Anak Buah Ole Gunnar Solskjaer yang masih Jadi “Tulang Punggung” MU

Manchester United sudah berganti beberapa pelatih sejak era Ole Gunnar Solskjaer berakhir pada November 2021. Namun menariknya, masih ada segelintir nama yang bisa dibilang “anak buah Ole” yang tetap bertahan sampai musim 2025/2026. Mereka bukan cuma sekadar sisa skuad lama, tapi juga pemain yang masih punya peran, entah di lapangan atau di ruang ganti.

Dalam laga Derby Manchester terbaru melawan Manchester City pada 17 Januari 2026, misalnya, beberapa sosok era Ole masih terlihat jadi bagian penting. Ada yang memulai serangan, ada yang memimpin duel di belakang, ada juga yang menjaga ritme permainan ketika tensi naik.

Kilas Balik Era Solskjaer yang Masih Meninggalkan Jejak

Ole datang sebagai penyelamat suasana, lalu bertahan hampir tiga tahun sebelum akhirnya diberhentikan setelah hasil buruk dan kekalahan yang makin menekan.

Periode itu jadi semacam “pondasi emosional” untuk banyak pemain. Ada yang berkembang pesat karena diberi kepercayaan, ada juga yang sempat jatuh bangun tapi tetap dipertahankan karena karakter dan kapasitasnya.

Dan sekarang, ketika MU kembali memasuki fase transisi, nama-nama era Ole yang masih hidup di skuad ini terasa seperti pengingat: pernah ada masa ketika MU percaya pada proyek jangka menengah, bukan sekadar tambal sulam tiap bursa.

Siapa Saja Mantan Anak Buah Ole yang Masih Bertahan di MU?

Kalau kita bicara pemain yang benar-benar sempat merasakan langsung arahan Ole dan masih terdaftar di skuad Manchester United musim 2025/2026, nama paling menonjolnya ada lima.

Bruno Fernandes, Harry Maguire, Luke Shaw, Diogo Dalot, Amad Diallo, plus satu sosok senior yang lebih banyak berperan sebagai penyangga ruang ganti: Tom Heaton.

Mereka ini punya cerita masing-masing. Ada yang tetap jadi pemimpin, ada yang bertahan karena fleksibilitas, ada yang akhirnya mekar setelah sekian lama “dipendam”.


Bruno Fernandes, Warisan Terbesar Era Ole yang Masih Jadi Kompas Tim

Di antara semua, Bruno adalah nama yang paling “Solskjaer banget”. Dia datang dan langsung mengubah wajah MU, bukan hanya lewat gol dan assist, tapi juga cara tim bermain: lebih cepat, lebih agresif, lebih berani menekan.

Sampai musim 2025/2026 ini, Bruno tetap jadi pusat permainan. Bukan kebetulan kalau dalam Derby Manchester terakhir, serangan balik yang berujung gol juga berawal dari aksinya.

Kenapa Bruno Bisa Bertahan di Semua Era?

Yang bikin Bruno awet bukan cuma karena kualitasnya, tapi karena dia bisa hidup di sistem apa pun. Main sebagai gelandang serang bisa. Jadi pengatur ritme lebih dalam bisa. Dipasang lebih melebar untuk memancing ruang pun masih efektif.

Kalau di era Ole dia jadi “pemantik chaos” untuk menghajar lawan lewat transisi cepat, kini Bruno juga sering jadi pengendali tempo agar MU tidak kebablasan emosi.

Bruno di Musim Ini Masih Produktif

Statistik musim 2025/2026 menunjukkan Bruno masih rajin menyumbang gol dan assist, bahkan ketika MU tidak selalu dominan.


Harry Maguire, Dari Kapten Era Ole ke Bek yang Menolak Habis

Maguire mungkin salah satu pemain yang paling merasakan kerasnya kehidupan di MU pasca Ole. Diangkat jadi kapten saat era Solskjaer, lalu dihantam kritik, meme, sampai momen-momen sulit yang bikin banyak pemain lain memilih menyerah.

Tapi Maguire bertahan. Dan yang paling menarik, musim ini namanya masih muncul di laga-laga besar. Dalam Derby Manchester 17 Januari 2026, dia bahkan disebut sebagai salah satu pemain kunci di lini belakang yang sukses meredam City.

“Versi Baru” Maguire di MU

Kalau dulu Maguire identik dengan beban harga mahal dan ban kapten, sekarang dia seperti berubah jadi bek yang lebih sederhana: fokus duel, fokus posisi, fokus sapuan.

Tidak harus selalu jadi bintang, tapi cukup jadi benteng. Dan untuk tim yang masih mencari stabilitas, tipe seperti ini tetap dibutuhkan.


Luke Shaw, Veteran yang Tetap Jadi Andalan Saat Fit

Luke Shaw adalah contoh pemain yang “melewati banyak zaman” di MU. Tapi khusus era Ole, peran Shaw benar-benar naik kelas. Ia bukan sekadar bek kiri, tapi senjata progresi bola, partner serangan, sekaligus pemain yang bisa mengubah bentuk permainan lewat overlap.

Kini, Shaw masih ada di skuad 2025/2026 dan masih mengoleksi banyak penampilan.

Shaw Masih Punya Nilai di Tim Modern

Dalam sepak bola sekarang, fullback yang bisa menyerang dan bertahan tetap jadi komoditas. Shaw mungkin sudah tak secepat dulu, tapi dia paham kapan harus maju, kapan harus menahan diri.

Kuncinya tinggal satu: kebugaran. Kalau fit, Shaw masih bisa jadi pembeda. Kalau cedera, MU biasanya harus putar otak.


Diogo Dalot, Pemain yang Diselamatkan Ole dan Kini Jadi Serbaguna

Dalot sebenarnya datang sebelum Ole resmi jadi manajer penuh, tapi dia benar-benar “hidup” lagi karena dipercaya Ole. Saat banyak orang ragu Dalot cukup bagus untuk MU, Solskjaer tetap memberi panggung.

Dan musim 2025/2026, Dalot masih bertahan, bahkan cukup aktif bermain.

Dalot Itu Tipikal Pemain Favorit Pelatih

Ada satu alasan kenapa Dalot disukai banyak pelatih: dia bisa menutup banyak lubang.

Main bek kanan bisa. Digeser ke kiri bisa. Disuruh lebih menyerang bisa. Bahkan dalam laga Derby terbaru, namanya tetap jadi sorotan karena tekel kontroversialnya, tanda bahwa dia masih jadi bagian penting dari pertandingan besar.


Amad Diallo, Investasi Muda Era Ole yang Akhirnya “Pecah”

Amad termasuk rekrutan era Ole yang sering dianggap “misterius” di awal. Datang sebagai talenta muda, sempat tenggelam, sempat pinjaman, lalu pelan-pelan mencuri tempat.

Musim ini Amad tercatat sudah tampil cukup sering dan ikut menyumbang gol serta assist.

Amad dan Keuntungan Punya Kesabaran

MU era Ole dulu kerap dibilang tidak sabaran. Tapi untuk kasus Amad, kesabaran itu akhirnya dibayar.

Amad bukan pemain yang harus selalu starter, tapi dia tipe yang bisa memecah kebuntuan dari bangku cadangan, apalagi kalau lawan sudah lelah dan ruang mulai terbuka.


Tom Heaton, “Anak Buah” yang Lebih Banyak Menjaga Suasana

Kalau yang lain berkontribusi lewat menit bermain, Tom Heaton bertahan dengan cara berbeda.

Dia ada sebagai kiper senior, mentor untuk kiper muda, dan figur yang menjaga suasana ruang ganti tetap waras. Dari sisi menit bermain musim ini ia memang tidak aktif, tapi keberadaannya sering dianggap penting dalam dinamika tim.


Statistik Musim 2025/2026: Seberapa Besar Peran Mereka Sekarang?

Di bawah ini statistik ringkas kompetisi liga untuk musim 2025/2026 dari pemain-pemain “anak buah Ole” yang masih bertahan di skuad MU.

PemainPosisiMain (Apps)GolAssist
Bruno FernandesGelandang1959
Luke ShawBek2201
Diogo DalotBek2012
Harry MaguireBek911
Amad DialloPenyerang1622
Tom HeatonKiper000

Sumber statistik: data skuad Manchester United musim 2025/2026.


Kenapa Mereka yang Bertahan Ini Bisa Lolos dari “Sapu Bersih” MU?

MU sudah beberapa kali berganti pelatih setelah Ole. Bahkan pada Januari 2026, klub kembali memasuki fase pergantian lagi dengan Michael Carrick tercatat sebagai pelatih sementara terbaru.

Namun pemain-pemain ini tetap aman, dan alasannya biasanya tidak jauh dari tiga hal berikut.

1. Mereka punya fungsi yang jelas

Bruno adalah pengatur tim. Shaw adalah opsi bek kiri yang komplet saat fit. Dalot adalah pemain serbaguna. Maguire adalah bek senior yang masih bisa dipakai untuk laga tertentu. Amad adalah senjata dinamis di lini depan.

Pelatih boleh berganti, tapi kebutuhan tim tidak selalu berubah drastis.

2. Mental bertahan hidup di MU itu tidak semua orang punya

Ada pemain yang begitu kena tekanan publik langsung jatuh mental. Ada juga yang bisa bangkit meski tiap pekan jadi bahan perdebatan. Maguire adalah contoh paling nyata soal ini.

3. Mereka punya hubungan emosional dengan klub

Bruno adalah pemimpin. Shaw sudah lama di MU. Dalot dan Amad tumbuh lewat proses panjang. Heaton memahami kultur MU dari dalam.

Dalam klub sebesar MU, kadang “paham ruang ganti” sama pentingnya dengan skill di lapangan.


Satu Hal yang Menarik: Banyak Rekrutan Ole Justru Sudah Pergi

Kalau melihat kembali daftar belanja Ole di masanya, banyak nama besar yang sudah tidak ada. Tetapi ada juga beberapa transfer yang “menempel” dan masih hidup sampai hari ini, terutama yang memang cocok dengan Premier League dan tidak gampang patah.

Dan di situlah ceritanya terasa unik.

Era Ole mungkin sudah lama lewat, tapi sisa-sisa pondasinya masih terlihat jelas di MU hari ini. Bruno masih jadi kompas, Shaw masih jadi opsi penting, Maguire masih berdiri menghadapi tekanan, Dalot masih menambal berbagai posisi, Amad masih tumbuh, dan Heaton masih menjadi sosok senior di belakang layar.

Kalau MU sekarang sedang mencari identitas baru, nama-nama lama ini minimal masih jadi pengingat: di klub sebesar ini, yang bertahan bukan selalu yang paling glamor, tapi yang paling tahan banting.

Leave a Reply