap ada celah dari bola-bola kedua.

Jalan buntu yang membuat Arsenal terlihat “menekan tapi tidak menggigit”
Arsenal menciptakan 11 peluang, jauh di atas Forest yang hanya 4.
Namun kualitas peluang itu tidak selalu “bersih”. Di babak pertama, Arsenal bahkan kesulitan mencatatkan tembakan tepat sasaran. Catatan delapan tembakan tanpa satu pun mengarah ke gawang jadi gambaran tepat betapa rapinya Forest mengontrol ruang.
Ini yang membuat tekanan Arsenal terasa seperti ombak besar: datang terus, tapi pecah sebelum masuk area berbahaya.
Babak pertama: peluang emas lewat, Forest makin percaya diri
Pertandingan berjalan intens sejak awal. Forest sempat memancing sorak penonton ketika Nicolás Domínguez melepaskan percobaan yang berujung sepak pojok. Namun setelah itu, Arsenal mulai menekan perlahan, memaksa tuan rumah bertahan semakin dalam.
Momen terbaik Arsenal di paruh pertama jatuh ke Gabriel Martinelli. Dari jarak dekat, peluangnya malah melenceng, sebuah situasi yang biasanya akan ia selesaikan dengan mata tertutup.
Di sisi lain, Forest tidak benar-benar menyerang dengan volume tinggi. Mereka lebih mengandalkan transisi cepat, mencoba mengirim bola ke sisi sayap, lalu berharap Morgan Gibbs White atau Hudson Odoi bisa menciptakan sesuatu dari duel satu lawan satu.
Forest nyaman dengan tempo seperti ini
Kalau ada tim yang “lebih senang” dengan skor kacamata, itu Forest. Mereka tidak terburu-buru, tidak terpancing, dan selalu punya cukup orang di belakang bola.
Satu hal yang paling menonjol adalah bagaimana mereka menjaga area half space, memaksa Arsenal memutar bola ke luar, lalu menutup jalur umpan cutback yang biasanya jadi menu favorit tim Arteta.

Babak kedua: Arteta berubah, Saka masuk, dan Sels mencuri panggung
Sesudah jeda, Arsenal terlihat menaikkan intensitas. Arteta juga melakukan perubahan yang membuat tekanan lebih terasa. Bukayo Saka akhirnya masuk dari bangku cadangan, dan seperti biasa, ia langsung membuat permainan Arsenal punya percikan yang berbeda.
Namun malam itu, Forest punya satu jawaban yang tidak bisa dibantah: Matz Sels.
Penyelamatan terbaik laga datang saat Saka menyambut umpan silang dengan sundulan looping yang mengarah ke pojok gawang. Sels terbang dan menepisnya dengan ujung jari.
Arsenal punya xG besar, tapi bola tetap tidak mau masuk
Kalau Anda tipe penonton yang percaya angka, data pertandingan ini bisa bikin Arsenal makin kesal. Expected goals Arsenal tercatat 2.1, sedangkan Forest hanya 0.34.
Bahkan Arsenal tercatat membuang 4 peluang besar. Forest? Nol.
Dengan kata lain, ini laga yang secara “hitungan peluang” semestinya bisa dimenangkan Arsenal. Tetapi yang terjadi justru kebalikannya: Forest bertahan cukup lama sampai Arsenal mulai terasa tergesa-gesa.
Kontroversi VAR: handball yang membuat Arteta mendidih
Di menit-menit akhir, Arsenal sempat meminta penalti setelah bola mengenai Ola Aina di kotak terlarang. Arteta menganggap itu pelanggaran yang jelas, dan ia tidak menahan emosinya seusai pertandingan.
“A clear penalty in the box that has not been given,” kata Arteta, menegaskan insiden itu sebagai momen krusial yang merampas kemenangan timnya.
Menurut penjelasan resmi yang beredar, pengecekan VAR menilai bola lebih dulu mengenai bahu Aina, sementara posisi tangannya dianggap natural.
Dari kubu Forest, Sean Dyche memilih berdiri di sisi yang berlawanan. Ia bahkan menyindir keras jika insiden seperti itu sampai diganjar penalti.
Kontroversi ini membuat ending laga terasa panas, meski papan skor tetap dingin.
Statistik pertandingan Nottingham Forest vs Arsenal
Laga berakhir 0-0, tapi angka-angkanya menggambarkan Arsenal yang dominan dan Forest yang bertahan mati-matian. Berikut statistik kunci pertandingan versi data pertandingan.
| Statistik | Nottingham Forest | Arsenal |
|---|---|---|
| Penguasaan bola | 40% | 60% |
| Expected goals (xG) | 0.34 | 2.1 |
| Tembakan | 6 | 15 |
| Tembakan tepat sasaran | 0 | 3 |
| Peluang besar terbuang | 0 | 4 |
| Sepak pojok | 4 | 9 |
| Operan akurat | 259 | 416 |
| Akurasi operan | 80.7% | 84.2% |
| Pelanggaran dilakukan | 8 | 14 |
| Kartu kuning | 1 | 1 |
Tambahan menarik: Arsenal menghasilkan xG set play 1.39, menandakan bola mati jadi sumber ancaman paling nyata.
Duel lini tengah: Forest menutup, Arsenal memaksa
Di laga seperti ini, kunci bukan hanya siapa yang punya bola, tapi siapa yang bisa mengontrol ruang tanpa bola.
Forest bekerja keras menutup jalur umpan vertikal, terutama ke area depan kotak penalti. Ada satu nama yang mencuri perhatian karena tampil konsisten menahan tekanan, menjaga struktur, dan ikut memutus aliran serangan Arsenal.
Arsenal tetap mencoba membangun lewat kombinasi Ødegaard dan Rice, namun Forest sering memaksa Arsenal mengirim bola lebih cepat ke sisi lapangan, alih-alih mengalirkan progresi pelan lewat tengah.
Arsenal rajin mengurung, tapi Forest tidak memberi celah bersih
Arsenal mencatat 36 sentuhan di kotak penalti lawan, dibanding Forest yang hanya 14.
Tapi sentuhan itu tidak selalu berarti finishing nyaman. Forest terlalu disiplin, dan ketika Arsenal akhirnya menemukan momen yang pas, penyelesaiannya melenceng atau dihentikan Sels.
Ini tipe pertandingan yang membuat tim papan atas merasa “lebih capek daripada biasanya”, karena harus memecahkan teka-teki pertahanan yang tidak pernah benar-benar retak.

Gyökeres dan malam yang tidak ramah bagi striker
Salah satu sorotan laga ini adalah Viktor Gyökeres yang kembali kesulitan memberi dampak besar. Ia tidak mendapat banyak suplai bersih, tapi ketika peluang kecil datang, momen itu tidak berubah menjadi ancaman nyata.
Forest juga punya Murillo yang sigap melakukan recovery, termasuk saat memotong potensi ancaman Arsenal di momen transisi.
Dalam pertandingan yang ritmenya rapat, striker butuh satu momen saja untuk menentukan. Dan malam itu, momen tersebut tidak pernah benar-benar datang.
Arsenal tetap aman di puncak: jarak tujuh poin yang terasa “harusnya lebih”
Kalau melihat tabel, Arsenal jelas tidak dirugikan besar. Mereka tetap di posisi pertama, unggul tujuh poin dari Manchester City.
Yang membuat fans Arsenal menghela napas panjang adalah konteksnya. Mereka datang ke City Ground setelah tahu City tergelincir, dan kemenangan akan membuat jarak jadi sembilan poin.
Tetap saja, satu poin ini menjaga ritme mereka. Dalam perebutan gelar, ada hari ketika tim tidak menang tapi tetap harus pulang dengan sesuatu. Dan Arsenal setidaknya melakukan itu.
Forest dapat poin mahal: City Ground jadi tempat yang sulit untuk ditaklukkan
Untuk Forest, 0-0 ini rasanya seperti kemenangan kecil. Mereka sedang bertarung menjauh dari papan bawah dan mampu menahan tim teratas tanpa kebobolan.
Forest bahkan tidak mencatatkan satu tembakan tepat sasaran, namun mereka berhasil mengamankan poin berkat organisasi pertahanan dan kerja kolektif.
Bagi tim yang sedang mengejar stabilitas, hasil seperti ini sering kali menjadi fondasi penting, terutama ketika jadwal semakin padat dan tekanan bertambah.
Momen kunci yang membentuk cerita 90 menit
Tidak semua laga 0-0 itu membosankan. Yang ini justru seperti film yang terus menahan klimaks.
Ada Martinelli yang menyia-nyiakan peluang dekat gawang, ada Saka yang hampir jadi pembeda, ada VAR yang memancing perdebatan, dan ada Sels yang pulang sebagai sosok paling disorot.
Arsenal boleh kecewa, Forest boleh tersenyum, tapi Premier League lagi-lagi menunjukkan satu hal: di liga ini, bahkan pemuncak klasemen pun bisa dibuat buntu selama 90 menit penuh.