Anfield Pesta, Liverpool Hajar Qarabag 6-0 dan Buka Pintu 16 Besar

Anfield akhirnya mendapat malam Eropa yang benar benar “sembuh” dari segala kegelisahan. Liverpool menghancurkan Qarabag dengan skor 6-0 pada UEFA Champions League, Rabu 28 Januari 2026 waktu setempat, sebuah kemenangan yang bukan cuma besar dari sisi angka, tapi juga terasa seperti pernyataan sikap. Setelah periode performa domestik yang naik turun, The Reds tampil lepas, tajam, dan tanpa ampun saat ruang terbuka.

Babak pertama seperti tombol gas yang macet di posisi penuh

Liverpool memulai laga dengan tekanan tinggi dan pergerakan tanpa bola yang rapat. Qarabag sempat mencoba bermain berani, tapi setiap kali mereka keluar dari blok pertahanan, Liverpool punya cara untuk memaksa kesalahan dan menggiring bola balik ke area berbahaya.

Mac Allister membuka pintu, Anfield langsung pecah

Gol pembuka datang dari Alexis Mac Allister pada menit 15. Begitu bola masuk, ritme Liverpool berubah dari dominan menjadi ganas. Mereka tidak mengendur, malah makin sering mengurung Qarabag di sepertiga akhir dan membuat lawan kesulitan menahan gelombang serangan berikutnya.

Wirtz menyusul cepat, Liverpool menumpuk luka

Hanya berselang enam menit, Florian Wirtz menggandakan keunggulan pada menit 21. Gol cepat ini mengubah pertandingan menjadi satu arah. Qarabag yang awalnya ingin berani, akhirnya lebih sering bertahan sambil berharap Liverpool melewatkan peluang, tetapi harapan itu tidak bertahan lama.

Babak kedua baru mulai, Liverpool langsung menambah jarak

Setelah turun minum, biasanya ada momen “menunggu” dan mengukur ulang. Liverpool justru mengambil jalan lain, menyerang lagi seolah skor masih 0-0. Cara mereka menekan menunjukkan satu pesan, malam ini harus ditutup dengan kemenangan yang tidak menyisakan ruang debat.

Salah mengakhiri sunyi, lalu Ekitike menambah derita

Mohamed Salah membuat skor menjadi 3-0 pada menit 50. Setelah itu, Hugo Ekitike menambah gol pada menit 57, sebuah momen yang mempertegas betapa Liverpool mampu memukul dari berbagai skenario, baik saat menguasai bola maupun ketika mencuri ruang lewat transisi cepat.

Mac Allister menggila, Chiesa menutup pesta di menit akhir

Mac Allister tidak berhenti di satu gol. Ia mencetak gol keduanya pada menit 61 untuk membuat Liverpool unggul 5 0. Saat laga memasuki menit akhir, Federico Chiesa menyempurnakan malam Anfield dengan gol pada menit 90. Skor 6-0 terasa seperti ringkasan yang jujur tentang perbedaan kelas malam itu.

Statistik yang menjelaskan kenapa laga ini terasa berat sebelah

Angka angka berikut memperlihatkan dominasi Liverpool dengan sangat gamblang. Tembakan, sentuhan di kotak penalti lawan, hingga peluang yang diciptakan menunjukkan Qarabag lebih banyak “bertahan hidup” daripada benar benar bertanding dalam arti mengancam.

StatistikLiverpoolQarabag
Penguasaan bola56.2%43.8%
Tembakan385
Tembakan tepat sasaran121
Tembakan melenceng101
Tembakan diblok163
Peluang besar terbuang60
Sentuhan di kotak lawan6714
Peluang tercipta322
Sepak pojok141
Offside30
Save kiper16
Umpan dicoba503404
Umpan akurat447335
Akurasi umpan88.9%82.9%
Cross dicoba244
Cross akurat91
Tekel sukses116
Intersep1113
Sapuan727
Kartu kuning01

Satu detail yang membuat angka angka ini terasa “nyata” adalah sentuhan Liverpool di kotak penalti lawan yang mencapai 67. Itu bukan sekadar dominasi penguasaan bola, tapi dominasi wilayah, Liverpool berulang kali masuk ke area yang benar benar bisa menghasilkan gol.

Mac Allister jadi wajah pertandingan, bukan cuma pengiring

Di malam seperti ini, biasanya sorotan mudah jatuh ke penyerang. Tapi Mac Allister memaksa semua orang melihat peran gelandang yang komplet. Ia datang dari lini kedua, memilih ruang yang tepat, dan menyelesaikan peluang dengan dingin.

Dua gol yang terasa “mudah” karena timing yang tepat

Dua gol Mac Allister terlihat sederhana di layar, tetapi cara ia muncul di momen yang pas itu yang membuatnya mahal. Ia bukan sekadar ikut menyerang, ia datang ketika pertahanan lawan sedang menatap bola dan kehilangan orientasi. Di laporan pertandingan, ia juga dinobatkan sebagai Player of the Match.

Wirtz menambah kreativitas, Liverpool punya rasa baru di sepertiga akhir

Wirtz ikut mencuri panggung. Golnya di babak pertama jadi simbol bahwa Liverpool tidak hanya mengandalkan satu jalur serangan.

Arne Slot menang di papan taktik, tapi tetap ada satu kabar buruk

Kemenangan 6-0 ini terasa seperti udara segar untuk Arne Slot, terutama karena terjadi saat Liverpool masih dibayang bayangi masalah cedera. Namun malam indah itu sempat terganggu oleh satu momen yang membuat stadion menahan napas.

Frimpong cedera cepat, Liverpool kembali dipaksa berimprovisasi

Jeremie Frimpong mengalami cedera di awal laga. Kondisi ini memperdalam krisis pertahanan Liverpool, bahkan pada pertandingan ini mereka sempat bermain dengan dua gelandang di lini belakang. Situasi seperti ini biasanya mengundang panik, tetapi Liverpool tetap rapi dan terus menyerang dengan struktur yang jelas.

Qarabag yang mencoba berani justru memberi Liverpool panggung

Qarabag tidak sepenuhnya memasang blok rendah ekstrem. Mereka beberapa kali menyerang dengan jumlah pemain yang lumayan, dan itu malah “mengundang” Liverpool untuk menghukum lewat perebutan bola tinggi serta serangan balik cepat. Dalam konteks ini, keberanian Qarabag seperti membuka pintu untuk Liverpool masuk lebih dalam.

Momentum psikologis yang terasa, Anfield kembali bernyanyi

Kadang skor besar tidak selalu berarti permainan sempurna, tetapi malam ini Liverpool terlihat menikmati sepak bola mereka sendiri. Ada momen momen ketika bola mengalir cepat, kombinasi berjalan, dan pemain depan tidak ragu mengambil keputusan.

“Kalau Liverpool bermain seperti ini, pertandingan terasa seperti pesta yang tidak mau selesai. Setiap serangan seperti mengandung ancaman.”

Kalimat itu muncul begitu saja karena sensasinya memang begitu. Setelah beberapa pekan yang penuh pertanyaan, performa seperti ini terasa seperti jawaban paling keras.

Tiket 16 besar diamankan, calon lawan mulai mengintip

Kemenangan ini memastikan Liverpool lolos otomatis ke babak 16 besar. Liverpool finis di posisi tiga fase liga dengan 18 poin, sementara Qarabag meski dihajar tetap memegang posisi playoff.

Di sisi lain, Liverpool akan menghadapi salah satu dari Club Brugge, Galatasaray, Juventus, atau Atletico Madrid di babak 16 besar. Nama nama itu membuat tantangan berikutnya jelas, levelnya naik, atmosfernya makin berat, dan Liverpool butuh membawa “versi Anfield malam ini” ke laga berikutnya.

Leave a Reply