Marseille Pecat De Zerbi, Kini Mengarah ke Vincenzo Italiano yang Lagi Naik Daun

Keputusan Olympique de Marseille berpisah dengan Roberto De Zerbi datang seperti bunyi peluit panjang setelah malam yang membuat telinga panas. Kekalahan telak 5 0 dari Paris Saint Germain di laga Classique bukan sekadar skor, melainkan sinyal bahwa ruang ganti, tribun, dan ruang rapat sudah berada di frekuensi yang berbeda. Klub menyatakan perpisahan terjadi lewat kesepahaman bersama setelah pembicaraan di level pemilik, presiden, direktur olahraga, sampai sang pelatih.

Di saat publik Velodrome masih memproses apa yang baru terjadi, radar Marseille langsung mengarah ke satu nama yang sedang rapi membangun reputasi di Italia: Vincenzo Italiano, pelatih Bologna. Kabar minat itu sudah beredar luas, dan logikanya mudah dipahami. Marseille butuh sosok yang bisa mengatur ulang cara bermain tanpa mematikan karakter klub yang selalu menuntut sepak bola berani.

Mengapa Marseille Memutus Tali dengan De Zerbi

Keputusan berpisah bukan lahir dari satu pertandingan saja, tetapi satu pertandingan bisa menjadi pemantik terakhir. Laga melawan PSG memperlihatkan Marseille seperti kehilangan pegangan: blok pertahanan tercerai, jarak antarlini renggang, dan penguasaan bola yang biasanya menjadi kebanggaan justru berubah menjadi bumerang karena PSG menunggu momen untuk menghukum transisi.

Di pengumuman resminya, Marseille menekankan ada diskusi kolektif untuk menjawab tantangan olahraga yang dihadapi klub pada fase musim ini. Itu kalimat halus, tetapi di level elite artinya sederhana: hasil dan arah permainan tidak lagi sesuai target.

Ada konteks lain yang ikut menekan. Marseille juga sudah tersingkir dari Liga Champions, membuat ruang toleransi semakin sempit. Saat pendapatan Eropa menurun dan tekanan publik naik, keputusan pelatih sering menjadi tombol yang paling cepat ditekan.

Catatan De Zerbi di Marseille dan Beban Ekspektasi

De Zerbi datang dengan reputasi besar, membawa ide permainan agresif dan progresif yang membuat banyak orang berharap Marseille naik kelas. Dalam kurun 18 bulan, ia sempat memberi stabilitas, termasuk capaian liga pada musim sebelumnya yang cukup kompetitif, namun performa terkini membuat posisi klub melorot ke papan atas bagian bawah, dan itu tidak cukup untuk ukuran Marseille.

Yang paling sulit untuk pelatih seperti De Zerbi adalah ketika ide tak lagi terlihat di lapangan. Begitu struktur build up tak tajam, pressing terlambat sepersekian detik, dan bola kedua sering kalah, maka yang tersisa hanya risiko tanpa hadiah.

Kenapa Kekalahan Ini Terasa Lebih Berat dari Skor

Kekalahan besar sering memicu dua jenis pertanyaan. Pertama, apakah tim kalah karena kualitas lawan. Kedua, apakah tim kalah karena kehilangan identitas. Untuk Marseille, rasa sakitnya datang dari pertanyaan kedua.

Ketika sebuah tim dibangun untuk bermain berani, lalu di laga terbesar ia tampil ragu, publik akan menyimpulkan ada retakan yang tak terlihat. Dan dalam sepak bola modern, retakan itu cepat merambat: dari ruang ganti ke ruang rapat.

Mengapa Vincenzo Italiano Masuk Radar Marseille

Marseille mengincar Italiano karena profilnya pas untuk fase pemulihan yang tetap harus menyerang. Italiano dikenal sebagai pelatih yang rapi membangun struktur tim, berani menekan, dan suka menciptakan keunggulan posisi lewat kombinasi cepat. Ia bukan pelatih yang sekadar menunggu bola mati untuk hidup.

Italiano juga membawa jejak pengalaman mengangkat level tim menengah menjadi kompetitif. Ia pernah membuktikan diri di Spezia dan Fiorentina, lalu mengambil proyek Bologna, klub yang beberapa musim terakhir konsisten menata fondasi. Bologna sendiri mengumumkan penunjukan Italiano pada Juni 2024.

Yang membuat Marseille makin tertarik adalah kemampuannya mengolah pemain menjadi lebih berani membawa bola, lebih cepat mengambil keputusan di half space, dan lebih disiplin dalam tekanan awal.

“Kalau Marseille ingin kembali ditakuti, mereka butuh pelatih yang berani menuntut detail kecil, bukan sekadar mengganti nama di pinggir lapangan.”

Gaya Bermain Italiano dan Kesesuaiannya dengan Marseille

Secara karakter, Marseille selalu menyukai sepak bola yang mengalir cepat, penuh duel, dan punya nyali. Italiano dapat memberi itu dengan cara yang lebih terstruktur.

Beberapa ciri yang sering melekat pada tim Italiano:

  1. Sirkulasi bola cepat untuk memancing lawan naik, lalu menusuk lewat celah.
  2. Fullback aktif memberi lebar, sementara gelandang bisa masuk ke ruang antar lini.
  3. Tekanan tinggi yang tidak asal lari, tetapi berbasis pemicu, misalnya ketika lawan mengoper ke sisi tertentu.

Bila Marseille memilih Italiano, kemungkinan besar klub akan membangun ulang pola serangan agar lebih konsisten, bukan hanya meledak di beberapa laga lalu menghilang saat lawan kuat.

Hambatan Utama: Kontrak dan Harga Keluar

Masalahnya, Italiano bukan pelatih tanpa ikatan. Bologna pernah mengumumkan kontraknya sampai 30 Juni 2026 saat awal penunjukan. Lalu muncul kabar perpanjangan kontrak sampai 30 Juni 2027.

Jika kontrak sudah diperpanjang, maka Marseille tidak cukup hanya meyakinkan Italiano. Mereka juga harus bernegosiasi dengan Bologna, termasuk soal kompensasi. Di era sekarang, klub Italia yang stabil biasanya tidak melepas pelatihnya tanpa angka yang membuat mereka bisa bergerak cepat mencari pengganti.

Apa yang Bisa Ditawarkan Marseille agar Bologna Melunak

Marseille punya dua senjata: proyek dan panggung. Proyek berarti jaminan dukungan transfer dan waktu untuk membangun. Panggung berarti tekanan besar, sorotan media, serta peluang menaikkan reputasi jika berhasil membawa Marseille kembali dominan di Prancis dan kompetitif di Eropa.

Namun Marseille juga perlu menjawab pertanyaan yang paling sering muncul ketika klub berganti pelatih: apakah skuad sekarang cocok untuk filosofi baru, atau harus rombak besar.

Rencana Skuad Jika Italiano Datang

Marseille kemungkinan akan menilai skuad dengan tiga kriteria: kemampuan bermain dalam tekanan, kecerdasan posisi, dan disiplin saat kehilangan bola.

Posisi yang Bisa Jadi Prioritas Transfer

Di banyak proyek Italiano, ada kebutuhan spesifik yang biasanya muncul:

  1. Bek tengah yang nyaman mengalirkan bola dan berani memecah garis umpan.
  2. Gelandang jangkar yang mampu menjaga keseimbangan saat fullback naik.
  3. Penyerang yang bukan hanya finisher, tetapi juga bisa menahan bola dan memantulkan kombinasi.

Marseille punya basis pemain yang atletis, tetapi jika ingin bermain lebih rapi, klub mungkin harus menambah pemain yang kuat secara teknis di ruang sempit.

Apa yang Harus Diperbaiki Sejak Hari Pertama

Kekalahan dari PSG memperlihatkan satu hal: transisi bertahan Marseille mudah dibongkar. Italiano harus memperbaiki jarak antarlini, cara tim bereaksi ketika kehilangan bola, serta komunikasi di area half space yang sering menjadi lorong serangan lawan.

Jika hal dasar ini tidak beres, pelatih mana pun akan ditelan jadwal Ligue 1 yang padat dan keras.

Bursa Pelatih Marseille dan Alternatif Selain Italiano

Kabar minat kepada Italiano muncul di tengah daftar opsi yang biasanya beredar ketika klub besar mencari pelatih baru. Beberapa laporan menyebut Marseille bergerak cepat menghubungi kandidat lain juga, menandakan mereka tidak ingin terjebak dalam satu negosiasi yang berlarut.

Itu langkah yang masuk akal. Negosiasi pelatih sering seperti pertandingan dua leg: kalah di pertemuan pertama, klub harus siap rencana kedua.

Apa Arti Pergantian Ini untuk Marseille di Sisa Musim

Perpisahan dengan De Zerbi dikonfirmasi terjadi segera setelah serangkaian hasil yang mengecewakan, dengan Marseille berada di posisi empat klasemen setelah 21 pertandingan liga. Ini berarti target realistis klub adalah mengamankan posisi zona Eropa dan menata ulang performa kandang yang selama ini menjadi nyawa mereka.

Untuk itu, manajemen biasanya mengejar pelatih yang bisa langsung memberi efek: struktur lebih jelas, peran pemain lebih tegas, dan atmosfer ruang ganti kembali stabil.

Taruhan Terbesar: Menyatukan Ide dan Emosi Velodrome

Velodrome adalah stadion yang memberi energi, tetapi juga menuntut. Pelatih baru bukan hanya harus pintar secara taktik, ia juga harus mengelola emosi kota. Jika Italiano datang, ia akan disambut sebagai simbol harapan, namun harapan di Marseille selalu datang bersama tuntutan.

Dan di sinilah inti keputusan Marseille: mereka tidak cuma mencari pelatih yang bisa memenangkan pertandingan, tetapi pelatih yang bisa membuat kemenangan itu terlihat meyakinkan, terasa punya arah, dan bisa diulang.

Karena bagi Marseille, satu hal yang paling mereka benci bukan kalah. Yang paling menyakitkan adalah tampil tanpa karakter, terutama ketika lampu sorot Classique menyala paling terang.

Leave a Reply