FIFA Siapkan Plan B, Iran Terancam Absen di Piala Dunia 2026 karena Visa AS
Suasana menuju Piala Dunia 2026 belakangan terasa aneh. Bukan soal taktik atau cedera pemain, tapi urusan yang jauh lebih “dingin” dan sulit ditebak: politik, visa, dan relasi dua negara yang sedang panas. Iran sudah mengamankan tiket ke putaran final, namun ketegangan dengan Amerika Serikat sebagai tuan rumah utama membuat isu “Iran bisa mundur” kembali mencuat di meja FIFA.
Di balik rumor yang berlarian, ada fakta yang tidak bisa diabaikan: beberapa kali Iran sudah bersitegang dengan otoritas visa AS bahkan sebelum turnamen dimulai. Dan FIFA, seperti biasa, tidak bisa menunggu masalah meledak. Mereka wajib punya skenario cadangan.
Api pertama muncul dari urusan visa, bahkan sebelum bola ditendang
Kalau ditarik ke belakang, tanda-tandanya sudah terlihat sejak agenda resmi FIFA dimulai. Piala Dunia 2026 ini bukan sekadar turnamen, tetapi juga rangkaian acara yang menuntut federasi peserta hadir sejak jauh hari, termasuk untuk urusan seremonial, teknis, dan koordinasi.
Boikot undian di Washington jadi “alarm” paling keras
Pada akhir November 2025, Federasi Sepak Bola Iran mengumumkan akan memboikot undian Piala Dunia 2026 di Washington D.C. karena visa untuk delegasi mereka bermasalah, termasuk sosok penting di federasi yang tidak mendapat persetujuan masuk. Alasan yang disampaikan jelas: keputusan visa dianggap tidak ada hubungannya dengan olahraga.
Momen itu penting, karena bukan sekadar soal hadir atau tidak hadir di acara. Undian adalah pintu masuk menuju operasional turnamen: koordinasi jadwal, pertemuan teknis, dan komunikasi resmi dengan FIFA. Ketika satu negara peserta sudah “berantem” duluan di titik ini, wajar bila publik mulai bertanya: kalau undian saja ribut, bagaimana saat turnamen?
Iran pernah menegaskan tidak mundur, tapi celah konfliknya tetap terbuka
Beberapa laporan media internasional saat itu menekankan bahwa boikot undian tidak otomatis berarti Iran mundur dari Piala Dunia. Iran ingin tetap bermain, namun meminta FIFA ikut menekan agar akses mereka sebagai peserta tidak dipersulit.
Masalahnya, ketegangan seperti ini biasanya tidak selesai dalam satu pertemuan. Ia jadi bara. Dan bara bisa menyala lagi kapan pun, apalagi jika kebijakan imigrasi dan keamanan di AS berubah mendadak.
Iran lolos duluan, tapi Piala Dunia 2026 justru menempatkan mereka di “zona rawan”
Satu hal yang membuat isu ini lebih sensitif: mayoritas pertandingan Piala Dunia 2026 digelar di Amerika Serikat. Artinya, negara yang punya persoalan diplomatik dengan AS, cepat atau lambat akan bersentuhan dengan prosedur masuk, izin perjalanan, sampai pengamanan.
FIFA sempat memastikan laga grup Iran dimainkan di Amerika Serikat
Dalam laporan yang beredar pada Desember 2025, FIFA disebut telah mengonfirmasi Iran akan memainkan seluruh pertandingan fase grupnya di Amerika Serikat, termasuk dua laga di Los Angeles yang punya komunitas diaspora Iran besar.

Di atas kertas ini terdengar “menyenangkan” karena atmosfer dukungan bisa terasa seperti laga kandang. Namun dari sisi geopolitik, ini juga berarti Iran tidak punya opsi “menghindar” dari wilayah AS pada fase grup, berbeda dengan skenario tertentu yang mungkin terjadi jika pertandingan berada di Kanada atau Meksiko.
Ketika lokasi jadi isu, bukan cuma lawannya yang harus dihadapi
Di Piala Dunia biasanya tim memikirkan adaptasi cuaca, perjalanan antarkota, atau kondisi lapangan. Tapi dalam kasus Iran, tantangan tambahannya bisa berupa administrasi perjalanan: visa rombongan, izin perangkat tim, akses logistik, sampai ruang gerak suporter.
Dan di titik ini, masalah kecil bisa membesar. Penundaan visa staf, perubahan aturan masuk mendadak, atau pembatasan untuk pendukung dapat menciptakan tekanan yang tidak ada hubungannya dengan sepak bola.
Ketegangan Iran vs AS punya efek langsung karena aturan masuk bisa berubah sewaktu-waktu
Masuknya tim ke negara tuan rumah bukan hanya urusan federasi, tetapi juga kebijakan negara penyelenggara. FIFA bisa melobi, tapi tetap tidak bisa “mengatur” penuh urusan imigrasi sebuah negara.
AS memberi pengecualian untuk event besar, tapi tidak untuk semua orang
Kabar yang cukup menenangkan datang pada 16 Januari 2026. Pemerintah AS memperluas daftar event olahraga yang mendapat pengecualian dari pembatasan visa, termasuk FIFA World Cup. Namun catatannya tegas: pengecualian ini berlaku untuk atlet, pelatih, dan personel pendukung, bukan otomatis untuk media, fans, atau pihak korporasi dari negara yang terkena pembatasan.
Artinya, “timnya” bisa jadi aman, tetapi ekosistem di sekitarnya belum tentu. Di sepak bola modern, suasana tribune, mobilisasi suporter, sampai keberadaan media adalah bagian dari pertandingan. Bila suporter Iran kesulitan datang, tensi psikologisnya bisa berbeda total.
Kebijakan visa AS juga sempat makin ketat di awal 2026
Di periode yang sama, ada juga laporan bahwa AS menangguhkan pemrosesan visa imigran dari banyak negara, termasuk Iran, dengan alasan kekhawatiran soal beban bantuan publik. Meski konteksnya imigrasi dan bukan langsung urusan atlet, langkah seperti ini menunjukkan arah kebijakan yang lebih ketat dan bisa berdampak pada atmosfer jelang event besar.
Bagi FIFA, kondisi seperti ini berarti satu hal: mereka tidak bisa menganggap urusan perjalanan peserta pasti mulus.
FIFA sudah menyiapkan “jalan keluar” jika Iran tidak bisa ikut, tertulis jelas di regulasi
Sisi menariknya, FIFA tidak menunggu rumor untuk membuat rencana. Mereka sudah punya aturan tertulis yang mengatur skenario paling buruk: mundur, dikeluarkan, atau tidak diizinkan ikut.
Aturan ini bukan karangan netizen. Ada di dokumen resmi “Regulations for the FIFA World Cup 26” yang diterbitkan FIFA (Mei 2025).
Denda, sanksi, sampai penggantian peserta sudah masuk pasal khusus
Dalam regulasi Piala Dunia 2026, FIFA menegaskan setiap peserta wajib memainkan semua pertandingan sampai tersingkir. Jika ada peserta yang mundur, denda minimumnya bisa sangat besar.
FIFA menetapkan minimal denda CHF 250.000 bila mundur lebih dari 30 hari sebelum laga pertama turnamen, dan minimal CHF 500.000 bila mundur kurang dari 30 hari. Selain itu, peserta yang mundur wajib mengembalikan uang kontribusi persiapan tim serta pembayaran lain yang sudah diterima dari FIFA.

Tidak berhenti di sana. Regulasi juga menyebut FIFA bisa menjatuhkan sanksi tambahan, termasuk kemungkinan dikeluarkan dari kompetisi FIFA berikutnya, dan yang paling relevan untuk isu Iran: FIFA dapat mengganti federasi yang mundur atau dikeluarkan dengan federasi lain. Keputusan itu bisa diambil FIFA Council atau komite terkait.
Dengan kata lain, jika Iran benar-benar tidak tampil, pintu “pengganti” memang ada secara legal.
FIFA bahkan menekankan urusan visa adalah tanggung jawab peserta
Ada detail kecil yang terasa “menohok” di regulasi itu: federasi peserta wajib mengurus visa dan menyerahkan dokumen tepat waktu sesuai prosedur.
Kalimat ini seperti pengingat bahwa FIFA bisa membantu, tapi pada akhirnya federasi peserta tetap harus siap secara administratif. Dan jika masalahnya ada di kebijakan negara tuan rumah, FIFA harus berdiri di tengah, mengatur agar turnamen tetap berjalan.
Kalau Iran benar-benar absen, siapa yang mungkin masuk menggantikan?
Nah, bagian ini yang bikin banyak fans penasaran. Bila satu tim peserta mendadak hilang, apakah FIFA akan “mengambil” tim lain begitu saja?
Yang jelas, FIFA sudah membuka ruang penggantian di regulasi. Namun mekanismenya bisa sangat bergantung pada konteks: kapan Iran absen, apa penyebabnya, dan kompetisi kualifikasi mana yang masih berjalan.
Jalur logisnya: pengganti datang dari zona yang sama
Iran lolos dari zona Asia. Maka skenario paling masuk akal, penggantinya juga berasal dari konfederasi yang sama, karena slot Piala Dunia dibagi berdasarkan kuota tiap konfederasi.
Piala Dunia 2026 juga punya Play Off Tournament yang merupakan bagian dari babak kualifikasi, dijadwalkan pada jendela FIFA Match Calendar 23 sampai 31 Maret 2026.
Jika Iran mundur pada fase yang masih memungkinkan, FIFA bisa memanfaatkan jalur “peringkat berikutnya”, tim yang kalah di fase penentuan, atau skenario lain yang dianggap paling adil secara sporting merit. Regulasi memberi FIFA ruang besar untuk menentukan, termasuk ketika kualifikasi tidak berjalan normal dan FIFA harus menetapkan peserta setelah konsultasi dengan konfederasi.
FIFA punya pengalaman memilih pengganti di turnamen lain
Walau konteksnya berbeda, FIFA belakangan juga pernah mengumumkan mekanisme penggantian peserta di ajang besar lain seperti Club World Cup, dengan memilih opsi playoff untuk menentukan tim pengganti yang paling “masuk akal” secara kompetitif.
Pola seperti ini memperlihatkan satu prinsip FIFA: pengganti bukan sekadar tambal sulam, tapi harus bisa dipertanggungjawabkan secara regulasi dan nilai sportivitas.
Efek dominonya besar, karena yang berubah bukan cuma satu tim
Kalau Iran benar-benar tidak ikut, dampaknya tidak berhenti pada satu negara. Ini bisa mengubah banyak hal, terutama bila terjadi mendekati kick-off.
Undian ulang, penyesuaian jadwal, sampai potensi kekacauan grup
Dalam turnamen 48 tim, satu perubahan bisa mengganggu banyak detail: jadwal latihan, lokasi hotel, jadwal perjalanan antar kota, hingga rencana siaran televisi.
Jika penggantian terjadi jauh sebelum turnamen, FIFA masih punya ruang untuk menyesuaikan. Tapi jika itu terjadi mendekati hari H, dampaknya bisa bikin satu grup harus “dirombak” karena tim pengganti tidak mungkin masuk tanpa penyesuaian administratif dan teknis.
FIFA juga harus menjaga wajah turnamen di mata publik
Piala Dunia 2026 adalah proyek raksasa dengan ekspektasi sangat tinggi. Setiap masalah politik atau visa akan dibaca publik sebagai ukuran “apakah tuan rumah siap”.
Dan karena isu Iran ini sudah lebih dulu ramai sejak boikot undian, sorotan publik juga lebih tajam: FIFA bukan hanya diminta memastikan pertandingan jalan, tapi juga memastikan turnamen tetap terasa terbuka bagi semua peserta, minimal di level tim dan ofisial.
Di sinilah isu “Iran berpotensi mundur” menjadi lebih dari sekadar gosip bursa. Ia jadi ujian ketahanan FIFA menghadapi dunia nyata yang tidak selalu sejalan dengan sepak bola.
Jika ketegangan mereda, Iran tetap tampil dan cerita ini akan jadi catatan kecil menuju 2026. Tapi kalau bara politiknya membesar, regulasi FIFA sudah jelas: mereka siap mengganti, dan Piala Dunia tetap harus berjalan.