PSG Bangkit dari Lubang Dua Gol, Monaco Tumbang 2-3 di Leg Pertama Playoff Liga Champions

Stade Louis II sempat terasa seperti panggung pesta Monaco saat laga baru berjalan hitungan detik. Namun malam Selasa 17 Februari 2026 berubah menjadi panggung kebangkitan Paris Saint Germain. Tertinggal 0-2, kehilangan Ousmane Dembélé karena cedera, lalu melihat tuan rumah bermain dengan 10 orang, PSG menuntaskan comeback yang rapi sekaligus brutal: menang 3-2 dan membawa modal emas ke Paris untuk leg kedua.

Satu nama jadi pusat cerita. Désiré Doué masuk dari bangku cadangan saat PSG sedang limbung, lalu mencetak dua gol dan terlibat langsung pada gol Achraf Hakimi. Jika ini duel dua klub Ligue 1 yang saling hafal luar dalam, PSG membuktikan mereka yang paling cepat menemukan tombol darurat ketika situasi meledak.

Statistik pertandingan

Angka ini menjelaskan kenapa Monaco yang sempat unggul dua gol akhirnya justru terjebak dalam gelombang serangan PSG, terutama setelah interval.

StatistikMonacoPSG
Penguasaan bola19.6%80.4%
Tembakan tepat sasaran410
Total tembakan730
Sepak pojok18
Pelanggaran114
Kartu kuning20
Kartu merah10
Penyelamatan kiper72

Babak pertama Monaco menggigit, PSG goyah tapi tidak panik

Monaco seperti menyalakan sirene sejak detik awal. Gol pertama datang sangat cepat, Folarin Balogun menyambar peluang di menit pertama dan membuat PSG tersentak. Keunggulan itu berlipat di menit 18, Balogun lagi, kali ini menuntaskan serangan yang memotong garis pertahanan PSG. Dalam 20 menit, Monaco sudah melakukan hal paling sulit dalam duel melawan PSG: membuat sang tamu kehilangan kendali emosi.

Pada fase ini, PSG terlihat seperti tim yang sedang mencari cara agar tidak kebablasan. Mereka tetap memegang bola, tapi Monaco nyaman menunggu momen untuk menusuk. Dua gol Balogun juga punya efek psikologis: publik tuan rumah melihat PSG bisa dilukai, dan Monaco mulai bermain dengan keyakinan penuh.

Penalti gagal dan cedera Dembélé, momen yang seharusnya mematahkan PSG

Di tengah tekanan untuk segera memperkecil skor, PSG mendapat penalti. Vitinha maju, tetapi Philipp Köhn membaca arah bola dan menggagalkan kesempatan paling bersih PSG pada fase itu. Biasanya, penalti gagal saat tertinggal dua gol bisa menjadi titik patah.

Belum selesai, PSG kehilangan Dembélé karena cedera dan harus melakukan pergantian lebih awal. Secara teori, kehilangan winger utama pada malam seperti ini adalah alarm besar. Namun di sinilah detail taktik dan kedalaman skuad PSG berbicara, karena pemain pengganti yang masuk justru mengubah alur laga dalam hitungan menit.

Désiré Doué masuk, lalu game berubah arah

Doué tidak masuk untuk sekadar menambal posisi. Ia masuk membawa energi, membawa keberanian menggiring, dan yang paling penting membawa naluri menyerang yang langsung mengganggu struktur Monaco. Gol pertama PSG lahir dari momen yang terasa seperti pesan: PSG belum selesai. Doué mencetak gol pada menit 29, hanya sesaat setelah masuk, dan membuat skor jadi 2-1.

Setelah gol itu, pertandingan berubah menjadi duel bertahan hidup bagi Monaco. PSG semakin percaya diri, sirkulasi bola mereka makin cepat, dan Monaco mulai mundur beberapa meter lebih dalam. Menjelang turun minum, PSG menyamakan kedudukan lewat Achraf Hakimi pada menit 41, berawal dari aksi Doué yang memaksa Köhn melakukan penyelamatan lalu bola muntah disambar Hakimi. 2-2, stadion mendadak senyap, dan Monaco seperti kehilangan pegangan.

Kartu merah Golovin, Monaco kehilangan rem di tengah badai

Babak kedua baru berjalan, Monaco mendapat pukulan lain: Aleksandr Golovin diganjar kartu merah. Dari titik itu, rencana Monaco praktis harus ditulis ulang. Menahan PSG dengan 11 pemain saja sudah sulit, apalagi dengan 10 pemain ketika PSG jelas sedang berada di atas angin.

Secara mental, kartu merah ini juga mengubah psikologi duel. PSG tidak lagi mengejar dengan rasa panik, melainkan mengelola serangan dengan sabar. Monaco sebaliknya, harus memilih: tetap berani keluar atau menerima gelombang serangan dengan blok rendah dan berharap keajaiban.

PSG menyerang dengan sabar, menang dengan cara yang terasa kejam

Yang menarik, PSG tidak langsung mencetak gol ketiga tepat setelah unggul jumlah pemain. Mereka tetap membangun dari belakang, memancing Monaco bergerak, lalu menusuk celah di half space. Dan lagi lagi Doué ada di pusat cerita.

Gol penentu datang pada menit 67. Serangan PSG mengalir, bola masuk ke area berbahaya, lalu Doué menuntaskan peluang untuk membalikkan keadaan menjadi 3-2. Comeback lengkap, dan Monaco kini bukan hanya kehilangan keunggulan, tetapi kehilangan rasa aman menjelang leg kedua.

Kalau melihat data, dominasi PSG terasa ekstrem: penguasaan bola 80.4%, total tembakan 30, tembakan tepat sasaran 10. Ini bukan sekadar comeback emosional, ini comeback yang dibangun lewat tekanan konstan sampai Monaco akhirnya runtuh.

Kenapa Monaco bisa unggul cepat, lalu kenapa mereka akhirnya ambruk

Monaco unggul cepat karena dua hal yang jarang terjadi sekaligus. Pertama, mereka sangat tajam memanfaatkan momen awal, ketika PSG belum sepenuhnya rapi dalam transisi bertahan. Kedua, Balogun tampil klinis: dua peluang besar, dua gol, dan PSG dipaksa mengejar.

Namun setelah itu, Monaco tidak mampu mempertahankan ritme tanpa bola. Angka penguasaan bola 19.6% membuat mereka harus bertahan terlalu lama, terlalu dalam, dan terlalu sering. Ketika bertahan sepanjang itu, satu kesalahan kecil saja bisa jadi bencana. Penalti yang sempat diselamatkan Köhn menunda bencana, tapi tidak menghapus tren permainan.

Kartu merah Golovin mempercepat keruntuhan. Begitu mereka kehilangan satu pemain, jarak antar lini makin renggang, duel duel kecil makin sulit dimenangi, dan PSG punya lebih banyak waktu untuk memilih sudut serangan.

Duel individu yang menentukan: Balogun panas, Doué lebih menentukan

Balogun pantas disebut sebagai pemicu kekacauan. Gol pertamanya sangat cepat dan menjadi salah satu gol tercepat yang membuat PSG kebobolan di Liga Champions, sementara gol keduanya menunjukkan kualitas duel dan ketenangan.

Tetapi sepak bola tidak hanya soal siapa yang memulai, melainkan siapa yang mengakhiri. Doué mengakhiri malam itu sebagai aktor utama: masuk saat tim tertinggal, mencetak dua gol, dan menjadi sumber masalah yang tidak pernah benar benar bisa diselesaikan Monaco.

Ada satu detail yang terasa menonjol: PSG tidak sekadar memasukkan pemain pengganti, mereka memasukkan pemain pengganti yang langsung mengubah karakter serangan. Ini jenis pergantian yang memalukan lawan, karena bukan hanya mengganti orang, tetapi mengganti arah pertandingan.

Makna hasil ini untuk leg kedua di Paris

Kemenangan 3-2 tandang memberi PSG keunggulan nyata, tetapi juga menyisakan catatan. Mereka kebobolan dua kali dalam 18 menit, lalu kehilangan Dembélé karena cedera. Di sisi lain, Monaco masih punya bukti bahwa mereka bisa melukai PSG jika transisi mereka bersih dan finishing kembali setajam babak pertama.

Namun untuk Monaco, tantangannya berlapis. Mereka harus mengejar defisit di kandang PSG, sambil memperbaiki masalah paling besar dari leg pertama: bertahan terlalu pasif sehingga memberi PSG kesempatan menembak sampai 30 kali. Data seperti ini jarang berbohong, dan PSG biasanya hanya butuh satu periode dominasi untuk membuat lawan kehabisan udara.

Catatan laga: kronologi gol dan titik balik

Pertandingan ini dapat dibaca lewat urutan momen kunci yang saling menyambung.

Monaco unggul 2 0 lewat dua gol Balogun pada menit 1 dan 18. PSG gagal penalti, lalu kehilangan Dembélé, tapi justru menemukan pemantik lewat Doué yang mencetak gol menit 29. Menit 41, Hakimi menyamakan skor setelah tekanan PSG memaksa Köhn menepis bola. Setelah jeda, kartu merah Golovin membuat Monaco bermain dengan 10 orang, dan Doué mengunci comeback dengan gol menit 67.

Leave a Reply