Drama 6 Gol di Belgia: Club Brugge Tahan Atletico 3-3 pada Leg Pertama Play Off UCL
Jan Breydel Stadium, Brugge, Rabu 18 Februari 2026 malam waktu setempat, jadi panggung pertandingan yang rasanya seperti dua laga sekaligus. Atletico Madrid sempat terlihat nyaman dengan keunggulan dua gol, tapi Club Brugge menolak menyerah, mengejar, lalu menutup malam dengan skor 3-3 yang membuat leg kedua di Madrid benar benar terbuka.
Sebelum masuk ke detail jalannya laga, satu hal yang langsung terasa: ini bukan sekadar adu taktik, melainkan adu mental. Hujan, tempo naik turun, keputusan VAR, sampai momen gol yang awalnya dianggap offside, semuanya bikin 90 menit terasa panjang dan panas.
Statistik pertandingan yang bicara banyak
Angka tidak selalu menjelaskan segalanya, tapi di laga ini angka membantu memotret mengapa Brugge bisa hidup lagi setelah tertinggal 0 2. Mereka memegang bola lebih lama, menembak lebih sering, dan memaksa Oblak bekerja keras sepanjang malam.
| Statistik | Club Brugge | Atletico Madrid |
|---|---|---|
| Penguasaan bola | 57.7% | 42.3% |
| Tembakan | 17 | 13 |
| Tembakan tepat sasaran | 10 | 4 |
| Sepak pojok | 4 | 6 |
| Kartu kuning | 1 | 2 |
| Penyelamatan kiper | 2 | 7 |
Catatan yang menonjol ada di kolom tembakan tepat sasaran dan penyelamatan. Brugge menempatkan 10 tembakan ke arah gawang, sementara Oblak mencatat 7 penyelamatan. Di sisi lain, Atletico lebih efisien saat memimpin, tapi rapuh ketika harus bertahan dari gelombang serangan balik tuan rumah.
Jalannya laga dari penalti cepat sampai VAR di menit akhir

Pertandingan ini bergerak dengan ritme yang tidak biasa untuk duel gugur. Atletico memulai dengan agresif, Brugge merespons dengan tekanan, lalu babak kedua berubah jadi pertukaran pukulan yang intens.
Babak pertama: Atletico unggul cepat, Brugge sempat terpukul
Atletico tidak butuh waktu lama untuk membuat stadion terdiam. Mereka mendapat penalti di awal laga, lalu Julian Alvarez mengeksekusinya dengan tenang untuk membawa tim tamu memimpin.
Setelah gol itu, Brugge mencoba menata ulang permainan dengan lebih banyak bola di kaki. Namun, setiap kali mereka kehilangan penguasaan, Atletico langsung mengancam lewat transisi cepat. Menjelang turun minum, Ademola Lookman menggandakan keunggulan Atletico, gol yang membuat situasi terlihat berat bagi wakil Belgia.
Babak kedua: Brugge menggila dalam sembilan menit
Jika ada fase yang paling menentukan, itu adalah awal babak kedua. Brugge seperti keluar dari lorong ganti dengan tenaga baru. Raphael Onyedika memperkecil skor, lalu beberapa menit kemudian Nicolò Tresoldi menyamakan kedudukan. Dalam rentang singkat, skor 0 2 berubah menjadi 2 2 dan atmosfer stadion berbalik total.
Di momen ini, Atletico terlihat goyah. Mereka tidak sepenuhnya kehilangan kendali, tapi garis pertahanan jadi lebih reaktif. Brugge mulai berani menembak dari berbagai sudut, dan yang paling terasa: mereka tidak lagi ragu masuk kotak penalti.
Menit 79: gol bunuh diri yang hampir jadi tiket kemenangan Atletico
Saat Brugge sedang merasa punya momentum, justru Atletico yang kembali unggul. Tekanan di area kotak membuat Joel Ordóñez melakukan gol bunuh diri pada menit 79. Untuk beberapa saat, itu tampak seperti gol yang mengembalikan Atletico ke jalur menang.
Secara psikologis, gol seperti ini sering mematikan. Tim tuan rumah yang sudah bersusah payah menyamakan skor bisa jatuh lagi. Tapi Brugge tidak runtuh, malah makin memaksa Atletico bertahan rendah.
Menit 89: Tzolis menyelamatkan Brugge, sempat ditahan offside lalu disahkan

Momen paling dramatis datang menjelang akhir. Christos Tzolis mencetak gol penyeimbang pada menit 89 lewat tembakan dari sudut sempit. Sempat ada keputusan awal yang membuat gol itu dipertanyakan, namun VAR kemudian mengesahkan gol tersebut. Skor 3 3 dan stadion meledak.
Bagi Atletico, ini semacam pukulan ganda: mereka sudah merasa membawa pulang keuntungan, lalu mendadak harus menerima hasil imbang yang menyisakan banyak pekerjaan rumah.
Daftar pencetak gol dan menit krusial
Laga ini mudah diingat karena enam golnya tersebar dengan alur cerita yang jelas: Atletico memimpin, Brugge mengejar, Atletico hampir mencuri, Brugge menolak kalah.
| Menit | Tim | Pencetak gol | Keterangan |
|---|---|---|---|
| 7 | Atletico | Julian Alvarez | Penalti |
| 45+ | Atletico | Ademola Lookman | Menjelang jeda |
| 52 | Club Brugge | Raphael Onyedika | Memulai kebangkitan |
| 60 | Club Brugge | Nicolò Tresoldi | Menyamakan skor |
| 79 | Atletico | Joel Ordóñez | Gol bunuh diri |
| 89 | Club Brugge | Christos Tzolis | Gol disahkan VAR |
Rangkaian menit ini menjelaskan mengapa leg kedua tidak bisa diprediksi hanya dari reputasi. Brugge sudah membuktikan mereka bisa melukai Atletico dengan cara yang konkret, bukan sekadar bertahan.
Susunan pemain: pilihan pelatih dan duel yang menentukan
Sebelum masuk ke duel individu, penting melihat gambaran pilihan awal kedua pelatih. Dari laporan pra laga, Brugge menurunkan Mignolet di bawah mistar, sementara Atletico mengandalkan Oblak, dengan Griezmann dan Alvarez di lini depan.
| Club Brugge | Atletico Madrid |
|---|---|
| Mignolet | Oblak |
| Sabbe, Ordóñez, Mechele, Seys | Molina, Marc Pubill, Hancko, Ruggeri |
| Onyedika, Stanković, Vanaken | Giuliano, Llorente, Koke |
| Tzolis, Diakhon, Tresoldi | Lookman, Julian Alvarez, Griezmann |
Ada beberapa duel yang terasa menonjol sepanjang laga. Di kubu Brugge, Vanaken jadi penghubung yang membuat serangan mereka tidak putus. Sementara Atletico banyak bertumpu pada kreativitas Koke dan pergerakan depan yang memaksa lawan melakukan keputusan cepat. Namun ketika Brugge menaikkan intensitas, lini belakang Atletico beberapa kali terlihat terlambat mengunci ruang.
Mengapa Atletico gagal mengunci kemenangan
Hasil 3 3 bukan terjadi karena satu kesalahan tunggal, melainkan akumulasi situasi. Atletico sempat memegang laga dengan dua gol di babak pertama, namun setelah jeda mereka membiarkan Brugge mendapatkan gol cepat, dan gol cepat di fase gugur biasanya seperti membuka pintu yang tadinya terkunci rapat.
Pertahanan reaktif saat Brugge menekan tinggi
Setelah skor menjadi 2 2, Atletico beberapa kali terlihat memilih mundur lebih dalam ketimbang menjaga garis lebih tinggi. Saat tim mundur tanpa kompak, celah di half space sering muncul, dan Brugge memanfaatkannya untuk menembak. Data tembakan tepat sasaran yang timpang juga menguatkan kesan bahwa Brugge lebih sering menguji kiper.
Oblak sibuk, tetapi tekanan tak berhenti
Tujuh penyelamatan adalah angka besar di laga fase gugur. Ini menunjukkan Atletico membiarkan terlalu banyak situasi berbahaya. Ketika kiper harus berulang kali menyelamatkan, biasanya masalahnya bukan pada kiper, tetapi pada seberapa sering pertahanan gagal memutus serangan sebelum jadi tembakan.
Mengapa Brugge pantas dapat poin ini
Sebelum membahas leg kedua, satu hal harus ditulis jelas: Brugge bukan “beruntung”. Mereka memang membangun jalan menuju hasil ini dengan keberanian menyerang dan ketenangan saat tertinggal.
Kebangkitan yang terstruktur, bukan asal maju
Dua gol cepat di babak kedua memperlihatkan Brugge tidak panik. Onyedika dan Tresoldi mencetak gol, tetapi yang membuatnya terlihat meyakinkan adalah prosesnya: tekanan lebih tinggi, bola kedua lebih sering dimenangi, dan mereka berani mengirim banyak pemain ke area kotak.
Tzolis dan mental yang tidak habis sampai menit 89
Gol menit 89 itu bukan cuma soal finishing. Itu soal keyakinan untuk tetap menyerang ketika lawan sudah merasa “tinggal tunggu peluit”. Bahkan ketika gol sempat ditahan, Brugge tetap menunggu keputusan VAR tanpa kehilangan fokus.
Gambaran leg kedua di Madrid: semua masih terbuka
Pertandingan berikutnya di kandang Atletico akan jadi ujian berbeda. Brugge sudah menunjukkan mereka bisa mencetak tiga gol melawan Atletico, tapi bertandang ke Riyadh Air Metropolitano menuntut disiplin yang lebih keras, karena Atletico biasanya tumbuh saat bermain di rumah. Hasil ini membuat duel masih imbang sepenuhnya menjelang leg kedua.
Di sisi Atletico, pesan utamanya sederhana: mereka harus menemukan cara untuk bertahan tanpa mengundang terlalu banyak tembakan. Di sisi Brugge, mereka butuh menjaga keberanian yang sama, sambil lebih rapat saat menghadapi transisi cepat yang jadi senjata Atletico sejak menit awal.
Kalau leg pertama saja bisa menghasilkan enam gol, leg kedua punya semua bahan untuk jadi malam Eropa yang kembali membuat semua orang lupa tidur.