City Singkirkan Salford di Piala FA, Gol Perdana Marc Guehi Jadi Kunci

Manchester City melangkah ke putaran kelima Piala FA setelah menundukkan Salford City dengan skor 2 0 di Etihad Stadium, Sabtu 14 Februari 2026. Kemenangan ini datang lewat gol bunuh diri Alfie Dorrington pada menit keenam, lalu ditutup gol debut Marc Guehi pada menit 81 yang mengakhiri ketegangan ketika Salford masih menggantungkan harapan mencuri kejutan.

Di atas kertas, ini seharusnya laga yang simpel untuk City. Namun jalannya pertandingan lebih rumit dari yang terlihat di papan skor. City menguasai permainan, tetapi tak selalu tajam di sepertiga akhir. Salford bertahan disiplin, menunggu momen, dan sempat memaksa James Trafford bekerja keras sebelum akhirnya kualitas bangku cadangan City berbicara.

Skor cepat yang mengubah arah laga

Gol bunuh diri Dorrington tercipta dari situasi yang tampak biasa. City mengalirkan bola ke sisi kiri, Rayan Ait Nouri mengirim bola rendah ke area berbahaya, lalu arah bola berubah setelah mengenai Dorrington dan membuat kiper Matthew Young tak sempat bereaksi. Dalam hitungan menit, City sudah memegang kendali skor, tetapi keunggulan cepat itu juga membuat ritme pertandingan berubah: Salford bisa kembali ke rencana awal mereka, rapat, sabar, dan tak perlu panik mengejar gol terlalu dini.

City dominan bola, tetapi tidak selalu mengiris

City benar benar memonopoli penguasaan bola. Angkanya menunjukkan dominasi yang ekstrem: 80,4 persen berbanding 19,6 persen. Namun dominasi ini tidak otomatis menjadi pesta peluang. Total tembakan City memang tinggi, 19 percobaan, tetapi yang mengarah ke gawang hanya 4. Di sinilah ceritanya menarik: Salford membiarkan City memegang bola di area yang tidak membahayakan, lalu menutup akses umpan di ruang berbahaya dengan blok yang rapat.

Guardiola menyebut permainan datar dan lambat

Usai pertandingan, Pep Guardiola tidak menutupi kekecewaan terhadap cara timnya mengelola ruang. Ia menilai City tidak membaca ruang dengan baik, permainan terasa datar dan lambat, dan itu yang membuat laga menjadi membosankan meski timnya menang serta lolos. Nada bicaranya menegaskan satu hal: bagi Guardiola, menang saja tidak cukup jika prosesnya tidak sesuai standar.

Momen krusial sebelum jeda: Trafford menjaga keunggulan

Keunggulan 1 0 tidak membuat City sepenuhnya aman. Pada fase akhir babak pertama, Salford justru punya momen yang bisa mengubah jalan cerita. Ben Woodburn melepaskan percobaan yang memaksa James Trafford melakukan penyelamatan penting. Lalu pada situasi bola mati, Brandon Cooper mendapatkan ruang untuk menyundul, tetapi arah bola melebar. Pada momen seperti ini, pertandingan piala sering berubah arah: satu gol balasan bisa memantik panik, lalu segala sesuatu jadi liar. Trafford memastikan itu tidak terjadi.

Salford tidak datang untuk bertahan saja

Ada perbedaan besar dibanding pertemuan musim lalu yang berakhir dengan kekalahan telak untuk Salford. Kali ini, mereka berani mengambil risiko terukur. Mereka menunggu momentum untuk mengirim bola ke area sayap, mencoba memaksa City melakukan sapuan, lalu mengejar bola kedua. Bahkan ketika City memegang bola hampir sepanjang waktu, Salford tetap mencari celah melalui serangan balik dan umpan silang rendah yang membuat lini belakang City harus siaga.

Gol yang dianulir, lalu masalah yang tak bisa dibantu VAR

Ada satu adegan yang membuat laga ini semakin terasa ganjil bagi City. Omar Marmoush sempat mencetak gol lewat tembakan keras yang sangat indah, tetapi dianulir karena offside. Laporan pertandingan City menyebut tayangan ulang menunjukkan ia sebenarnya masih onside, namun karena laga ini tanpa VAR, keputusan di lapangan tak bisa dikoreksi. Bagi City, ini bukan sekadar soal satu gol yang hilang, tetapi juga soal psikologi: ketika peluang besar tidak dihitung, lawan mendapat bahan bakar kepercayaan diri.

Kenapa keputusan seperti ini bisa berbahaya di laga piala

Piala adalah panggung yang unik. Tim besar punya lebih banyak peluang, tetapi tim kecil punya satu senjata paling mematikan: keyakinan bahwa waktu berpihak pada mereka. Ketika skor hanya 1 0 dan menit terus berjalan, Salford bisa bilang pada diri sendiri, kita cuma butuh satu momen. Gol Marmoush yang dianulir tanpa VAR membuat City harus menahan rasa frustrasi dan tetap memaksa permainan berjalan ke arah mereka.

Rotasi City dan cerita di balik susunan pemain

Guardiola melakukan banyak perubahan. Laga ini menjadi ruang untuk memberi menit bermain bagi beberapa pemain, juga memantau kondisi skuad. Di kubu City, laga ini juga menandai kembalinya John Stones dan adanya perubahan besar pada komposisi starter. Reuters dan laporan lain menekankan City melakukan sembilan perubahan dibanding laga sebelumnya, sebuah sinyal bahwa Guardiola mencoba menjaga energi skuad untuk jadwal yang padat.

Cedera Alleyne jadi gangguan awal

City sempat kehilangan Max Alleyne yang dipaksa keluar pada menit 22 setelah benturan. Situasi ini membuat City harus menyesuaikan struktur sisi kanan lebih cepat dari rencana. Dalam laga yang ritmenya sudah tidak terlalu tinggi, perubahan seperti ini kadang membuat aliran bola semakin tersendat karena koneksi antarpemain perlu waktu untuk sinkron.

Salford disiplin, City butuh pemantik

Sampai pertengahan babak kedua, City tetap unggul tetapi belum mematikan laga. Mereka punya 3 peluang besar yang gagal berbuah gol tambahan. Di sisi lain, Salford tidak punya catatan peluang besar yang terhitung, namun mereka cukup sering masuk ke area kotak penalti dan membuat City waspada. Gambaran inilah yang membuat Guardiola akhirnya memilih jalan paling klasik: segarkan laga dengan pergantian yang tepat.

Pergantian pemain yang mengubah atmosfer pertandingan

Pada menit 65, Guardiola memasukkan Marc Guehi, Antoine Semenyo, dan Nico O Reilly. Laporan resmi City menegaskan dampaknya terasa cepat: permainan menjadi lebih hidup dan City terlihat lebih agresif menyerang ruang di belakang garis pertahanan Salford. Ini bukan semata soal kaki yang lebih segar, melainkan juga profil pemain yang berbeda: lebih direct, lebih berani menusuk, lebih rajin mengisi kotak.

Marc Guehi, gol debut yang tidak sekadar formalitas

Gol kedua City pada menit 81 datang dari situasi yang mencerminkan mental bek yang berani mengambil risiko di laga piala. Dari sebuah bola yang dikirim rendah ke kotak, kiper Matthew Young sempat menepis, tetapi Guehi berdiri di posisi yang tepat untuk menyambar bola muntah dan mengubah skor menjadi 2 0. Reuters menyebutnya sebagai gol debut rekrutan Januari, sedangkan laporan pertandingan City menekankan itu gol pertamanya untuk klub, sekaligus pemutus kecemasan.

Mengapa gol ini penting bagi City

Dalam laga seperti ini, City tidak hanya mengejar tiket lolos. Mereka juga mencari ritme, mencari ketajaman, dan menjaga aura bahwa Etihad bukan tempat untuk kejutan. Ketika sebuah tim menguasai bola 80,4 persen tapi hanya unggul satu gol sampai menit 80, selalu ada ruang untuk cerita gila. Satu pantulan, satu bola mati, satu kesalahan, dan semuanya bisa berubah. Gol Guehi menutup pintu itu.

Statistik pertandingan: City dominan, Salford berani melawan

Di bawah ini ringkasan statistik utama laga, merujuk data pertandingan Sky Sports.

StatistikManchester CitySalford City
Penguasaan bola80,4 persen19,6 persen
Tembakan196
Tembakan tepat sasaran42
Peluang besar gagal30
Sepak pojok76
Umpan akurat62586
Akurasi umpan91 persen54,8 persen
Kartu kuning02

Membaca angka: dominasi City tidak identik dengan ketajaman

Angka 19 tembakan tampak meyakinkan, tetapi 4 yang mengarah ke gawang memberi konteks bahwa sebagian besar percobaan City datang dari situasi yang tertutup atau dari jarak yang kurang ideal. Di sisi lain, Salford hanya melepaskan 6 tembakan dan 2 tepat sasaran, namun itu sudah cukup untuk menuntut dua penyelamatan kiper City, sebuah indikator bahwa ketika mereka menyerang, mereka berusaha membuatnya berarti.

Trafford dan duel kecil yang menentukan rasa aman City

Trafford mungkin tidak sibuk selama 90 menit, tetapi ia melakukan hal yang paling penting bagi tim besar di laga piala: memastikan tidak ada insiden yang mengundang drama. City sendiri memuji beberapa momen penyelamatannya, termasuk menepis percobaan Woodburn sebelum jeda dan menghentikan peluang lain pada babak kedua. Dalam laga yang disebut Guardiola datar, kiper sering menjadi pengaman yang tidak terlihat, sampai sebuah penyelamatan mengubah garis cerita.

Salford punya alasan untuk pulang dengan kepala tegak

Walau kalah, Salford bisa menunjuk beberapa hal yang layak dibanggakan: mereka bertahan rapi, tetap berani menguji kiper lawan, dan menjaga skor tetap hidup sampai menit 81. Sky Sports menyoroti peningkatan mereka dibanding kekalahan besar sebelumnya, sebuah sinyal bahwa struktur tim dan mental mereka berkembang. Di kompetisi seperti ini, ada kekalahan yang terasa seperti pukulan, ada juga yang terasa seperti modal. Salford lebih dekat ke kategori kedua.

Catatan khusus: Etihad tetap jadi benteng City di Piala FA

City menyebut rangkaian kemenangan kandang mereka di Piala FA terus berlanjut, sebuah catatan yang menambah aura Etihad sebagai tempat yang jarang memberi ampun di kompetisi ini. Di tengah performa yang tidak sepenuhnya memuaskan, tiket lolos tetap menjadi berita utama, dan City menjaga diri tetap berada di jalur perburuan trofi.

Apa yang membuat kemenangan ini terasa penting meski tidak spektakuler

City lolos, itu fakta. Namun pertandingan ini juga memberi dua pesan yang kontras. Pertama, kedalaman skuad masih bisa menyelesaikan masalah, terutama ketika pergantian pemain membawa energi baru dan kualitas berbeda, terbukti dari gol Guehi dan ancaman Semenyo yang bahkan sempat mengenai tiang menurut laporan. Kedua, City masih punya pekerjaan rumah dalam hal ketajaman dan kecepatan membaca ruang ketika lawan memilih bertahan sangat rapat. Dalam fase fase tertentu, permainan City terlalu nyaman, dan kenyamanan adalah hal yang paling disukai lawan seperti Salford.

Leave a Reply