Madrid Ngegas Bareng Arbeloa, Tapi Kenapa Gelar La Liga Masih Terasa Jauh?

Real Madrid akhirnya terlihat seperti Real Madrid lagi. Setelah pekan pekan yang bikin Bernabeu panas, Álvaro Arbeloa datang membawa satu hal yang paling mudah terbaca dari layar televisi: tim ini kembali punya energi, kembali ngejar bola, kembali “hidup” di momen momen krusial. Kylian Mbappé dan Vinícius Júnior pun mendadak terlihat sinkron, tidak cuma berkelas, tapi juga mau kerja keras.

Namun, satu hal yang sering menipu di sepak bola adalah rasa “bangkit” itu kadang terasa seperti jaminan juara. Padahal di La Liga, bangkit saja tidak cukup. Real Madrid boleh menang beruntun dan bahkan sempat duduk di puncak, tapi jarak menuju gelar tetap terasa panjang, karena liga ini bukan sprint, melainkan maraton yang kejam sampai Mei.


Arbeloa datang saat Madrid sedang “pecah suara”

Arbeloa masuk bukan saat Madrid sedang nyaman. Ia masuk ketika situasi sedang tegang, sorotan media menumpuk, dan hasil buruk seperti menunggu momen untuk meledak. Kepergian Xabi Alonso diumumkan setelah Madrid kalah di final Supercopa melawan Barcelona, dan klub menyebut perpisahan itu terjadi lewat kesepakatan bersama.

Yang membuat tekanan makin berat, Arbeloa langsung merasakan betapa kejamnya sepak bola level tertinggi. Debutnya justru berakhir pahit karena Madrid tersingkir dari Copa del Rey oleh Albacete, kekalahan yang menampar keras mental skuad yang sedang goyah.

Di titik ini, Arbeloa tidak punya kemewahan untuk “membangun pelan pelan”. Ia harus cepat memulihkan suasana ruang ganti, mengembalikan fokus pemain, dan yang terpenting, mengembalikan aura menang. Itulah sebabnya kebangkitan Madrid di bawahnya terasa lebih emosional ketimbang sekadar perubahan taktik.


Tiga pertandingan yang jadi pemantik: Levante, Monaco, Villarreal

Kebangkitan Madrid di era Arbeloa bisa dirangkum dalam tiga laga yang menjadi seperti tombol reset. Pertama, kemenangan liga atas Levante yang mengakhiri rasa cemas di Bernabeu.

Kedua, pembantaian Monaco di Liga Champions, laga yang membuat banyak orang bilang, “ini baru Madrid”. Skor besar itu bukan sekadar pesta gol, tapi sinyal bahwa pemain mulai percaya lagi pada permainan mereka sendiri.

Ketiga, kemenangan tandang 2 0 di markas Villarreal yang terasa seperti ujian mental. Villarreal bukan tim yang bisa kamu kalahkan hanya dengan nama besar. Tapi Madrid bisa keluar dengan kemenangan bersih, dan Mbappé mencetak dua gol yang membuat Madrid naik ke puncak klasemen sementara.

Statistik ringkas era awal Arbeloa

TanggalAjangLawanSkorPencetak gol MadridCatatan singkat
14 Jan 2026Copa del ReyAlbaceteKalah 2 3Mastantuono, Gonzalo GarcíaDebut pahit, tersingkir cepat
17 Jan 2026La LigaLevanteMenang 2 0Mbappé, Raúl AsencioKemenangan liga pertama Arbeloa
20 Jan 2026Liga ChampionsMonacoMenang 6 1Mbappé 2, Mastantuono, Vinícius, Bellingham, own goalPerforma paling meyakinkan
24 Jan 2026La LigaVillarrealMenang 2 0Mbappé 2Madrid naik ke puncak, clean sheet

Dari tabel itu terlihat jelas: Madrid belum sempurna, tapi mulai stabil. Kalahnya cuma satu, itu pun di piala. Di liga, yang terjadi adalah tren menang dan clean sheet.


Mbappé dan Vinícius kembali jadi “dua monster” yang saling menghidupkan

Ada satu detail yang membuat kemenangan di Villarreal terasa spesial. Bukan hanya karena skor 2 0, tapi karena cara gol itu lahir. Vinícius terlibat langsung, mengacak pertahanan lawan, lalu memberikan ruang untuk Mbappé “menghabisi” momen.

Arbeloa sendiri tanpa ragu memuji keduanya. Ia menyebut Mbappé dan Vinícius sebagai yang terbaik di dunia, lalu menekankan bahwa kerja keras mereka tanpa bola sama pentingnya dengan kualitas saat menyerang.

Ini menarik, karena selama beberapa pekan sebelumnya, Madrid sering terlihat “terlalu individual”. Mbappé mencari ruang sendiri, Vinícius menggendong bola terlalu lama, dan jalur serangan jadi mudah terbaca. Dalam beberapa laga terakhir, polanya berubah: Vinícius lebih cepat melepas bola, Mbappé lebih sering muncul di ruang yang tepat, dan serangan Madrid terasa lebih tajam tanpa harus ribet.


Apa yang diubah Arbeloa: bukan sulap taktik, tapi nada bicara tim

Arbeloa tidak datang dengan gaya pelatih yang membuat publik sibuk menggambar formasi di papan. Ia datang dengan sesuatu yang terdengar sederhana, tapi sering jadi pembeda: karakter dan mentalitas tim.

Ada satu hal yang selalu terasa dari Madrid ketika mereka sedang benar benar kuat, yaitu rasa lapar. Dan itu yang kini mulai muncul lagi. Madrid tidak cuma menang karena kualitas, tapi karena mereka terlihat lebih siap berantem, lebih siap lari, lebih siap “menderita” ketika pertandingan tidak berjalan mulus.

Detail kecil yang langsung terlihat di lapangan

  1. Madrid lebih agresif saat kehilangan bola.
  2. Transisi lebih cepat, terutama ketika Vinícius punya ruang sprint.
  3. Pemain terlihat lebih siap “menderita” saat unggul, tidak panik.

Di beberapa laga terakhir, Arbeloa juga terlihat tidak segan menuntut hal simpel dari para bintang: tetap disiplin. Tidak peduli seberapa besar nama di punggung jersey, Madrid tetap harus punya struktur saat bertahan.


Klasemen memang indah, tapi La Liga musim ini tipis dan licin

Ini bagian yang sering bikin fans salah baca: Madrid bisa saja menang terus, tapi tetap tidak aman. Karena jarak di puncak sangat ketat.

Real Madrid berada di posisi teratas dengan 51 poin dari 21 laga. Barcelona menempel dengan 49 poin dari 20 laga, artinya mereka masih punya satu pertandingan lebih banyak untuk dimainkan.

Jadi ketika judul terasa seperti “Madrid bangkit, tapi gelar masih jauh”, itu bukan hiperbola. Gelar terasa jauh karena Madrid belum pernah benar benar lepas dari bayang bayang Barcelona. Bahkan saat Madrid menang di Villarreal, situasinya masih bisa berubah kapan saja.

Papan atas sementara La Liga 2025 2026

PosisiTimMainMenangSeriKalahSelisih golPoin
1Real Madrid211632+2851
2Barcelona201613+3249
3Atlético Madrid201253+1841
4Villarreal201325+1641

Perhatikan selisih gol Barcelona yang lebih besar. Dalam liga yang ketat, selisih gol kadang berubah jadi senjata psikologis. Madrid harus tetap menang, tapi juga perlu memastikan tidak banyak “menang tipis sambil deg degan”, karena satu laga buruk saja bisa membuat posisi jungkir balik.


Kenapa gelar masih terasa jauh? Karena Madrid masih harus membayar beberapa “utang” musim ini

Kebangkitan Arbeloa memberi Madrid momentum, tapi ada beberapa faktor yang membuat jarak menuju gelar tetap terasa panjang.

1) Barcelona masih punya ruang untuk menyalip kapan saja

Madrid memimpin tipis, tapi Barcelona punya satu laga lebih sedikit. Artinya, Madrid seperti memegang keunggulan yang belum final. Satu kali seri saja, tiba tiba situasinya bisa berbalik.

Di La Liga, momen paling berbahaya bukan saat kamu tertinggal jauh. Momen paling berbahaya adalah saat kamu memimpin tipis dan merasa “sudah aman”.

2) Jadwal ganda yang selalu menggerus energi

Kalender pertandingan yang padat sering membuat tim tidak punya waktu untuk membangun ritme latihan yang ideal. Ini bukan alasan, tapi realita.

Madrid boleh saja meledak di satu malam, lalu terlihat biasa saja di laga berikutnya. Dan di liga, “biasa saja” itu sering berarti kehilangan dua poin.

3) Ada luka yang belum sembuh: kekalahan memalukan di Copa del Rey

Tersingkir dari Copa bukan hanya soal hilangnya trofi. Itu juga memukul citra tim dan memaksa Madrid hidup di bawah tekanan ekstra.

Secara mental, tim besar bisa bereaksi dua cara: makin kompak atau makin rapuh. Arbeloa sejauh ini berhasil mengubahnya jadi kemarahan yang produktif, tapi luka seperti ini sering muncul lagi ketika tim terpeleset.

4) Mesin gol Madrid masih terlalu bergantung pada Mbappé

Mbappé jadi jawaban untuk banyak masalah Madrid. Tapi ketergantungan itu juga bahaya.

Saat mesin utama terlalu dominan, tim rawan “mati lampu” jika ia dikunci atau kelelahan. Vinícius memang mulai naik, Bellingham tetap berbahaya, tapi Madrid tetap butuh lebih banyak variasi gol, terutama dari lini kedua.

“Madrid sekarang seperti menemukan tombol ON lagi. Tapi La Liga itu kejam. Kamu bisa menang lima kali, lalu sekali terpeleset dan semua rasa percaya diri runtuh seketika.”

5) Atlético dan Villarreal menunggu kesempatan di tikungan

Atlético dan Villarreal tidak harus juara untuk merusak perburuan gelar. Mereka hanya perlu menjadi tim yang mencuri poin dari Madrid atau Barcelona di waktu yang tepat.

Kadang, gelar liga ditentukan bukan oleh duel langsung dua kandidat. Tapi oleh malam dingin di stadion kecil, ketika tim papan tengah bertahan total, lalu mencuri satu gol lewat bola mati.


Detail permainan yang jadi kunci: Madrid makin efektif, bukan cuma cantik

Saat menang di Villarreal, Madrid tidak menang karena menguasai laga dengan gaya “main aman”. Mereka menang karena efektif.

Mbappé mencetak gol pertama setelah jeda babak, lalu mengunci kemenangan lewat penalti di menit akhir. Ini jenis kemenangan yang biasanya dimiliki calon juara: tidak selalu indah, tapi mematikan.

Dan ada satu hal lagi yang membuat Arbeloa terlihat paham Madrid: ia tidak memaksa tim menjadi sesuatu yang bukan mereka. Ia justru mengaktifkan kembali identitas Madrid yang paling klasik: cepat, tajam, dan punya mental “sekali dapat celah, langsung habisi”.


Arbeloa punya modal besar, tapi juga ujian besar yang menunggu

Arbeloa datang membawa pengalaman dari akademi. Ia paham kultur klub dari dalam, paham bagaimana Madrid berpikir, dan paham target yang selalu sama: menang.

Namun mengelola ruang ganti pemain muda berbeda dengan mengelola ruang ganti yang berisi bintang bintang kelas dunia. Di level ini, tekanan datang tiap tiga hari, dan satu hasil buruk bisa mengubah suasana dalam semalam.

Arbeloa sudah memberi Madrid “nafas baru”. Tapi untuk membuat gelar La Liga terasa dekat, Madrid harus menutup celah celah kecil yang sering jadi penyebab kegagalan juara: kehilangan poin di laga mudah, lengah saat unggul, dan terlalu bergantung pada satu pahlawan.

Kalau Madrid bisa menjaga ritme seperti di Villarreal, sambil tetap menggigit di laga laga sulit, barulah kata “gelar” tidak terdengar jauh. Untuk sekarang, Madrid memang bangkit. Tapi liga ini belum memberi ruang untuk santai, bahkan ketika kamu sedang di puncak.

Leave a Reply