Dipecat dari Real Madrid, Xabi Alonso Mau ke Mana? MU berjodohkah ?

Nama Xabi Alonso mendadak jadi bahan obrolan panas lintas liga. Baru beberapa bulan duduk di kursi panas Real Madrid, ia sudah harus angkat kaki setelah klub mengumumkan perpisahan pada 12 Januari 2026. Di saat bersamaan, Manchester United juga baru “reset” lagi usai memecat Ruben Amorim dan menunjuk Michael Carrick sebagai pelatih kepala hingga akhir musim. Dua cerita ini bertemu di satu pertanyaan besar: kalau Alonso benar bebas, apakah Old Trafford bisa jadi tujuan berikutnya?


Drama singkat di Bernabeu, dari kontrak panjang ke pintu keluar

Real Madrid sebenarnya sempat menaruh harapan besar. Alonso diumumkan sebagai pelatih baru pada 25 Mei 2025 dan disebut menandatangani kontrak tiga tahun. Ekspektasinya jelas: legenda klub pulang kampung, membawa ide sepak bola modern, dan menata ulang tim yang selalu lapar gelar.

Namun, bab itu berakhir lebih cepat dari yang dibayangkan. Pada 12 Januari 2026, Real Madrid merilis pengumuman resmi bahwa masa tugas Alonso sebagai pelatih tim utama berakhir atas kesepakatan bersama. Bahasa yang halus, tapi pesan intinya tegas: proyeknya disudahi.

Satu hal yang membuat momen itu terasa makin keras adalah konteksnya. Keputusan klub datang tepat setelah Madrid kalah 3 2 dari Barcelona di final Supercopa de España di Jeddah, Arab Saudi, yang banyak disebut sebagai pemicu langsung meningkatnya tekanan.

Kenapa bisa secepat itu? Kekalahan, tekanan, dan ruang ganti

Kalau hanya karena satu final, rasanya terlalu sederhana untuk klub sebesar Madrid. Beberapa laporan mengarah pada kombinasi hasil dan dinamika internal. Ada narasi bahwa Alonso datang sebagai pelatih yang sangat “sistem”, detail, dan menuntut; sementara Madrid adalah ruang ganti bintang yang terbiasa punya suara besar. Itu bukan tuduhan kosong, karena sejumlah analisis media menyorot gesekan antara tuntutan taktik pelatih dan respons pemain.

Di sisi lain, ada juga versi yang menyebut keputusan ini lebih dekat pada pemecatan ketimbang “kesepakatan bersama”, meski statement klub memilih diksi yang diplomatis.

Yang menarik, perdebatan publiknya bukan sekadar soal formasi. Ada komentar yang menyiratkan pemecatan ini seperti “kemenangan” bagi pemain, seolah struktur dan disiplin yang dibawa pelatih tidak sepenuhnya diterima. Narasi seperti ini biasanya muncul kalau ruang ganti sudah tidak lagi sepenuhnya berada di belakang pelatih.

Madrid langsung bergerak: Arbeloa naik, era baru dimulai

Real Madrid juga tidak membiarkan kursi itu kosong. Di hari yang sama, klub mengumumkan Álvaro Arbeloa sebagai pelatih baru tim utama. Promosi “orang dalam” lagi, mempertegas bahwa Madrid ingin solusi cepat yang paham kultur klub, setidaknya untuk menenangkan suasana.

Bagi Alonso, ini semacam akhir yang pahit karena ia datang membawa janji jangka panjang, tetapi pergi saat kalender baru saja berganti.


Kata kata Alonso: pergi tanpa membakar jembatan

Setelah badai itu, Alonso akhirnya bicara. Pesan yang muncul di media menggambarkan nada yang relatif tenang: ia menyampaikan rasa hormat, terima kasih, dan kebanggaan karena sudah melakukan yang terbaik. Intinya, ia tidak menutup pintu dan tidak menabuh genderang perang. Itu penting, karena dalam sepak bola level elit, reputasi sering ditentukan bukan hanya oleh kemenangan, tetapi juga cara kalah dan cara pergi.

Di Madrid, keluar dengan damai bukan jaminan dipanggil kembali, tapi setidaknya ia tidak meninggalkan bekas luka publik yang menyulitkan karier berikutnya.


Manchester United sedang mencari arah, dan itu membuka ruang spekulasi

Di Inggris, Manchester United juga sedang berada di titik yang rawan. Klub memecat Ruben Amorim pada 5 Januari 2026 setelah periode yang disebut penuh gejolak dan hasil yang tidak memuaskan.

Lalu pada 13 Januari 2026, United mengumumkan Michael Carrick sebagai pelatih kepala hingga akhir musim 2025 26. Carrick menjalani ujian awal yang berat, derby melawan Manchester City, di tengah performa yang tidak stabil.

Di situ letak “celahnya”. Kalau United memang melihat Carrick sebagai solusi sampai musim selesai, maka bursa kandidat pelatih permanen akan kembali panas. Dan setiap kali kursi Old Trafford lowong, nama besar otomatis ikut beredar, termasuk Alonso.

Mengapa Alonso “terasa” cocok untuk United?

Ada beberapa alasan yang membuat gosip ini terdengar masuk akal, bukan sekadar fantasi.

Pertama, United butuh identitas taktik yang lebih jelas. Dalam beberapa musim terakhir, pergantian pelatih sering membuat gaya main berubah, lalu berubah lagi. Alonso dikenal membawa struktur permainan yang rapi dan ide build up yang terencana. Di klub yang sedang mencari pijakan, pelatih dengan konsep kuat sering dianggap obat, minimal sebagai titik awal.

Kedua, Alonso punya aura elit, tetapi masih relatif “segar” dalam bursa pelatih top. United, yang selalu diburu ekspektasi besar, biasanya tertarik pada figur yang bisa menjual optimisme kepada fans dan pemain. Nama Alonso, sebagai legenda sepak bola Eropa, punya nilai simbolik yang kuat.

Ketiga, timing pasar. Alonso sedang bebas tepat ketika United memasuki fase “evaluasi musim” sejak Januari. Meskipun penunjukan permanen biasanya terjadi di musim panas, kesempatan bicara, bertukar ide, dan mengukur kecocokan bisa dimulai lebih awal.

“Kalau United mencari pelatih yang bisa membangun ulang bukan cuma menambal, Alonso masuk kategori yang membuat ruang rapat terdiam sejenak. Bukan karena pasti sukses, tapi karena idenya punya bentuk.”

Tapi ada tembok besar: United sendiri belum tentu menginginkannya sekarang

Di balik semua itu, ada beberapa faktor yang membuat “jodoh” ini tidak otomatis terjadi.

Satu, United baru saja menunjuk Carrick sampai akhir musim. Artinya klub memberi sinyal: keputusan besar kemungkinan ditunda, sambil menilai target akhir musim dan ketersediaan kandidat di musim panas.

Dua, suara publik yang mempengaruhi atmosfer juga mengarah ke kandidat lain. Misalnya, Gary Neville secara terbuka mengatakan Carrick bukan opsi jangka panjang dan menyodorkan shortlist yang berisi nama nama besar seperti Carlo Ancelotti, Thomas Tuchel, dan Mauricio Pochettino. Ini bukan keputusan klub, tapi menggambarkan arah percakapan: United sering didorong untuk memilih “kelas berat” yang sudah terbukti.

Tiga, Alonso punya sejarah emosional dengan Liverpool. Di sepak bola Inggris, faktor ini kadang dibesar besarkan, kadang juga tidak relevan sama sekali. Tapi untuk klub sebesar United, setiap detail akan jadi bahan framing media dan tekanan fans.

Empat, pelajaran dari Madrid. Kalau versi cerita yang beredar benar bahwa Alonso kesulitan “mengontrol ego” ruang ganti bintang, maka United juga harus bertanya: apakah ia siap menghadapi tekanan, ekspektasi, dan dinamika skuad yang sama kerasnya? Beberapa tulisan membingkai periode Alonso di Madrid sebagai masa singkat yang pahit karena konflik internal dan beban kultur klub.


Kalau bukan Old Trafford, opsi Alonso tetap ramai

Pasar pelatih elit jarang sepi, apalagi untuk nama sebesar Alonso. Setelah di Madrid, ia masih bisa memilih jalan yang lebih “aman” atau justru lebih menantang, tergantung cara ia memaknai kegagalan singkat itu.

Satu jalur adalah mengambil jeda, menunggu musim panas, lalu masuk proyek yang benar benar selaras dengan ide sepak bolanya. Jalur lain adalah langsung mengambil pekerjaan besar yang tersedia, memanfaatkan momen ketika banyak klub panik dan butuh arah.

Yang pasti, situasi ini bukan tipikal pelatih yang “habis”. Madrid memecat banyak pelatih dalam sejarah, dan beberapa tetap kembali sukses di tempat lain. Bedanya, Alonso masih muda untuk ukuran pelatih top, dan narasi tentangnya masih bisa dibentuk ulang dengan satu pekerjaan yang tepat.

“Kadang karier pelatih bukan soal berapa lama bertahan di klub terbesar, tapi soal seberapa cepat ia menemukan tempat yang mau membeli idenya, bukan hanya namanya.”

Jadi, benar kah Manchester United jodoh terdekat?

Kalau pertanyaannya “mungkin atau tidak”, jawabannya: mungkin. Pintu terbuka karena United sedang transisi dan Alonso sedang bebas.

Kalau pertanyaannya “paling realistis atau tidak”, gambarnya lebih rumit. United tampak sedang menstabilkan musim bersama Carrick, sementara percakapan publik dan media mengarah pada keputusan permanen di musim panas dengan kandidat yang benar benar berpengalaman. Alonso bisa masuk daftar, tetapi ia bukan satu satunya, dan bahkan bisa jadi bukan prioritas pertama.

Namun, satu hal yang tidak bisa dibantah: ketika dua klub raksasa sama sama berada dalam fase rapuh, keputusan yang diambil sering tidak linier. Satu hasil derby, satu tiket Liga Champions, satu momen ruang ganti yang berubah, bisa menggeser segalanya. Dan di situlah nama Xabi Alonso akan terus muncul, entah sebagai opsi sungguhan, atau sebagai cermin dari harapan fans yang ingin perubahan terasa “besar”.

Leave a Reply