Anfield Menanti Reaksi Liverpool, Newcastle Datang Saat The Reds Puasa Menang

Anfield akan jadi panggung ujian mental Liverpool saat menjamu Newcastle United pada Sabtu, 31 Januari 2026. Di atas kertas ini duel klasik Utara Inggris, tetapi bumbunya kali ini lebih tajam karena The Reds sedang tersandung. Lima laga liga beruntun tanpa kemenangan membuat atmosfer di kota pelabuhan terasa berbeda, seolah setiap sentuhan bola dituntut menjawab satu pertanyaan yang sama, kapan Liverpool kembali meyakinkan.

Jadwal, venue, dan posisi terkini yang bikin laga terasa berat

Liverpool dan Newcastle datang dengan jarak yang tidak jauh di papan klasemen. Itu membuat pertandingan ini bukan sekadar soal tiga poin, melainkan soal siapa yang berhak menempel rombongan pemburu tiket Liga Champions.

Liverpool vs Newcastle dijadwalkan di Anfield pada 31 Januari 2026 pukul 20.00 waktu setempat Inggris.

Statistik kunci jelang laga

Data di bawah merangkum posisi dan performa dasar kedua tim di liga musim ini.

KategoriLiverpoolNewcastle
Posisi liga69
Main2323
Menang109
Seri66
Kalah78
Poin3633
Gol memasukkan3532
Gol kebobolan3229
Selisih gol33
Assist2417

Angkanya terlihat rapat, tapi nuansanya tidak sama. Liverpool punya masalah menyelesaikan pertandingan dengan kemenangan, sementara Newcastle punya persoalan produktivitas di partai tandang dan belakangan seret gol.

Lima laga tanpa menang, kenapa Liverpool seperti kehilangan gigi

Liverpool memasuki duel ini dengan catatan liga yang mengusik: empat kali seri lalu kalah sekali, total lima pertandingan tanpa kemenangan. Hal yang paling mengganggu bukan cuma hasilnya, tetapi pola yang berulang.

Di beberapa laga, Liverpool tampak menguasai momen awal, menekan dengan intensitas yang biasanya jadi identitas Anfield. Namun ketika gol tidak cepat datang, tempo menjadi lebih mudah dibaca lawan. Ritme serangan sering mentok di area half space, umpan cutback terlalu cepat dibaca, dan bola kedua tidak selalu jadi milik tuan rumah. Pada fase ini, pertandingan berubah menjadi adu kesabaran, dan Liverpool seperti sedang diuji kesabaran kolektifnya.

Detail yang paling terasa: satu momen kecil bisa menghapus kerja 80 menit

Kekalahan dramatis dari Bournemouth menjadi contoh terbaru, sebuah hasil yang ikut menjatuhkan Liverpool ke peringkat enam. Dalam bahasa sederhana, Liverpool masih bisa memainkan sepak bola bagus, tapi belum cukup kejam ketika laga memasuki menit akhir. Ketika tekanan menumpuk, keputusan kecil jadi menentukan: kapan harus memperlambat, kapan harus membuang bola, kapan harus melakukan pelanggaran taktis, dan kapan harus menutup ruang di depan kotak penalti.

Ada sisi positif yang bisa jadi pemantik. Di tengah kegaduhan hasil liga, Liverpool justru menunjukkan daya ledak besar di kompetisi Eropa dengan kemenangan besar atas Qarabag di Anfield pada pertengahan pekan. Masalahnya sekarang, bagaimana membawa aura itu ke liga.

Badai cedera di lini belakang yang mengubah struktur tim

Krisis terbesar Liverpool ada di jantung pertahanan. Dalam situasi tertentu, Ryan Gravenberch bahkan sempat dipaksa mengisi peran bek tengah karena opsi yang menipis. Virgil van Dijk disebut menjadi satu satunya bek tengah senior yang benar benar siap, dengan Joe Gomez cedera dan Ibrahima Konate absen karena urusan keluarga, sementara Giovanni Leoni juga mengalami cedera ACL.

Bila struktur bek berubah, efeknya menjalar ke mana mana. Jarak antar lini bisa melebar, gelandang jangkar lebih sering turun menambal ruang, dan fullback jadi ragu kapan harus overlap. Itu semua memengaruhi kualitas serangan, karena Liverpool hidup dari timing, bukan sekadar jumlah pemain menyerang.

Newcastle datang dengan luka, tetapi juga punya modal perlawanan

Newcastle juga tidak masuk Anfield dengan kondisi ideal. Mereka baru saja mengalami kekalahan liga di kandang dari Aston Villa, dan sebelum itu ditahan imbang tanpa gol oleh Wolves. Dua laga liga terakhir tanpa gol adalah alarm yang jelas: build up bisa jalan, tapi ujung tombaknya tidak selalu menggigit.

Masalah tandang yang menghantui, namun tetap ada celah harapan

Salah satu catatan paling mengganggu bagi Newcastle adalah produktivitas saat bermain di luar kandang. Opta menyorot bahwa Newcastle cukup sering gagal mencetak gol di partai tandang musim ini. Inilah yang membuat Anfield terasa seperti gunung yang harus didaki dengan ransel penuh batu.

Namun Newcastle punya satu hal yang bisa mengangkat percaya diri: mereka baru saja menahan Paris Saint Germain 1 1 di ajang Liga Champions. Hasil itu bukan sekadar angka, melainkan bukti bahwa Newcastle bisa bertahan rapat, disiplin, dan tetap punya rute serangan balik yang mengancam.

Kabar skuad yang memengaruhi cara main

Newcastle disebut tanpa Alexander Isak. Dari sisi Liverpool, Jeremie Frimpong juga diragukan dan sudah dipastikan absen menurut laporan pratinjau, menambah panjang daftar pemain belakang yang menepi.

Ini penting karena absennya pemain kunci mengubah titik fokus serangan. Tanpa penyerang utama, Newcastle bisa lebih mengandalkan transisi cepat dari sayap, memancing Liverpool naik, lalu memukul ruang di belakang fullback. Sementara Liverpool, dengan pertahanan darurat, mungkin akan lebih berhati hati menempatkan garis tinggi.

Duel yang punya sejarah berat untuk Newcastle di Anfield

Ada pertandingan yang terasa berat karena tekanan klasemen, ada juga yang berat karena sejarahnya. Liverpool vs Newcastle di Anfield termasuk yang kedua bagi tim tamu.

Opta mencatat Liverpool tidak terkalahkan dalam 18 pertemuan liga terakhir melawan Newcastle, dengan 13 kemenangan dan 5 seri. Lebih menusuk lagi, Newcastle belum menang dalam 29 laga tandang liga melawan Liverpool, sebuah rentang yang panjang dan melelahkan untuk dibawa ke ruang ganti.

Rekam jejak pertemuan terakhir

Berikut ringkasan lima pertemuan terakhir yang tercatat di data pertandingan.

TanggalAjangTuan rumahSkorTamu
25 Agu 2025Liga InggrisNewcastle2 3Liverpool
16 Mar 2025Carabao CupLiverpool1 2Newcastle
26 Feb 2025Liga InggrisLiverpool2 0Newcastle
4 Des 2024Liga InggrisNewcastle3 3Liverpool
1 Jan 2024Liga InggrisLiverpool4 2Newcastle

Khusus musim ini, Liverpool menang 3 2 di kandang Newcastle pada pertemuan pertama. Itu memberi Liverpool kesempatan mengunci sapu bersih dua pertemuan liga, sekaligus memutus narasi negatif tentang puasa menang di kalender 2026.

Area panas yang menentukan jalannya pertandingan

Pertandingan seperti ini jarang ditentukan oleh satu trik. Biasanya ditentukan oleh beberapa duel kecil yang menumpuk, lalu meledak menjadi gol.

Liverpool harus berani menekan, tapi tidak boleh ceroboh di ruang belakang

Dengan komposisi pertahanan yang tidak ideal, Liverpool tetap butuh menekan untuk membuat Newcastle jauh dari kotak penalti Alisson. Masalahnya, tekanan tinggi tanpa koordinasi bisa jadi bumerang. Newcastle cukup nyaman menunggu momen untuk melepas bola pertama ke area sayap, lalu mengejar bola kedua di antara bek dan gelandang.

Jika Liverpool bisa menjaga jarak antar lini tetap rapat, Newcastle akan dipaksa membangun serangan lebih lama, dan di situ peluang salah umpan muncul.

Newcastle wajib lebih tajam, karena peluang di Anfield biasanya tidak banyak

Newcastle baru saja menjalani dua laga liga tanpa gol. Di Anfield, peluang biasanya lebih sedikit, jadi kualitas keputusan di sepertiga akhir jadi penentu. Satu umpan terakhir yang tepat, satu cut inside yang memancing pelanggaran, atau satu tembakan rendah yang memaksa rebound, itu yang harus diburu Newcastle.

Pemain kunci yang bisa mengubah cerita dalam satu sentuhan

Data pencetak gol dan kreator utama menunjukkan siapa yang paling sering jadi pembeda.

Di Liverpool, Hugo Ekitike menjadi top skor dengan 8 gol, sementara Mohamed Salah memimpin assist dengan 4. Di Newcastle, Bruno Guimaraes memimpin daftar gol dengan 8 dan juga jadi pengumpan utama dengan 3 assist, sementara Nick Woltemade punya 7 gol.

Kalau pertandingan berjalan buntu, laga ini bisa berubah menjadi soal siapa yang lebih dulu berani mengambil risiko dari luar kotak, atau siapa yang lebih pintar mencari pelanggaran di area berbahaya.

“Di Anfield, bukan cuma kaki yang bekerja. Kepala juga. Kalau Liverpool ingin bangkit, mereka harus menang dengan cara yang meyakinkan, bukan sekadar selamat.”

Skenario pertandingan yang paling masuk akal di atas rumput Anfield

Liverpool kemungkinan akan memulai dengan tempo tinggi, mencoba mencetak gol lebih awal agar tekanan lima laga tanpa kemenangan tidak ikut terbawa sampai menit akhir. Newcastle cenderung lebih nyaman bertahan rapat dan menunggu momen transisi, apalagi dengan catatan produktivitas tandang yang naik turun.

Jika Liverpool mencetak gol lebih dulu, pertandingan bisa terbuka dan peluang gol bertambah. Namun jika Newcastle berhasil membuat skor tetap imbang hingga jeda, suasana bisa berubah menjadi tegang, dan laga masuk ke wilayah yang selama sebulan terakhir membuat Liverpool sering kehilangan poin.

Yang jelas, dua tim ini datang dengan kebutuhan yang sama, tiga poin untuk menjaga jarak dengan empat besar, dan satu malam di Anfield yang bisa mengubah arah pembicaraan untuk beberapa pekan ke depan.

Leave a Reply