Dua Keputusan Arteta yang Bikin Arsenal Gagal Angkat Trofi
Arsenal datang ke final Carabao Cup 2026 dengan harapan besar. Mereka sedang memimpin perburuan gelar Premier League, masih hidup di kompetisi lain, dan masuk Wembley dengan keyakinan bahwa trofi pertama musim ini bisa menjadi pijakan penting. Namun yang terjadi justru sebaliknya. Arsenal kalah 0 2 dari Manchester City pada 22 Maret 2026, dan kekalahan itu langsung memunculkan dua sorotan besar kepada Mikel Arteta, yakni keputusan memainkan Kepa Arrizabalaga dan ketumpulan Gabriel Jesus di momen penting.

Dalam laga sebesar final, detail kecil sering berubah menjadi vonis besar. Di atas kertas Arsenal tidak benar benar hancur sejak menit pertama. Mereka bahkan sempat memberi ancaman awal. Akan tetapi, ketika pertandingan mulai bergerak ke fase penentu, dua titik lemah itu muncul sangat jelas. Kepa membuat kesalahan fatal pada gol pertama City, sementara Jesus kembali gagal memberi sentuhan akhir yang dibutuhkan Arsenal untuk bangkit.
Kalau laga ini dibaca lebih dalam, kekalahan Arsenal bukan hanya tentang Manchester City yang lebih tajam. Ini juga tentang keputusan Arteta yang akhirnya berbalik menjadi beban tim sendiri. Kritik dari pundit dan laporan pascalaga pun mengarah ke sana, terutama karena Arteta tetap memainkan Kepa di final walau David Raya adalah kiper utama Arsenal musim ini.
Final yang Semula Terlihat Seimbang
Pada fase awal pertandingan, Arsenal sebenarnya tidak tampil seperti tim yang gugup. Mereka masuk ke laga dengan keberanian untuk menekan dan sempat menciptakan peluang yang cukup hidup. Arsenal hampir unggul dalam tujuh menit pertama, tetapi upaya Bukayo Saka dan Kai Havertz digagalkan James Trafford. Artinya, Arsenal tidak sepenuhnya kalah rencana di awal laga.
Masalahnya, final tidak ditentukan oleh start yang rapi saja. Ketika tempo mulai berubah dan City meningkatkan tekanan pada babak kedua, Arsenal tidak punya ruang untuk membuat kesalahan. Di titik itulah Kepa dan lini depan mereka mulai menjadi sorotan. City justru tumbuh semakin tenang, lalu Nico O Reilly mengubah pertandingan dengan dua gol dalam lima menit.
Kepa Jadi Keputusan yang Paling Disesali
Pilihan memainkan Kepa bukan keputusan acak. Arteta sebelumnya memang memberi menit bermain kepadanya sepanjang perjalanan Carabao Cup, dan setelah laga ia membela keputusan itu dengan alasan keadilan serta konsistensi. Namun final tidak pernah ramah kepada alasan sentimental. Saat hasil buruk datang, semua orang akan melihat apakah keputusan itu benar atau justru terlalu lunak.
Gol Pertama yang Mengubah Arah Segalanya
Pada menit ke 60, Rayan Cherki mengirim umpan silang yang seharusnya masih bisa diamankan. Kepa malah gagal menangkap bola dengan bersih, lalu Nico O Reilly menyambar dari jarak dekat untuk membuka skor. Keputusan Arteta memainkan Kepa pun benar benar berbalik menghantui Arsenal.
Gol itu terasa seperti tusukan yang mengubah atmosfer laga. Sebelum momen itu, Arsenal masih punya kesempatan membawa final ke duel yang lebih rumit dan lebih panjang. Setelah kesalahan itu, City justru makin percaya diri, Wembley berubah arah, dan Arsenal tampak kehilangan pijakan mental hanya dalam beberapa menit.
Bukan Sekadar Salah Tangkap
Yang membuat situasi Kepa makin berat adalah reputasi dan konteks. Ia sudah lama dibayangi citra kurang meyakinkan di laga puncak, dan kesalahan di final ini menambah daftar panjang cerita buruk itu. Kritik dari banyak pundit pun mengarah pada gagasan yang serupa, yakni pilihan kiper Arteta memberi City pintu masuk ke pertandingan.
Dalam sepak bola level tertinggi, satu blunder kiper bisa merusak kerja 10 pemain lain. Arsenal memang tidak runtuh total setelah gol pertama, tetapi ritme mereka berubah. City langsung menekan dengan keyakinan lebih besar, dan hanya empat menit kemudian gol kedua datang. Pada level final, itu sudah cukup untuk mengubur banyak rencana.
Gabriel Jesus dan Ketumpulan yang Kembali Menghantui
Kalau Kepa menjadi sumber kerusakan di belakang, maka Gabriel Jesus menjadi simbol problem di depan. Ia bukan satu satunya penyerang yang tampil di bawah harapan, tetapi namanya paling mudah masuk sorotan karena perannya selalu dikaitkan dengan pertandingan besar. Arsenal butuh penyerang yang bisa mengubah peluang kecil menjadi gol. Dalam final ini, itu tidak mereka dapatkan.
Peluang Tidak Berbuah Gol
Arsenal memang sempat punya respons setelah tertinggal. Riccardo Calafiori mengenai tiang, lalu Gabriel Jesus menanduk bola ke mistar di akhir laga. Dari luar, itu bisa terlihat sebagai nasib buruk. Tetapi dari sudut pandang yang lebih keras, itu dibaca sebagai bukti bahwa Arsenal kembali tidak cukup klinis saat trofi ada di depan mata.
Final tidak memberi hadiah bagi tim yang hanya nyaris. Ketika City memiliki O Reilly yang memaksimalkan dua momen, Arsenal justru punya lini depan yang gagal memberi rasa takut nyata setelah tertinggal. Bola Jesus yang membentur mistar memang menunjukkan ancaman, tetapi di panggung seperti ini yang dihitung tetap satu hal, yaitu gol.
Problem Lama Arsenal di Laga Besar
Kritik kepada Jesus bukan semata karena satu sundulan mengenai mistar. Yang dipersoalkan adalah gambaran yang lebih luas. Arsenal beberapa kali terlihat dominan secara struktur, tetapi kurang tajam di ujung serangan. Dalam pertandingan besar, masalah seperti itu selalu kembali memakan korban.
Arteta jelas bukan pelatih yang membangun tim tanpa ide. Arsenal terorganisasi, kuat dalam pressing, dan sangat kompetitif. Namun ketika laga menuntut satu eksekutor yang dingin, mereka masih terlalu sering berakhir pada cerita hampir mencetak gol. Jesus, dengan segala kualitas mobilitas dan kerja kerasnya, kembali disorot karena tidak menghadirkan pembeda yang brutal di depan gawang.
Dua Dosa yang Membunuh Final Arsenal
Frasa dua dosa Arteta memang keras, tetapi mudah dipahami kalau membaca alur laga. Dosa pertama adalah keputusan personel, yaitu memainkan Kepa di laga sepenting final. Dosa kedua adalah tetap bergantung pada lini depan yang tidak cukup kejam ketika kesempatan datang. Kombinasi dua hal itu membuat Arsenal kalah bukan karena sepenuhnya inferior, tetapi karena kalah di titik yang paling menentukan.
Arteta Terlalu Setia pada Jalur Emosional
Arteta mengatakan akan terasa tidak adil bila Kepa dicadangkan setelah bermain di setiap ronde. Secara manusiawi, pernyataan itu bisa dipahami. Namun untuk ukuran final, keputusan seperti itu terasa terlalu emosional. Final meminta keputusan paling kejam demi kemenangan, bukan keputusan paling nyaman secara psikologis.
Di klub besar, tidak ada ruang luas untuk romantisme. Kalau David Raya adalah kiper nomor satu, maka pertanyaan yang muncul sesudah kekalahan menjadi sangat sederhana: mengapa Arsenal tidak memainkan penjaga gawang terbaiknya di laga terbesar. Selama jawaban itu tidak meyakinkan, kritik kepada Arteta akan terus hidup.
Arsenal Kalah Efisien dari City
Manchester City tidak perlu menciptakan banjir peluang untuk menang. Kedua tim sama sama mencatat 10 attempts, tetapi City lebih tajam dan lebih tenang dalam menyelesaikan fase penentu. Di sisi lain, Arsenal hanya mampu menghasilkan dua tembakan ke gawang, sementara City mencatat empat. Statistik ini memperjelas selisih efisiensi yang akhirnya menentukan trofi.
Statistik Pertandingan Arsenal vs Manchester City
Berikut statistik pertandingan final Carabao Cup 2026:
| Statistik | Arsenal | Manchester City |
|---|---|---|
| Skor akhir | 0 | 2 |
| Penguasaan bola | 38,1% | 61,9% |
| Tembakan ke gawang | 2 | 4 |
| Total tembakan | 10 | 10 |
| Kartu kuning | 3 | 1 |
| Tendangan sudut | 3 | 3 |
| Saves | 0 | 4 |
Tabel ini menjelaskan banyak hal. Arsenal memang tidak dibantai dalam jumlah tembakan, tetapi mereka kalah telak dalam kendali laga. Penguasaan bola City mencapai 61,9 persen. Itu menunjukkan Arsenal tidak pernah benar benar nyaman memainkan final dengan cara mereka sendiri.
Mengapa Kekalahan Ini Terasa Sangat Menyakitkan
Arsenal kalah bukan di babak awal kompetisi, melainkan di gerbang trofi. Mereka juga datang dengan label favorit dan bayangan mengejar empat gelar. Karena itu, kekalahan ini terasa lebih berat daripada sekadar kalah satu pertandingan.

Bila ditarik ke level yang lebih emosional, laga ini memperlihatkan perbedaan antara tim yang matang di panggung final dan tim yang masih mencari bentuk kejamnya. City melihat celah, lalu memukul. Arsenal melihat peluang, lalu membiarkannya lewat. Dari sanalah kritik terhadap Kepa dan Jesus mendapat bahan bakar paling besar.
Arteta Kini Harus Menjawab dengan Tindakan
Setelah final seperti ini, yang paling berbahaya bagi Arsenal bukan hanya hasil, melainkan bekas psikologisnya. Arteta harus memastikan timnya tidak larut dalam rasa menyesal. Tetapi di saat yang sama, ia juga harus jujur membaca kekalahan ini. Bila terus memelihara keputusan yang salah atas nama loyalitas, Arsenal akan terus dekat trofi tanpa benar benar menyentuhnya.
Pertanyaan besarnya sekarang bukan lagi apakah Arsenal cukup bagus untuk bersaing. Mereka jelas cukup bagus. Pertanyaannya adalah apakah Arteta siap mengambil keputusan yang lebih dingin saat laga penentu datang lagi. Sebab di Wembley, jawabannya terasa belum. Dan selama dua luka itu masih menempel, yaitu blunder Kepa dan tumpulnya Jesus, kekalahan ini akan terus disebut sebagai final yang lepas karena dua kesalahan yang sebenarnya bisa dihindari.