Jordi Cruyff Jadi Direktur Teknik Ajax, Tetap Dampingi Timnas Indonesia

Ajax akhirnya menuntaskan saga yang sudah bergulir sejak akhir 2025. Jordi Cruyff resmi menandatangani kontrak sebagai direktur teknik klub raksasa Amsterdam itu, dengan durasi kerja sampai musim panas 2028. Momen tanda tangan dilakukan di Johan Cruijff ArenA, stadion yang namanya juga menjadi pengingat bahwa ini bukan sekadar rekrutan biasa, melainkan “kepulangan” nama Cruyff ke ruang pengambil keputusan Ajax.

Di saat yang sama, kabar ini ikut memantik perhatian publik Indonesia. Sebab, Jordi masih menyandang status penasihat teknis Timnas Indonesia di bawah PSSI. Artinya, kalender Jordi bakal penuh, satu sisi membangun ulang fondasi Ajax, sisi lain tetap memberi arahan teknis untuk proyek sepak bola nasional Indonesia.


Tanda tangan kontrak di “rumah”

Tanda tangan kontrak Jordi Cruyff terjadi setelah laga Eredivisie berakhir imbang dua sama melawan Go Ahead Eagles. Setelah peluit panjang, Ajax mengikat Jordi dengan kontrak hingga Juni 2028, sebuah langkah yang menegaskan klub ingin stabilitas jangka menengah, bukan solusi tambal sulam.

Jordi: emosional, tapi langsung bicara tanggung jawab

Jordi tidak menutupi sisi emosionalnya. Ia menyebut momen ini “sangat spesial” karena meneken kontrak di stadion yang memakai nama ayahnya, Johan Cruyff, sekaligus di klub yang punya peran besar sejak ia muda. Tapi setelah kata-kata hangat itu, nada bicaranya cepat berubah menjadi tegas: mulai Februari, ia ingin sepenuhnya fokus untuk membawa Ajax kembali ke jalurnya.

Buat Ajax, ini bukan sekadar romantisme. Mereka butuh figur yang bisa memegang kompas klub, merapikan sistem, lalu memastikan keputusan teknis tidak lagi berubah arah tiap beberapa bulan.


Mulai kerja 1 Februari 2026, kontrak sampai 30 Juni 2028

Ajax menjelaskan Jordi akan mulai menjalankan tugas sebagai direktur teknik per 1 Februari 2026. Kontraknya berlaku sampai 30 Juni 2028, dan klub juga menyiapkan proses formal agar ia dapat diangkat sebagai direktur statutori setelah agenda rapat pemegang saham digelar.

Kenapa baru Februari, bukan langsung sekarang?

Penetapan tanggal awal kerja ini dibaca sebagai strategi rapi. Awal Februari identik dengan periode setelah jendela transfer musim dingin Eropa selesai. Dengan begitu, Jordi bisa masuk tanpa “warisan panik belanja” di tengah jalan, lalu menilai skuad lebih jernih untuk perencanaan musim depan.

Dan yang paling penting, ia datang dengan ruang untuk bekerja, bukan sekadar memadamkan api.


Tugas pertama yang menunggu: memilih pelatih permanen Ajax

Begitu tanda tangan selesai, satu pekerjaan besar langsung menempel di pundaknya: mencari pelatih kepala permanen. Ajax sedang berada dalam fase transisi, dan posisi pelatih menjadi kunci karena menyangkut gaya main, rekrutmen pemain, sampai arah akademi.

Ajax sebelumnya memecat John Heitinga pada November, lalu menunjuk Fred Grim sebagai pelatih interim hingga akhir musim. Nama Erik ten Hag sempat dikaitkan, namun ia menolak kembali.

Fred Grim membawa napas segar, tapi Ajax butuh rencana jangka panjang

Secara hasil, periode interim kadang bisa memberi efek “shock therapy”. Namun Ajax tidak mungkin mengandalkan mode darurat terus menerus. Direktur teknik harus memastikan pelatih yang dipilih tidak cuma cocok untuk menang minggu ini, tapi cocok dengan identitas Ajax yang menuntut sepak bola menyerang, berani memainkan pemain muda, dan punya struktur permainan yang rapi.

Jordi akan dinilai bukan dari pidato perkenalan, melainkan dari keputusan pertama ini.


Ajax sedang memburu jalan pulang setelah periode pahit

Kedatangan Jordi berlangsung saat Ajax masih mencoba menutup luka tiga tahun terakhir. Ajax mengalami masa sulit menurut standar tinggi mereka. Di liga domestik musim ini, Ajax berada di peringkat tiga, namun tertinggal jauh dari PSV.

Yang lebih menohok, performa di Eropa dan piala domestik juga tidak sesuai reputasi. Ajax sempat menelan kekalahan besar di ajang piala, sebuah hasil yang jelas mengguncang mental ruang ganti sekaligus kepercayaan publik.

Klub sebesar Ajax tidak cukup hanya “stabil di papan atas”

Bagi banyak klub, peringkat tiga mungkin sudah lumayan. Tapi bagi Ajax, itu belum menyentuh standar. Ajax hidup dari dominasi, trofi, dan produksi pemain muda yang kemudian menjadi bintang dunia.

Karena itulah mereka mencari direktur teknik yang bisa memulihkan sistem, bukan sekadar memperbaiki hasil pertandingan minggu depan.

Apa sebenarnya peran direktur teknik di Ajax?

Jabatan direktur teknik di Ajax adalah posisi yang sangat menentukan. Ini bukan sekadar “orang transfer”. Ia adalah pengarah kebijakan sepak bola klub secara menyeluruh.

Dalam kerangka Ajax modern, direktur teknik akan memimpin hal-hal seperti filosofi permainan, rekrutmen berbasis kebutuhan taktik, sinkronisasi tim utama dengan Jong Ajax, sampai garis besar jalur promosi akademi De Toekomst.

Fokus pada identitas: akademi, gaya main, dan konsistensi

Ajax punya DNA yang selalu dibicarakan, tapi DNA itu tidak otomatis hidup. Ia perlu dijaga lewat keputusan teknis yang konsisten.

Saat klub mengalami periode buruk, biasanya ada dua masalah klasik:
Pertama, rekrutmen yang tidak selaras dengan filosofi.
Kedua, pelatih berganti tapi skuad tidak dibangun untuk perubahan itu.

Tugas Jordi adalah merapikan keduanya, tanpa membuat klub kehilangan ciri khasnya.


Jordi Cruyff: bukan sekadar nama besar, tapi punya pengalaman ruang manajemen

Jordi lahir di Amsterdam dan pernah menimba ilmu di Ajax pada masa muda, sebelum pindah ke Barcelona bersama keluarganya. Ia juga sempat bermain dan membangun karier di beberapa klub Eropa, serta memperkuat timnas Belanda.

Namun yang membuat Ajax tertarik bukan hanya karier pemainnya, melainkan pengalaman di balik layar. Ia pernah menangani peran teknis dan manajerial di beberapa proyek, termasuk di Barcelona pada era modern.

Kombinasi “sekolah Cruyff” dan realita sepak bola modern

Ajax seperti sedang mencari keseimbangan: mempertahankan prinsip bermain menyerang ala sekolah Belanda, tapi tetap realistis menghadapi sepak bola modern yang super cepat berubah.

Jordi dianggap punya dua sisi itu.
Ia membawa narasi tradisi, tapi juga mengerti bagaimana klub bekerja di era data, scouting global, dan tekanan finansial yang makin rumit.


Tetap jadi penasihat teknis Timnas Indonesia ?

Di Indonesia, pertanyaan paling sering muncul bukan soal Ajax, melainkan soal Timnas Indonesia: apakah Jordi akan mundur, atau tetap lanjut?

Sejumlah laporan di Indonesia menyebut Jordi akan tetap aktif sebagai penasihat PSSI, meski porsinya terbatas hanya beberapa hari dalam setahun agar tugas utamanya di Ajax tidak terganggu. Bahkan, Ajax disebut melihat ini sebagai nilai strategis karena membuka koneksi Asia, termasuk Indonesia.

Ini sejalan dengan status Jordi yang sebelumnya memang ditunjuk PSSI sebagai penasihat teknis untuk membantu arah pengembangan sepak bola Indonesia.

Peran penasihat teknis bukan kerja harian di lapangan

Penting dipahami, “penasihat teknis” berbeda dengan pelatih kepala. Ia tidak memimpin sesi latihan setiap hari.

Dalam struktur modern federasi, penasihat teknis biasanya berperan seperti:

  • menyusun rekomendasi filosofi permainan
  • mengarahkan program pembinaan
  • membantu penyelarasan tim nasional berbagai level usia
  • memberi masukan soal struktur kompetisi dan jalur pemain muda

Karena sifatnya strategis, peran ini memungkinkan dijalankan jarak jauh dengan kunjungan berkala, rapat daring, dan kerja koordinasi.

Kenapa Ajax justru tidak keberatan Jordi tetap bersama Indonesia?

Menariknya, laporan yang dikutip media Indonesia menyebut Ajax justru senang dengan posisi Jordi di Indonesia. Mereka melihat potensi kemitraan dan jaringan di Asia, termasuk akses hubungan yang lebih luas di kawasan.

Dalam sepak bola modern, klub besar tidak hanya memikirkan lapangan, tapi juga ekosistem global: basis penggemar, kerja sama akademi, tur pramusim, sampai talent scouting lintas benua.

Indonesia bisa jadi pintu yang unik untuk Ajax

Indonesia punya basis fans yang luar biasa besar, juga punya ikatan sejarah sepak bola Belanda, baik dari sisi kultur maupun diaspora. Dalam konteks ini, Jordi menjadi jembatan yang “alami”, karena ia paham dua dunia: Ajax sebagai simbol sepak bola Belanda, dan Indonesia sebagai proyek yang sedang naik ambisi.

Dari kacamata bisnis dan strategi global, itu aset yang sulit dicari.


Reaksi dan sorotan: ada dukungan, ada juga yang nyinyir

Nama Cruyff selalu memancing opini keras, apalagi di Ajax. Di Belanda, penunjukan Jordi memicu perdebatan. Ada yang melihatnya sebagai langkah tepat untuk mengembalikan identitas klub, tetapi ada pula yang mempertanyakan rekam jejaknya untuk jabatan sebesar ini.

Beberapa media Indonesia juga mengangkat adanya kritik dari pundit Belanda terkait pengangkatan Jordi.

Tekanan di Ajax: satu keputusan bisa jadi penentu opini publik

Di Ajax, direktur teknik tidak punya masa adaptasi panjang. Keputusan awal akan langsung dinilai.

Jika Jordi memilih pelatih yang tepat dan arah transfer mulai masuk akal, dukungan akan cepat datang. Tapi jika langkah awalnya ragu-ragu, kritik juga bakal semakin keras karena standar Ajax tidak pernah rendah.

Jadwal terdekat yang bakal jadi ujian Jordi di dua arah

Mulai 1 Februari 2026, Jordi resmi masuk kantor Ajax dan mulai menata ulang prioritas. Dalam waktu bersamaan, ia tetap membawa label penasihat teknis Timnas Indonesia, peran yang menuntut konsistensi ide walau tidak selalu hadir fisik.

Ajax menegaskan Jordi ingin mulai bekerja “dalam beberapa pekan” dan dirinya menyebut ingin membuat sang ayah bangga, sebuah kalimat yang terdengar sederhana, tapi membawa beban besar di kota yang menjadikan Cruyff lebih dari sekadar legenda.

Yang jelas, dua panggung ini sama-sama menunggu hasil nyata. Amsterdam menagih kebangkitan. Indonesia menagih arah dan identitas. Jordi Cruyff kini berada tepat di tengahnya, dengan kontrak yang sudah ditandatangani, dan sorotan yang tidak akan mengecil.

Leave a Reply