Atletico Tumbang 0 3 di Butarque, Simeone Bersitegang dengan Oblak
Butarque biasanya identik dengan Leganes, tetapi Minggu 15 Februari 2026 stadion itu berubah jadi panggung aneh untuk Atletico Madrid. Rayo Vallecano yang seharusnya bermain di Vallecas terpaksa “mengungsi” karena kondisi lapangan kandang mereka bermasalah, dan hasilnya justru jadi malam paling pahit bagi pasukan Diego Simeone. Atletico terpeleset, kalah telak 0 3, permainan tumpul, dan suasana seusai laga ikut memanas ketika Simeone dan Jan Oblak berada di kutub yang berbeda soal cara membaca kekalahan.

Kalah tiga gol tanpa balas di laga liga memang sudah cukup menyakitkan. Namun yang membuat cerita ini panjang adalah bagaimana Atletico tampak kehilangan identitas yang biasanya mereka banggakan: rapat, disiplin, dan siap “menggigit” di momen yang tepat. Di Butarque, Atletico justru terlihat gamang, lambat merespons intensitas lawan, dan terlalu mudah dihukum ketika Rayo menemukan ruang.
Butarque yang Sepi dan Laga yang Terasa Janggal
Atmosfer pertandingan ini terasa ganjil sejak awal. Lokasi netral, tribun tidak seramai biasanya, dan nuansa derby Madrid yang semestinya panas justru berjalan di tempat. Banyak penonton membicarakan situasi internal Rayo, termasuk aksi boikot dan protes, yang ikut memengaruhi jumlah kehadiran.
Di atas rumput, janggalnya laga juga terlihat dari ritme Atletico. Mereka memegang bola lebih lama, tetapi itu tidak otomatis berarti dominan. Ada banyak penguasaan yang berputar di area aman, sementara Rayo menunggu momen tepat untuk menekan dan menyerang cepat.
Rayo bermain tanpa takut, Atletico seperti menahan rem
Rayo tidak bermain seperti tim yang sekadar ingin selamat dari zona bawah. Mereka berani menekan, berani mengunci jalur umpan pertama Atletico, dan berani menembak ketika peluang muncul. Sebaliknya Atletico terlihat seperti tim yang tidak menemukan gigi permainan. Umpan ke depan terlambat setengah detik, kontrol pertama kurang rapi, dan duel di tengah sering kalah langkah.
Kombinasi itulah yang akhirnya membuka jalan untuk tiga gol, serta membuat Simeone harus menelan kekalahan yang terasa lebih berat daripada sekadar skor.
Alur Laga: Atletico Kebobolan, Lalu Kehilangan Pegangan
Kekalahan 0 3 bukan cerita satu momen. Ini akumulasi dari banyak detail kecil yang tidak beres sejak menit awal. Rayo mencuri momentum lebih dulu, lalu memaksa Atletico bermain dalam skenario yang tidak mereka sukai: tertinggal, terburu buru, dan makin mudah dibaca.
Gol pertama membuat Atletico kehilangan rencana awal. Biasanya setelah kebobolan, Atletico akan memperketat jarak antar lini dan mulai mencari momen transisi. Di Butarque, transisi mereka tidak tajam. Serangan balik sering mati di umpan terakhir, sementara Rayo terus menambah tekanan.
Gol kedua seperti menutup pintu untuk comeback
Ketika skor melebar, bahasa tubuh Atletico berubah. Beberapa pemain tampak mencoba menaikkan intensitas, tetapi struktur tim justru makin berantakan. Jarak antar lini melebar, gelandang terlalu jauh dari bek, dan penyerang terlalu terisolasi. Di fase ini Rayo tidak perlu memegang bola lama lama, cukup memanfaatkan celah yang muncul.
Gol ketiga kemudian terasa seperti palu terakhir. Atletico masih punya waktu, tetapi energi mereka seperti habis bahkan sebelum peluit panjang.
Statistik Pertandingan: Atletico Banyak Menguasai Bola, Rayo Lebih Menggigit
Angka pertandingan memperjelas gambaran besarnya: Atletico unggul penguasaan bola dan menang jumlah sepak pojok, tetapi Rayo jauh lebih efektif dalam menciptakan ancaman yang benar benar mengarah ke gawang.
Berikut statistik pertandingan Rayo Vallecano vs Atletico Madrid di Butarque.
| Statistik | Rayo Vallecano | Atletico Madrid |
|---|---|---|
| Penguasaan bola | 41,1 persen | 58,9 persen |
| Tembakan tepat sasaran | 9 | 3 |
| Total percobaan tembakan | 13 | 9 |
| Kartu kuning | 1 | 3 |
| Sepak pojok | 4 | 8 |
| Penyelamatan kiper | 3 | 6 |
Dari tabel itu terlihat jelas: Atletico lebih sering membawa bola, tetapi Rayo lebih sering memaksa kiper bekerja. Untuk tim yang ingin menjaga posisi papan atas, angka tembakan tepat sasaran 3 itu terlalu kecil.
Kenapa penguasaan bola Atletico tidak berarti kontrol
Penguasaan bola bisa menipu bila tidak disertai progresi. Atletico memang lebih sering memegang bola, namun banyak fase yang berakhir dengan sirkulasi datar. Rayo menutup jalur tengah, memaksa Atletico mengalir ke sisi luar, lalu menekan saat bola masuk ke area yang mereka siapkan sebagai perangkap.
Saat Atletico akhirnya menembus garis pertama, mereka kesulitan menciptakan ruang tembak bersih. Rayo rapat saat bertahan, dan agresif saat memotong umpan.
Rayo lebih tajam di momen transisi
Perbedaan paling mencolok ada pada cara kedua tim memaksimalkan momen setelah merebut bola. Rayo tidak perlu membangun lama. Mereka langsung vertikal, memaksa Atletico berlari mundur. Atletico sendiri beberapa kali punya peluang transisi, tetapi keputusan akhirnya kurang berani atau kurang presisi.
Rotasi Simeone dan Efeknya ke Keseimbangan
Salah satu topik yang tak bisa dihindari adalah pilihan Simeone merotasi beberapa pemain. Jadwal padat dan target di kompetisi lain sering memaksa pelatih mengambil risiko. Namun di laga ini, rotasi justru membuat Atletico tampak kehilangan harmoni.
Beberapa kombinasi terlihat belum menyatu. Ada momen ketika satu pemain menekan, tetapi rekan di belakangnya terlambat naik sehingga garis pressing tidak kompak. Ada juga momen ketika bek melepas umpan panjang, tetapi penyerang tidak siap membaca arah bola.
Saat struktur rapuh, Atletico kehilangan senjata utama
Atletico selama ini hidup dari struktur. Bahkan ketika permainan tidak indah, mereka tetap bisa meraih hasil karena rapi. Di Butarque, struktur itu tidak terlihat. Dan ketika struktur hilang, Atletico menjadi tim biasa: mudah ditembus, mudah dipaksa bertahan, dan sulit menciptakan peluang bersih.
Rayo membaca itu dengan sangat baik. Mereka tidak terburu buru, tetapi terus menyerang titik lemah yang sama sampai gol demi gol datang.
Simeone dan Oblak: Perang Kata yang Membuka Luka
Setelah laga, sorotan tidak hanya tertuju pada taktik. Jan Oblak mengeluarkan pernyataan keras, bernada frustrasi, seolah menuding tim tampil tidak serius di laga tertentu. Intinya, menurut Oblak Atletico tidak boleh seperti memilih pertandingan mana yang ingin dimainkan dengan intensitas penuh.
Simeone tidak sepakat. Ia membalas dengan menegaskan bahwa kekalahan terjadi karena Atletico memang bermain buruk dan lawan tampil lebih baik, bukan karena tim sengaja menurunkan level atau memilih momen. Dari sini terlihat jurang cara pandang antara pelatih dan kapten.
Kenapa komentar Oblak terasa tajam
Oblak adalah salah satu ikon Atletico. Ketika dia berbicara, publik mendengar. Komentarnya bukan tipe yang sekadar klise. Ada nada kecewa yang seolah mengatakan, “Ini tidak boleh terjadi pada tim seperti Atletico.”
Dalam ruang ganti, kalimat semacam itu bisa memantik dua reaksi: menyatukan karena semua tersentil, atau justru memecah karena ada yang merasa dituduh. Itulah sebabnya respons Simeone menjadi penting. Pelatih ingin menutup celah itu secepat mungkin agar tidak jadi bola salju.
Simeone memilih melindungi kolektif
Simeone selama ini dikenal sebagai pelatih yang menjaga ruang ganti. Ketika ada kritik yang menyentuh mentalitas tim, ia cenderung menariknya kembali ke ranah teknis: kami kalah karena kami tidak bermain baik, titik. Ini cara Simeone memotong narasi yang bisa melebar dan mengganggu persiapan pertandingan berikutnya.
Namun publik terlanjur melihat satu hal: kekalahan telak diikuti ketegangan verbal, dan itu menandakan masalahnya tidak hanya soal satu pertandingan.
Titik Titik Masalah di Lapangan yang Sulit Disembunyikan
Skor 0 3 membuat setiap detail buruk terlihat lebih jelas. Atletico punya beberapa persoalan yang muncul bersamaan di Butarque.
Lini tengah kalah duel dan kalah arah
Ketika gelandang kalah duel, semuanya runtuh. Bek akan menghadapi serangan lebih sering, penyerang akan menerima bola lebih jarang, dan transisi akan selalu terlambat. Di laga ini, Rayo sering memenangkan bola kedua, membuat Atletico tidak bisa membangun serangan dari ritme yang mereka inginkan.
Selain duel, ada persoalan jarak. Atletico beberapa kali meninggalkan ruang di depan bek, ruang yang biasanya mereka kunci rapat. Rayo memanfaatkan celah itu untuk progresi cepat.
Serangan Atletico minim ancaman bersih
Tiga tembakan tepat sasaran adalah alarm. Ini menandakan Atletico sulit masuk ke zona tembak yang nyaman. Ada beberapa crossing, ada beberapa situasi bola mati, tetapi tidak cukup banyak peluang yang membuat pertahanan Rayo benar benar panik.
Ketika tim buntu, biasanya Atletico mengandalkan satu momen: bola mati, serangan balik, atau aksi individu. Di Butarque, momen itu tidak datang.
Pertahanan kehilangan ketegasan di momen krusial
Kebobolan tiga gol bukan berarti pertahanan selalu buruk sepanjang laga, tetapi ada momen di mana ketegasan hilang. Satu langkah terlambat, satu marking lepas, satu clearance yang tidak sempurna, lalu lawan menghukum. Rayo tampil klinis, dan Atletico membayar mahal untuk setiap kesalahan kecil.
Imbas ke Klasemen dan Tekanan Jadwal
Kekalahan ini bukan sekadar kehilangan tiga poin. Ini juga mengubah suasana kompetisi, karena Atletico kehilangan momentum setelah hasil besar di laga lain sebelumnya. Mereka juga harus memikirkan laga berikutnya dalam kondisi mental yang terganggu.
Di tengah padatnya jadwal, Simeone harus memastikan ruang ganti tidak terpecah oleh debat soal mentalitas. Sementara itu Oblak melempar pesan keras yang jelas ditujukan untuk semua orang, termasuk dirinya sendiri: standar Atletico tidak boleh turun sedalam ini, bahkan saat rotasi.
Apa yang Bisa Simeone Benahi Tanpa Mengubah Identitas
Simeone tidak akan tiba tiba mengubah Atletico menjadi tim yang bermain tiki taka sepanjang 90 menit. Identitas mereka tetap soal intensitas, struktur, dan efisiensi. Tetapi ada beberapa hal yang terlihat perlu disentuh.
Mengembalikan jarak antar lini
Ketika jarak rapi, Atletico sulit ditembus. Di laga ini jarak sering melebar, terutama ketika mereka tertinggal dan ingin cepat menyamakan skor. Simeone perlu membuat tim tetap tenang saat tertinggal, karena panik justru memberi lawan ruang yang lebih besar.
Memperjelas peran saat rotasi
Rotasi bukan masalah, tetapi rotasi harus disertai peran yang jelas. Siapa yang memimpin pressing, siapa yang menjaga rest defense saat menyerang, siapa yang jadi penghubung di half space. Di Butarque, beberapa peran terlihat bertabrakan atau kosong.
Menemukan cara menciptakan peluang tanpa bergantung pada chaos

Atletico sering nyaman ketika laga kacau, karena mereka jago bertahan lalu memukul balik. Namun ketika lawan menutup rapat dan tetap disiplin, Atletico butuh variasi: kombinasi cepat di tepi kotak penalti, cut back yang terukur, atau tembakan dari lini kedua yang lebih sering.
Di Butarque, variasi itu jarang terlihat, dan itu membuat Rayo semakin percaya diri untuk menunggu serta menghukum.
Ketegangan Simeone dan Oblak: Bisa Jadi Bahan Bakar, Bisa Jadi Masalah
Perbedaan pendapat di tim besar itu wajar. Yang membedakan adalah bagaimana mereka mengolahnya. Jika Simeone dan Oblak bisa menyatukan pesan, kejadian ini bisa jadi pemantik kebangkitan: semua tersentil, semua bekerja lebih keras.
Tetapi jika perang kata berkembang menjadi kubu kubu kecil di ruang ganti, Atletico akan kehilangan fokus di fase musim yang paling menuntut. Simeone memahami itu, dan karena itu ia memilih menegaskan satu hal: kalah karena buruk bermain, bukan karena memilih pertandingan. Oblak memilih menegaskan hal lain: tidak boleh ada laga yang dijalani setengah hati.
Dua kalimat itu, bila disatukan dengan benar, sebenarnya bisa menjadi satu pesan yang sama kerasnya untuk semua pemain: Atletico harus kembali jadi Atletico.