Roma Menggila di Olimpico, Cremonese Dibungkam 3-0 dan Persaingan Papan Atas Memanas
AS Roma tampil meyakinkan saat menjamu Cremonese di Stadio Olimpico pada pekan ke 26 Serie A, Minggu 22 Februari 2026, dan menutup laga dengan kemenangan telak 3-0. Setelah babak pertama berakhir tanpa gol, tim tuan rumah meledak di paruh kedua lewat Bryan Cristante, Evan N’Dicka, dan Niccolò Pisilli. Laga ini juga semakin terasa penting karena kemenangan tersebut membawa Roma menyentuh 50 poin dan terus menempel ketat zona atas klasemen.
Pertandingan ini ditulis banyak pihak sebagai laga yang sempat berjalan kaku di babak pertama, namun berubah total selepas jeda. Roma tetap dominan sejak awal, tetapi baru benar benar efektif ketika intensitas serangan dan kualitas eksekusi bola mati meningkat. Kombinasi kontrol permainan, ketenangan, dan tekanan berulang di area lawan menjadi pembeda utama.
Jalannya Pertandingan yang Berubah Drastis Setelah Turun Minum
Babak pertama di Olimpico bukan tontonan yang terlalu terbuka. Roma memegang kendali bola, menguasai wilayah permainan, dan mendorong Cremonese bertahan dalam blok rendah. Namun dominasi itu belum langsung melahirkan peluang bersih dalam jumlah besar.
Cremonese datang dengan pendekatan yang sangat rapat, mencoba menutup jalur kombinasi di area tengah dan memaksa Roma memainkan bola ke sisi lapangan. Strategi itu sempat bekerja karena Roma terlihat banyak berputar di sepertiga akhir tanpa sentuhan akhir yang benar benar mengancam. Sejumlah laporan pertandingan juga menyoroti bahwa babak pertama berjalan seret dan minim peluang tajam.
Babak Pertama yang Ketat dan Penuh Uji Sabar

Roma memang terlihat lebih siap menguasai ritme, tetapi Cremonese cukup disiplin untuk menahan mereka selama 45 menit awal. Situasi seperti ini sering membuat tim tuan rumah frustrasi, apalagi ketika publik sudah menunggu gol cepat di Olimpico.
Yang menarik, Roma tidak kehilangan struktur. Mereka tetap menekan, terus mencari ruang melalui pergerakan pemain sayap dan gelandang yang masuk ke half space. Kesabaran ini menjadi modal penting karena begitu gol pertama datang, pertandingan langsung berubah arah sepenuhnya.
Momentum Roma Datang dari Bola Mati
Gol pembuka akhirnya tiba pada menit ke 59 melalui Bryan Cristante. Berdasarkan catatan pertandingan, gol ini lahir dari situasi sepak pojok, dengan Lorenzo Pellegrini tercatat sebagai pemberi assist. Setelah kebuntuan pecah, Roma bermain jauh lebih lepas dan tekanan ke pertahanan Cremonese meningkat tajam.
Gol kedua pada menit ke 77 juga datang dari pola yang mirip. Evan N’Dicka mencetak gol setelah menerima assist Cristante, kembali dari skema bola mati yang dieksekusi dengan sangat baik. Dua gol dari situasi set piece bukan sekadar kebetulan, melainkan bukti bahwa Roma membaca kelemahan lawan dan mengeksekusinya dengan rapi.
Pisilli Menutup Laga dan Mengunci Kemenangan

Saat Cremonese mulai kehabisan tenaga untuk mengejar, Roma menambah gol ketiga pada menit ke 86 lewat Niccolò Pisilli. Gol ini menegaskan dominasi tuan rumah dan menutup laga tanpa drama di menit akhir.
Skor 3 0 juga terasa sangat mencerminkan jalannya pertandingan. Cremonese nyaris tidak memberi ancaman berarti, sementara Roma terus menekan hingga fase akhir laga. Bahkan data tembakan menunjukkan jarak kualitas yang sangat lebar antara kedua tim.
Statistik Pertandingan Roma vs Cremonese
Angka angka pertandingan memperlihatkan betapa dominannya Roma di hampir semua aspek utama. Mereka unggul dalam penguasaan bola, total tembakan, tembakan tepat sasaran, hingga sepak pojok. Cremonese nyaris tidak mampu membangun ancaman berkelanjutan ke gawang Mile Svilar.
Tabel Statistik Utama Pertandingan
| Statistik | AS Roma | Cremonese |
|---|---|---|
| Skor Akhir | 3 | 0 |
| Penguasaan Bola | 58.2% | 41.8% |
| Total Tembakan | 23 | 2 |
| Tembakan Tepat Sasaran | 5 | 0 |
| Sepak Pojok | 9 | 1 |
| Kartu Kuning | 1 | 1 |
| Saves | 0 | 2 |
| Expected Goals xG | 2.01 | 0.06 |
| Wasit | Marco Di Bello | Marco Di Bello |
| Stadion | Stadio Olimpico, Rome | Stadio Olimpico, Rome |
| Penonton | 59,025 | 59,025 |
Data statistik pertandingan memperlihatkan konsistensi pada aspek utama seperti penguasaan bola, total tembakan, tembakan tepat sasaran, dan sepak pojok. Angka xG 2.01 berbanding 0.06 juga mempertegas bahwa kemenangan ini bukan hanya besar dari skor, tetapi juga dominan secara kualitas peluang.
Peran Kunci Bryan Cristante dalam Kemenangan Roma
Laga ini pantas disebut sebagai malam Bryan Cristante. Ia membuka kebuntuan, lalu menyumbang assist untuk gol kedua N’Dicka. Kontribusi langsung pada dua gol membuatnya menjadi poros penting dalam perubahan arah pertandingan.
Lebih dari itu, laga ini juga terasa spesial karena beberapa laporan menyoroti bahwa Cristante tampil dalam penampilan ke 350 bersama Roma. Momen personal tersebut makin lengkap karena ia tampil menentukan saat tim membutuhkan jalan keluar dari pertandingan yang sempat tersendat.
Bukan Sekadar Gelandang Penyeimbang
Cristante sering dilihat sebagai gelandang yang menjaga keseimbangan tim, membantu sirkulasi bola, dan menutup ruang saat transisi. Namun melawan Cremonese, ia menunjukkan sisi lain yang sering jadi pembeda di laga ketat, yaitu keberanian masuk ke kotak penalti dan ketajaman membaca momen bola mati.
Golnya pada menit ke 59 memecah kebuntuan psikologis Roma. Setelah itu, distribusi bola Roma menjadi lebih berani, pergerakan antar lini makin agresif, dan tekanan terhadap pertahanan Cremonese tampak jauh lebih stabil. Assist untuk gol N’Dicka semakin menegaskan bahwa Cristante bukan hanya finisher pada laga ini, tetapi juga kreator dari skema penting.
N’Dicka dan Pisilli Menunjukkan Kedalaman Skuad Roma
Ketika sebuah tim menang besar, sorotan sering berhenti di pencetak gol pertama. Padahal, dalam laga ini kontribusi N’Dicka dan Pisilli juga sangat penting karena keduanya memastikan Roma tidak memberi ruang bagi lawan untuk bangkit.
N’Dicka mencetak gol kedua pada menit ke 77, gol yang praktis mematikan harapan Cremonese. Setelah unggul dua gol, Roma bermain lebih nyaman dan bisa mengatur tempo dengan lebih tenang. Pisilli kemudian hadir sebagai penutup dengan gol menit ke 86 yang mengunci skor menjadi 3 0.
Efektivitas Bek dan Gelandang Muda di Momen Kritis
Gol N’Dicka juga memperlihatkan hal penting dari Roma musim ini, yaitu ancaman dari berbagai lini. Tidak hanya mengandalkan penyerang, Roma mampu memaksimalkan bek tengah dalam situasi bola mati. Ini membuat lawan sulit fokus menjaga satu dua pemain saja.
Sementara itu, gol Pisilli memberi nilai tambah lain. Ketika pertandingan memasuki fase akhir, hadirnya pencetak gol ketiga dari lini berbeda memperlihatkan bahwa Roma punya energi dan opsi untuk terus menekan, bukan sekadar menjaga keunggulan tipis. Dalam pertandingan papan atas yang padat, detail seperti ini sangat menentukan.
Mengapa Cremonese Sulit Keluar dari Tekanan Roma
Cremonese sebenarnya mencoba bertahan rapat dan menjaga jarak antar lini, terutama di babak pertama. Akan tetapi, tekanan Roma yang konsisten membuat mereka terlalu lama bermain tanpa bola. Situasi ini menguras tenaga dan membuat keluarnya bola dari area sendiri menjadi tidak rapi.
Data pertandingan memperlihatkan Cremonese hanya mencatat dua tembakan sepanjang laga dan tidak ada yang mengarah tepat ke gawang. Dengan angka seperti itu, sangat sulit berharap mencuri poin di kandang tim sekelas Roma.
Minim Serangan Balik yang Benar Benar Bersih
Salah satu jalur yang biasanya dipakai tim tamu untuk mengganggu tuan rumah adalah serangan balik cepat. Namun pada laga ini, Roma mampu memotong banyak upaya sebelum berkembang. Lini tengah Roma cukup disiplin menutup jalur umpan ke depan, sementara pertahanan mereka jarang dipaksa duel terbuka dalam situasi berbahaya.
Karena itulah, meski skor baru terbuka di babak kedua, kesan dominasi Roma sudah terasa sejak awal. Cremonese bertahan cukup lama, tetapi tidak benar benar menggeser kontrol pertandingan ke pihak mereka. Begitu kebobolan, struktur bertahan mereka makin sulit dipertahankan.
Dampak Hasil Ini pada Klasemen dan Laga Berikutnya Roma
Kemenangan 3 0 ini membawa Roma ke 50 poin setelah 26 pertandingan. Roma berada di posisi empat dengan poin yang sama dengan Napoli saat daftar klasemen diperbarui, sementara sejumlah laporan pertandingan menekankan bahwa hasil ini membuat Roma terus berada dalam persaingan ketat zona Liga Champions.
Di sisi lain, Cremonese tetap tertahan di papan bawah dengan 24 poin dari 26 laga. Untuk tim yang sedang berjuang menjauh dari tekanan zona bawah, kekalahan tanpa balas seperti ini jelas menjadi pukulan berat, terlebih karena mereka juga kesulitan menciptakan peluang sepanjang pertandingan.
Modal Psikologis Menjelang Jadwal Berat
Laga Roma berikutnya di Serie A adalah menghadapi Juventus pada 1 Maret 2026. Menang meyakinkan di Olimpico memberi suntikan kepercayaan diri yang besar, terutama karena kemenangan ini lahir dari kombinasi kesabaran, ketajaman bola mati, dan kontrol permainan yang matang.
Bagi Roma, pesan terpenting dari laga ini adalah kemampuan menjaga kepala tetap dingin saat pertandingan tidak langsung berjalan sesuai rencana. Babak pertama memang tidak menghasilkan gol, tetapi tim tetap disiplin dan akhirnya menuai hasil besar di babak kedua. Pola seperti ini sering menjadi pembeda antara tim yang sekadar bagus dan tim yang benar benar siap bersaing hingga pekan pekan akhir.
Catatan Pertandingan Penting
Laga di Olimpico ini juga menyimpan beberapa detail yang layak dicatat untuk pembaca yang mengikuti Serie A secara dekat. Pertandingan dipimpin wasit Marco Di Bello dan dihadiri 59.025 penonton, angka yang menunjukkan atmosfer kandang Roma tetap kuat untuk laga penting seperti ini.
Formasi awal yang ditampilkan dalam data pertandingan menunjukkan Roma turun dengan struktur 3 4 2 1, sementara Cremonese memakai 3-5-2. Dalam praktiknya, keunggulan Roma terlihat pada kemampuan mengubah tekanan di sisi lapangan menjadi peluang bola mati dan serangan gelombang kedua di depan kotak penalti. Itulah yang pada akhirnya membuka jalur menuju tiga gol kemenangan.