Salah Menggila, Liverpool Hajar Brighton 3-0 dan Melaju ke Babak Kelima FA Cup
Anfield bergemuruh pada Sabtu 14 Februari 2026 malam waktu setempat ketika Liverpool menuntaskan tugas di putaran keempat Emirates FA Cup. Skor akhir 3-0 atas Brighton mungkin terlihat seperti kemenangan santai, tetapi jalannya laga jauh lebih berlapis: Brighton sempat merepotkan, Liverpool sempat lambat panas, lalu satu periode tajam mengunci pertandingan.
Putaran keempat di Anfield yang awalnya tidak semulus angka di papan skor

Liverpool datang dengan pendekatan serius. Arne Slot menurunkan komposisi yang terasa seperti tim utama, dengan Mohamed Salah, Dominik Szoboszlai, Alexis Mac Allister, Cody Gakpo, Federico Chiesa, serta Florian Wirtz berada di lapangan sejak menit pertama. Di kubu tamu, Brighton juga tidak sekadar “numpang lewat”, terlihat dari beraninya mereka memegang bola dan menekan sejak awal.
Susunan pemain dan gambaran duel per posisi
Sebelum masuk ke detail alur laga, menarik untuk menyorot susunan pemain yang ikut membentuk cerita. Liverpool memulai pertandingan dengan Alisson di bawah mistar, Virgil van Dijk sebagai kapten, Ibrahima Konate, lalu peran Curtis Jones yang diplot di sisi kanan pertahanan, sementara Milos Kerkez memberi lebar dari kiri. Di depan, Salah menjadi poros serangan sekaligus pemantik transisi.
Brighton menurunkan Jason Steele, Lewis Dunk sebagai kapten, Jan Paul van Hecke, Joël Veltman, Ferdi Kadioglu, dan Pascal Groß di ruang tengah. Mereka juga memberi menit kepada Harry Howell, yang menjadi salah satu penanda keberanian rotasi, sembari tetap memasang ancaman melalui Diego Gómez dan Charalampos Kostoulas.
Ritme awal: Brighton berani pegang bola, Liverpool mencari timing menekan
Laga ini sempat terasa “slow burn”. Brighton cukup nyaman mengalirkan bola, memancing Liverpool keluar dari blok, lalu mencoba mengirim umpan di belakang garis pertama pressing. Liverpool, sebaliknya, tidak langsung mengamuk. Mereka lebih seperti menunggu momen tepat untuk menaikkan intensitas, khususnya ketika bola masuk ke area yang bisa dipancing untuk direbut. Narasi ini juga tercermin dari data penguasaan bola yang justru sedikit condong ke Brighton.
Babak pertama: dari ancaman Brighton ke pukulan Jones jelang jeda
Liverpool baru benar benar tampak “menyetel mesin” setelah laga berjalan cukup lama. Brighton sempat membuat Anfield menahan napas, sementara Liverpool beberapa kali terlihat mencari jalur terbaik untuk mengirim bola ke area berbahaya tanpa membuka ruang serangan balik.
Setengah jam yang menguji kesabaran
Dalam rentang awal, Brighton lebih sering terlihat rapi dalam memegang bola. Liverpool memang punya momen, tetapi belum kontinu. Ada fase ketika Liverpool mulai menemukan cara menyerang sisi kiri pertahanan Brighton, terutama saat Kerkez naik dan menerima bola di ruang yang sulit ditutup cepat. Dari sinilah tekanan perlahan menumpuk.
Gol pembuka menit 42: Kerkez kirim, Jones datang tanpa kawalan
Gol pertama Liverpool lahir pada menit 42, dan prosesnya sangat “FA Cup Anfield”: tekanan yang makin tebal, bola masuk ke area enam yard, lalu eksekusi cepat sebelum pertahanan sempat menata ulang. Kerkez mengirim umpan rendah berbahaya ke kotak penalti, Jones muncul di ruang antar bek dan menuntaskan peluang untuk mengubah skor menjadi 1 0.
Brighton membalas sebelum turun minum, Alisson jadi pembeda
Yang membuat pertandingan tetap menarik, Brighton tidak runtuh setelah kebobolan. Mereka justru punya momen besar menjelang jeda. Pada salah satu situasi krusial, Diego Gómez sempat berada dalam posisi satu lawan satu, tetapi Alisson memenangi duel itu dengan penyelamatan penting. Di titik ini, Liverpool seperti mendapat pengingat: pertandingan belum selesai hanya karena unggul satu gol.
Babak kedua: Szoboszlai meledak, lalu Salah mengunci dari titik putih
Jika babak pertama soal mengumpulkan tekanan, babak kedua adalah soal kualitas pada momen yang tepat. Brighton sempat punya beberapa percikan, namun ketika Liverpool menemukan satu rangkaian serangan yang bersih, pertandingan langsung condong berat.
Menit 56: gol Szoboszlai, serangan cepat yang dibuat terlihat mudah

Gol kedua di menit 56 adalah highlight yang akan diputar ulang berkali kali. Salah memberi kontribusi besar dalam prosesnya, dan Szoboszlai menyelesaikan dengan tembakan pertama yang tegas. Dalam satu rangkaian, Liverpool mengubah situasi jadi peluang emas, dan finishing Szoboszlai membuat Jason Steele nyaris tak punya ruang bereaksi.
Menit 68: penalti Salah, kombinasi kelincahan dan ketenangan
Liverpool kemudian mendapat penalti pada menit 68 setelah Salah dilanggar di kotak terlarang. Wasit Stuart Attwell menunjuk titik putih, dan Salah mengeksekusi dengan keras serta rapi untuk menjadikan skor 3 0. Dari sini, atmosfer berubah: Brighton tetap mencoba, tetapi Liverpool sudah memegang kendali skor dan emosi laga.
Momen kecil yang tetap penting: peluang Brighton, gol yang dianulir, dan kontrol Liverpool
Masih ada catatan menarik setelah skor 3 0. Alisson beberapa kali harus ikut bekerja, dan Liverpool sempat punya gol tambahan yang tidak disahkan dalam situasi yang memancing perdebatan. Di sisi lain, Brighton menerima empat kartu kuning, tanda frustrasi sekaligus bukti mereka tetap mencoba memutus alur Liverpool dengan duel keras.
Kunci pertandingan: Liverpool menang di intensitas, Brighton kalah di ketajaman
Walau Brighton unggul penguasaan bola dan bahkan lebih banyak melepaskan tembakan, Liverpool memenangi duel paling penting: kualitas peluang dan eksekusi. Data menunjukkan Brighton mencatat 17 tembakan berbanding 13, namun tembakan tepat sasaran Liverpool lebih tajam pada waktu yang tepat, lalu penalti menjadi pemaku.
Peran Salah: bukan hanya gol dan assist
Slot menyorot aspek yang sering luput ketika publik hanya menghitung gol: kontribusi defensif Salah. Dalam komentarnya, Slot menegaskan ia senang karena Salah kembali mencetak gol dan membuat assist, tetapi yang paling ia sukai adalah bagaimana Salah membantu tim saat bertahan.
Jones di sisi kanan dan Kerkez sebagai pendorong tempo
Cerita lain yang patut dicatat adalah bagaimana Jones menjalankan peran di sisi kanan, sementara Kerkez memberi ancaman konstan dari kiri. Gol pembuka menjadi bukti langsung: Kerkez memberi assist, Jones muncul sebagai eksekutor. Dalam laga piala yang sering ditentukan detail kecil, kontribusi dari sisi yang tidak selalu “headline” justru membuka jalan.
Statistik pertandingan Liverpool vs Brighton
Berikut ringkasan angka utama laga berdasarkan data pertandingan yang dipublikasikan.
| Statistik | Liverpool | Brighton |
|---|---|---|
| Skor | 3 | 0 |
| Penguasaan bola | 46.7% | 53.3% |
| Tembakan | 13 | 17 |
| Tembakan tepat sasaran | 5 | 3 |
| Peluang besar terbuang | 1 | 1 |
| Sepak pojok | 5 | 6 |
| Operan sukses | 334 | 382 |
| Akurasi operan | 85.4% | 84.9% |
| Offside | 4 | 2 |
| Penyelamatan kiper | 3 | 2 |
| Pelanggaran dilakukan | 15 | 19 |
| Kartu kuning | 0 | 4 |
| Kartu merah | 0 | 0 |
Catatan pemain: malam milik Salah, Szoboszlai, dan para pekerja sunyi
Kemenangan besar sering punya banyak wajah. Di laga ini, papan skor memang memunculkan tiga nama, tetapi fondasinya dibangun oleh beberapa detail yang membuat Liverpool terlihat dewasa saat pertandingan sempat tidak nyaman.
Mohamed Salah: satu gol, satu assist, dan pemimpin transisi
Salah mencatat assist untuk gol Szoboszlai dan mencetak gol dari penalti. Ia juga menjadi pemain yang paling sering mengubah situasi “biasa” menjadi “gawat” bagi Brighton, terutama lewat akselerasi saat menerima bola di ruang setengah. Di ruang konferensi pers, Slot juga menekankan kontribusi Salah saat bertahan sebagai nilai tambah yang membuat Liverpool makin komplet.
Dominik Szoboszlai: eksekusi kelas atas yang mematahkan semangat lawan
Gol Szoboszlai terasa seperti gol yang memutus harapan Brighton. Setelah itu, Brighton masih mencoba menyerang, tetapi mereka tahu satu kesalahan lagi bisa berujung bencana. Slot bahkan menyetujui penilaian Salah bahwa Szoboszlai termasuk pemain elit.
Curtis Jones dan Milos Kerkez: kombinasi gol dan assist yang mengubah ritme
Jones mencetak gol pembuka, lalu Kerkez memberi assist. Lebih dari itu, pergerakan Kerkez memaksa Brighton terus membuat keputusan: menutup sisi luar atau menjaga ruang di dalam. Begitu pilihan mereka terlambat setengah detik saja, Liverpool sudah bisa masuk ke kotak penalti.
Brighton: banyak usaha, minim hasil, lalu frustrasi terlihat di kartu
Brighton tidak sepenuhnya buruk. Mereka unggul penguasaan bola, lebih banyak menembak, dan sempat punya momen besar sebelum jeda. Namun, seperti yang diakui Fabian Hürzeler, “momen” yang menentukan berjalan ke arah yang salah untuk timnya karena Liverpool lebih efektif memanfaatkan peluang. Empat kartu kuning Brighton juga menggambarkan betapa sulitnya menahan arus ketika Liverpool sudah menemukan ritme.
Langkah berikutnya: Liverpool memastikan tiket babak kelima
Dengan hasil ini, Liverpool melaju ke putaran berikutnya dan menjaga peluang meraih trofi FA Cup tetap hidup. Untuk Brighton, tersingkirnya mereka datang bukan karena tidak punya rencana, melainkan karena Liverpool punya kualitas lebih tajam pada titik paling menentukan: satu gol menjelang jeda, satu penyelesaian kelas atas selepas turun minum, lalu penalti yang mematikan pertandingan.