Persita Tumbang di Indomilk Arena, Dewa United Menang 1 Banding 0
Persita Tangerang harus menelan pil pahit di kandang sendiri. Dalam Derby Banten yang panas dan penuh duel, Pendekar Cisadane kalah 0 banding 1 dari Dewa United pada pekan 23 Indonesia Super League musim 2025 2026 di Indomilk Arena, Kamis 26 Februari 2026. Gol tunggal Ricky Kambuaya pada menit 36 menjadi pemisah, sekaligus membuat Persita terlihat buntu saat butuh respons.

Kekalahan ini terasa menyakitkan bukan cuma karena statusnya laga derbi, tetapi juga karena Persita sebenarnya punya momen untuk menyamakan. Namun, serangan mereka berkali kali mentok di keputusan akhir, sementara Dewa United tampil lebih tenang dalam mengelola tempo setelah unggul.
Derby Banten yang ketat, Persita menguasai bola tapi tidak menggigit
Sejak menit awal, nuansa laga sudah jelas: ini pertandingan yang tidak memberi ruang untuk santai. Persita mencoba mengambil alih ritme dengan penguasaan bola sedikit lebih tinggi, tetapi Dewa United menutup jalur tengah dengan rapat dan memaksa tuan rumah lebih sering memutar arah serangan. Data pertandingan menunjukkan Persita unggul penguasaan bola 52 persen, namun Dewa United justru lebih berani dalam jumlah tembakan, 9 berbanding 7.
Yang jadi masalah, dominasi bola Persita tidak berubah menjadi peluang bersih. Mereka beberapa kali masuk area sepertiga akhir, tetapi eksekusi akhirnya sering terlambat, umpan terakhir kurang tajam, atau pilihan tembakannya jatuh ke kaki blok pertahanan Dewa United.
Persita memulai dengan niat menekan, tapi Dewa United tidak panik
Persita mencoba menekan lebih tinggi untuk memaksa kesalahan build up lawan. Di sisi lain, Dewa United memilih cara yang lebih pragmatis: aman dulu, lalu serang lewat momen ketika Persita mulai membuka jarak antar lini.
Arah permainan ini membuat pertandingan berjalan seperti tarik tambang. Persita terlihat lebih sering mengalirkan bola, sedangkan Dewa United menunggu waktu yang tepat untuk menusuk. Dan ketika momen itu datang, mereka langsung memukul.
Gol Kambuaya di menit 36, satu momen yang mengubah semuanya
Ketika laga tampak berjalan seimbang, Dewa United mendapatkan celah yang mereka cari. Menit 36, Ricky Kambuaya mencetak gol yang akhirnya menjadi penentu kemenangan. Gol itu tercipta lewat bantuan umpan dari Jaja.
Gol ini terasa seperti pukulan telak buat Persita karena terjadi saat mereka mulai mencoba menaikkan tempo. Begitu tertinggal, Persita dipaksa lebih agresif, dan itu justru memberi ruang lebih banyak buat Dewa United untuk bermain transisi.
Bagaimana gol itu lahir, rapatnya lini Persita pecah sesaat
Dari sudut pandang pertandingan, gol seperti ini biasanya lahir dari dua hal: pergerakan tanpa bola yang tepat dan keterlambatan reaksi bek saat bola kedua. Dewa United memanfaatkan momen ketika struktur bertahan Persita tidak sepenuhnya set, lalu Kambuaya menyelesaikannya dengan dingin.
Setelah gol, pola Dewa United berubah. Mereka tidak lagi memaksakan penguasaan, tetapi fokus menjaga jarak, memotong jalur umpan, dan memaksa Persita menyerang lewat sisi yang lebih mudah dibaca.
Persita mengejar, tapi kreativitasnya habis di area berbahaya
Babak kedua menjadi panggung frustrasi bagi tuan rumah. Persita mencoba menambah tekanan, memasukkan tenaga baru, dan memperbanyak bola ke depan. Tetapi cerita utamanya tetap sama: mereka sulit menciptakan peluang yang benar benar bersih.
Secara angka, Persita hanya membuat 2 tembakan tepat sasaran sepanjang laga, sedangkan Dewa United punya 3 tembakan tepat sasaran. Itu bukan selisih besar, tapi cukup untuk menggambarkan bahwa peluang Persita yang benar benar menguji kiper lawan tidak banyak.
Momen kunci babak kedua, pergantian pemain dan peningkatan duel
Perubahan terlihat dari daftar pergantian. Persita melakukan perubahan sejak awal babak kedua untuk menaikkan agresivitas, sementara Dewa United merespons dengan menambah kesegaran di lini tengah agar pressing tetap hidup.
Di fase ini, pertandingan jadi lebih keras. Kartu kuning bermunculan, dan tempo beberapa kali pecah karena pelanggaran taktis. Persita ingin cepat, Dewa United ingin ritme pecah agar tuan rumah kehilangan alur.
Kenapa Persita tampak buntu, keputusan terakhir terlalu sering salah
Masalah terbesar Persita malam itu bukan sekadar kalah duel, tetapi kalah dalam kualitas keputusan di 20 meter terakhir.
Ada beberapa pola yang berulang:
Persita membawa bola sampai area crossing, tetapi pengiriman bolanya mudah dipotong.
Persita mencoba kombinasi pendek di half space, tetapi sentuhan terakhir terlalu berat.
Saat ruang tembak muncul, eksekusinya tidak benar benar mengarah ke sudut yang menyulitkan.
Ini pertandingan yang menuntut ketegasan. Di laga seperti ini, satu momen ragu saja bisa membuat peluang menguap.
Dewa United menang dengan cara dewasa, rapat tanpa terlihat parkir
Banyak tim yang unggul 1 gol lalu mundur total. Dewa United tidak persis begitu. Mereka tetap menjaga jarak antar lini, tetapi masih berani keluar menekan pada momen tertentu. Hasilnya, Persita tidak bisa menyerang dengan nyaman, namun Dewa United juga tidak terkurung sepanjang waktu.
Catatan total tembakan juga mendukung gambaran itu: Dewa United tetap memproduksi 9 tembakan walau lebih banyak bertahan, tanda mereka masih punya niat menyerang saat kesempatan terbuka.
Trio tengah Dewa United bekerja rapi, mematikan sumber suplai Persita
Kunci pertahanan Dewa United bukan cuma di bek, tetapi di cara mereka mematikan suplai. Mereka berulang kali menutup jalur umpan vertikal, membuat Persita harus membangun ulang serangan dari belakang.
Saat Persita terpaksa memutar bola terlalu lama, Dewa United punya waktu untuk menata blok, dan serangan tuan rumah jadi mudah ditebak.
Statistik Persita vs Dewa United
Di bawah ini ringkasan statistik utama pertandingan berdasarkan catatan pertandingan.
| Statistik | Persita | Dewa United |
|---|---|---|
| Skor akhir | 0 | 1 |
| Penguasaan bola | 52% | 48% |
| Total tembakan | 7 | 9 |
| Tembakan tepat sasaran | 2 | 3 |
| Pencetak gol | Ricky Kambuaya menit 36 | |
| Assist | Jaja | |
| Wasit | Rio Permana Putra | Rio Permana Putra |
| Penonton | 2,427 | 2,427 |
Angka angkanya menjelaskan duel yang tipis. Persita sedikit lebih dominan bola, tetapi Dewa United lebih aktif mengancam. Perbedaan terbesar terjadi di satu momen, gol Kambuaya yang membuat seluruh rencana Persita berubah.
Catatan susunan pemain, duel formasi yang sama tapi eksekusinya beda
Menariknya, kedua tim sama sama memakai 4 2 3 1. Di atas kertas, ini membuat duel terasa mirip, tetapi perbedaannya ada pada bagaimana masing masing tim mengisi ruang.

Persita menaruh Matheus Alves di depan, dengan dukungan Hokky Caraka, Eber Bessa, dan Rayco Rodriguez di belakangnya. Dewa United menempatkan Alex Ferreira sebagai ujung tombak, ditopang trio Kambuaya, Vico, dan Stefano Lilipaly.
Persita butuh lebih banyak ancaman dari lini kedua
Ketika striker utama dijaga ketat, tim biasanya butuh gelombang kedua dari gelandang atau winger yang masuk kotak. Persita beberapa kali punya momen itu, tapi tidak konsisten. Dewa United lebih rapi mengawal area depan kotak penalti, sehingga tembakan jarak jauh Persita tidak jadi ancaman besar.
Dewa United memaksimalkan peran Kambuaya, bukan hanya pencetak gol
Kambuaya bukan cuma mencetak gol, tetapi juga jadi titik akselerasi. Ia menghubungkan transisi dari fase bertahan ke menyerang, dan membuat Persita harus berhati hati ketika naik terlalu tinggi. Itulah mengapa setelah unggul, Dewa United tetap punya ancaman balik.
Hasil ini membuat persaingan papan atas makin rapat
Hasil ini memberi dorongan penting bagi Dewa United, sekaligus membuat Persita terpeleset di laga yang seharusnya bisa jadi penguat moral. Persita sekarang harus cepat membalikkan respons, terutama soal ketajaman dan ketenangan di area akhir. Sementara Dewa United bisa membawa kemenangan ini sebagai bukti bahwa mereka tidak cuma mengandalkan momen, mereka punya struktur untuk menang saat pertandingan ketat dan emosional.