Milan Tergelincir di San Siro, Parma Menang 1-0 dan Guncang Perburuan Gelar Serie A

AC Milan kembali menelan hasil pahit di kandang sendiri setelah dikalahkan Parma dengan skor 0-1 pada laga Serie A di San Siro, Minggu 22 Februari 2026. Hasil ini terasa berat bukan hanya karena Rossoneri tampil dominan dalam penguasaan bola dan jumlah peluang, tetapi juga karena gol penentu Parma datang di fase akhir laga saat Milan sedang terus menekan. Kekalahan ini menjadi yang pertama bagi Milan dalam 25 laga Serie A, sekaligus membuat jarak mereka dengan Inter di puncak klasemen melebar menjadi 10 poin setelah 26 pertandingan.

Parma datang dengan pendekatan yang disiplin, bertahan rapat, lalu memanfaatkan bola mati secara efektif. Mariano Troilo menjadi pembeda lewat sundulan yang sempat dianulir, namun kemudian disahkan setelah tinjauan VAR. Momen itu mengubah arah malam di San Siro, dari tekanan penuh Milan menjadi kejutan besar untuk tim tamu.

Di sisi Milan, pertandingan ini juga dibayangi insiden cedera Ruben Loftus Cheek yang harus keluar lebih awal setelah benturan dengan kiper Parma Edoardo Corvi. Gelandang Milan itu dilaporkan mengalami cedera rahang dan dijadwalkan menjalani operasi, yang memperburuk suasana setelah kekalahan.

Statistik Pertandingan AC Milan vs Parma

Sebelum masuk ke jalannya laga secara rinci, angka angka utama pertandingan sudah menggambarkan cerita besar malam itu. Milan menguasai bola, lebih sering menembak, dan menciptakan tekanan lebih konsisten. Namun Parma lebih efisien pada momen penentu.

Tabel Statistik Utama

StatistikAC MilanParma
Skor akhir01
Penguasaan bola64.5%35.5%
Tembakan ke gawang63
Total tembakan259

Data statistik pertandingan di atas memperlihatkan bahwa Milan tidak kekurangan volume serangan. Problem utama mereka justru ada pada penyelesaian akhir dan ketenangan di area terakhir. AC Milan sendiri menekankan bahwa tim menciptakan banyak permainan, termasuk peluang yang membentur tiang melalui Rafael Leao, tetapi gagal mengubah dominasi menjadi gol.

Jalannya Pertandingan yang Penuh Frustrasi untuk Milan

Pertandingan berlangsung dengan pola yang sebenarnya cukup mudah dibaca sejak awal. Milan mengambil inisiatif, Parma bertahan rapat dan menunggu celah untuk transisi atau bola mati. Meski begitu, pola yang bisa dibaca bukan berarti mudah dibongkar. Parma tampil sangat sabar dan konsisten.

Awal Laga dan Cedera Loftus Cheek

Parma sudah memberi ancaman sejak menit awal melalui Pellegrino, sebelum Milan mulai mengambil kendali tempo. Pada menit ke 11, Milan kehilangan Ruben Loftus Cheek akibat benturan dengan Corvi dan harus memasukkan Ardon Jashari lebih cepat dari rencana. Pergantian dini ini mengubah ritme lini tengah Milan, walau secara umum Rossoneri tetap lebih dominan dalam penguasaan bola.

Kehilangan pemain di fase awal tentu mempengaruhi struktur serangan dan sirkulasi. Loftus Cheek memberi dimensi fisik dan progresi yang berbeda, sementara Jashari lebih aktif bergerak mencari celah. Milan tetap terlihat hidup, tetapi transisi dari tengah ke sepertiga akhir lapangan beberapa kali terasa terburu buru.

Milan Menguasai Laga, Parma Menahan Tekanan

Milan mendominasi penguasaan bola namun tidak banyak menghasilkan peluang benar benar bersih pada babak pertama. Peluang bagus sempat didapat Christian Pulisic, tetapi penyelesaiannya tidak maksimal. Gambaran ini sejalan dengan beberapa upaya Jashari, Pulisic, dan Leao, serta respons sigap Corvi di bawah mistar Parma.

Dalam pertandingan seperti ini, kualitas penjaga gawang dan ketenangan lini belakang menjadi kunci. Parma mampu meredam sejumlah momen yang biasanya cukup untuk menghadirkan gol bagi tim sebesar Milan. Troilo bukan hanya pahlawan karena mencetak gol, tetapi juga muncul dalam momen penting di area pertahanan dengan intervensi krusial terhadap peluang Pulisic di babak kedua.

Babak Kedua, Milan Menekan Lebih Keras tetapi Tetap Buntu

Selepas jeda, Milan menaikkan intensitas. Dari sisi ritme laga, ini adalah periode saat publik San Siro mulai merasa gol tuan rumah tinggal menunggu waktu. Serangan datang bertubi tubi, umpan silang lebih sering dilepaskan, dan lini kedua Milan ikut maju mencari second ball.

Tiang Gawang dan Peluang yang Tidak Masuk

Salah satu momen paling menentukan datang saat Rafael Leao melepaskan volley yang menghantam bagian dalam tiang lalu melintas di depan gawang tanpa menjadi gol. Peluang Leao yang membentur tiang menjadi simbol malam yang tidak berpihak kepada Milan. Sebelumnya, Pulisic pun sempat melihat tembakannya diblok dan punya peluang bagus lain yang gagal dikonversi.

Di fase ini, Milan sebenarnya sudah mendorong Parma sangat dalam. Namun ketika volume serangan meningkat, risiko kehilangan fokus pada situasi bola mati juga ikut naik. Inilah yang kemudian menjadi pintu masuk Parma.

Pergantian Pemain dan Upaya Mengubah Arah Laga

AC Milan melakukan sejumlah pergantian untuk menyegarkan lini depan dan sisi lapangan, termasuk masuknya Niclas Fullkrug dan Strahinja Pavlovic. Perubahan ini memperlihatkan upaya menambah tinggi badan, duel udara, serta variasi serangan di menit menit akhir.

Masalahnya, ketika sebuah laga sudah masuk ke zona tegang dan ruang semakin sempit, efektivitas sentuhan terakhir sering lebih menentukan daripada banyaknya serangan. Parma paham betul hal itu dan tetap bertahan dengan disiplin.

Momen Penentu, Gol Troilo dan VAR yang Membalikkan Malam

Pada menit ke 80, Parma mencetak gol lewat sundulan Mariano Troilo. Dalam catatan pertandingan resmi, gol itu juga dicatat pada fase akhir babak kedua berawal dari situasi sepak pojok, dengan wasit Marco Piccinini sempat menganulir gol karena dugaan pelanggaran terhadap Mike Maignan sebelum akhirnya mengesahkannya setelah meninjau VAR. Perbedaan pencatatan menit bisa terjadi karena proses review, namun inti peristiwanya sama, yaitu gol Troilo dari bola mati yang disahkan setelah VAR.

Itulah momen yang benar benar memukul Milan. Sepanjang laga mereka terlihat sebagai tim yang lebih dominan, tetapi justru Parma yang memanfaatkan situasi paling menentukan. Kekuatan bola mati memang menjadi salah satu senjata yang efektif bagi Parma musim ini.

Lautaro Valenti, yang sempat terlibat dalam situasi di dekat Maignan, merasa gol itu sah karena ia menilai tidak melakukan pelanggaran. Pernyataan itu ikut menegaskan bagaimana kerasnya duel di kotak penalti pada fase penentuan.

Susunan Pemain dan Detail Resmi Pertandingan

Untuk pembaca yang ingin melihat struktur tim dan detail formal laga, data pertandingan memuat susunan pemain, pergantian, pencetak gol, kartu, serta wasit.

Susunan Pemain AC Milan

AC Milan tampil dengan format 3 5 2, dengan Maignan di bawah mistar. Tiga bek diisi Tomori, De Winter, dan Bartesaghi. Di lini tengah ada Saelemaekers, Loftus Cheek, Modric, Rabiot, dan Estupinan. Duet depan diisi Pulisic dan Leao. Loftus Cheek kemudian digantikan Jashari pada menit ke 11 karena cedera.

Kehadiran Modric dan Rabiot memberi kontrol dan distribusi, tetapi laga ini menunjukkan bahwa kontrol permainan tidak otomatis menghasilkan efektivitas ketika lawan bertahan sangat rapat dan kiper tampil solid.

Susunan Pemain Parma

Parma juga bermain dengan 3 5 2. Corvi menjaga gawang, sedangkan lini belakang diisi Delprato, Troilo, dan Valenti. Di tengah ada Britschgi, Bernabé, Keita, Ordoñez, dan Valeri, dengan Strefezza serta Pellegrino di depan. Troilo kemudian menjadi nama yang paling diingat karena gol kemenangan.

Susunan ini menunjukkan Parma tidak datang ke San Siro hanya untuk menumpuk pemain belakang tanpa arah. Mereka tetap punya struktur yang jelas, cukup lebar di sisi lapangan, dan siap menyerang ketika mendapat situasi set piece atau ruang transisi.

Detail Resmi Laga

Wasit pertandingan adalah Marco Piccinini dari Forlì. Gol dicetak Troilo, dan kartu kuning diberikan kepada Saelemaekers serta Leao dari kubu Milan, serta Troilo dari Parma. Detail ini penting karena memperlihatkan betapa intens duel duel di sisi lapangan dan lini tengah sepanjang laga.

Ketika pertandingan berjalan ketat dan banyak benturan, kartu kuning kerap mempengaruhi agresivitas pressing pemain. Milan tetap menyerang, tetapi Parma berhasil menjaga keseimbangan agar tidak runtuh secara struktur.

Apa Arti Hasil Ini untuk Perburuan Scudetto Milan

Kekalahan ini terasa besar karena datang saat musim memasuki fase krusial. Hasil ini membuat Milan tetap di posisi kedua dengan 54 poin dari 26 laga dan tertinggal 10 poin dari Inter, dengan 12 laga tersisa. Dalam situasi seperti itu, ruang kesalahan menjadi sangat tipis.

Pukulan di papan atas terasa makin berat, walau target realistis untuk menjaga posisi demi tiket Liga Champions masih terbuka. Dalam konteks kompetisi panjang, pergeseran fokus seperti ini sering muncul setelah hasil mengecewakan melawan tim yang di atas kertas bisa dikalahkan di kandang sendiri.

Sisi Mental yang Menjadi Sorotan

Sikap tim sebenarnya sudah cukup baik, Parma bermain sangat rapi, dan Milan juga kurang beruntung karena bola tidak mau masuk. Gambaran itu menunjukkan masalah utama Milan malam ini bukan pada minimnya usaha, melainkan pada ketajaman dan efektivitas di kotak penalti lawan.

Ini sering menjadi ujian terbesar tim kandidat juara. Saat permainan sudah cukup dominan, publik menuntut hasil. Ketika hasil tidak datang, setiap keputusan taktik terlihat salah meski secara proses tidak sepenuhnya buruk.

Parma Mendapat Hadiah dari Disiplin dan Efisiensi

Bagi Parma, kemenangan ini sangat bernilai karena diraih di kandang tim besar dan dengan cara yang menunjukkan identitas jelas. Mereka naik ke peringkat 12 dengan 32 poin setelah kemenangan ini. Parma tidak membutuhkan banyak peluang untuk mencuri tiga poin.

Di laga seperti ini, satu momen bola mati bisa lebih berharga daripada sepuluh serangan terbuka. Parma membaca ritme pertandingan dengan baik, bertahan cukup lama tanpa panik, lalu menghukum Milan ketika kesempatan datang.

Catatan Taktis yang Menjelaskan Kekalahan Milan

Jika dilihat dari jalannya pertandingan dan statistik dasar, kekalahan Milan bukan karena mereka kalah total dalam permainan. Justru sebaliknya, Milan menang dalam banyak indikator kuantitas serangan. Namun ada beberapa titik yang membuat dominasi itu tidak berubah menjadi gol.

Penyelesaian Akhir yang Tidak Klinis

Dengan 25 tembakan dan 6 tembakan ke gawang, Milan sebenarnya punya volume serangan yang tinggi. Tetapi angka itu juga menandakan banyak percobaan yang tidak benar benar memaksa gol, baik karena arah tembakan kurang akurat, posisi tembak yang tidak ideal, atau blok dari pemain Parma.

Pertandingan seperti ini menuntut pemain depan sangat tajam dalam satu atau dua momen terbaik. Pulisic dan Leao memang terlibat aktif, namun finishing belum cukup dingin untuk memecah kebuntuan.

Parma Menang di Detail Kecil

Troilo menjadi simbol kemenangan Parma bukan hanya karena golnya. Ia juga muncul dalam momen bertahan penting. Ini menunjukkan bagaimana satu pemain bisa menentukan laga di dua sisi lapangan, bertahan dan menyerang.

Parma juga mendapatkan keuntungan dari organisasi pertahanan yang konsisten, kerja kiper Corvi, dan keberanian bertahan dalam tekanan panjang. Bagi tim tamu, kemenangan seperti ini biasanya lahir dari disiplin kolektif, bukan sekadar keberuntungan.

VAR dan Psikologi Akhir Laga

Gol yang sempat dianulir lalu disahkan selalu memberi efek psikologis besar. Bagi Parma, keputusan VAR itu menambah kepercayaan diri untuk mengunci pertandingan. Bagi Milan, momen tersebut menjadi pukulan ganda karena mereka sudah frustrasi akibat peluang peluang yang gagal.

Setelah tertinggal, Milan memang mencoba membalas, tetapi ritme akhir laga lebih banyak diwarnai kepanikan daripada kombinasi yang rapi. Itu wajar dalam pertandingan yang tekanannya sangat tinggi dan waktu tersisa sedikit.

Insiden Cedera yang Menambah Berat Malam Milan

Selain hasil, Milan juga harus menghadapi kabar buruk dari kondisi Loftus Cheek. Gelandang itu dilaporkan mengalami cedera rahang setelah benturan dengan Corvi, termasuk patah tulang alveolar dan kerusakan gigi atas, serta akan menjalani operasi. Jika absennya berlangsung lama, ini dapat mempengaruhi rotasi Milan di periode penentuan musim.

Dalam sepak bola papan atas, satu kekalahan masih bisa dikejar. Namun ketika dibarengi cedera pemain penting, konsekuensinya meluas ke manajemen skuad, variasi taktik, dan kestabilan performa dari pekan ke pekan. Laga kontra Parma ini karena itu terasa seperti pukulan berlapis bagi Rossoneri, baik di papan klasemen maupun dari sisi personel.

Leave a Reply