Brasil Hajar Skotlandia 3 Gol, Neymar Kembali Mengguncang Piala Dunia
Brasil memastikan diri melangkah ke babak 32 besar Piala Dunia 2026 sebagai juara Grup C setelah menundukkan Skotlandia dengan skor 3 gol tanpa balas di Miami Stadium, Miami Gardens, Amerika Serikat. Vinicius Junior menjadi tokoh utama melalui dua golnya, sedangkan Matheus Cunha melengkapi kemenangan Tim Samba pada babak kedua.
Pertandingan tersebut juga menjadi panggung yang sangat emosional bagi Neymar. Penyerang berusia 34 tahun itu akhirnya kembali mengenakan seragam Brasil setelah hampir tiga tahun tidak tampil di pertandingan internasional. Ia masuk sebagai pemain pengganti pada menit ke 76 dan langsung memperlihatkan sentuhan yang selama ini dirindukan penggemar Selecao.
Sebanyak 64.478 penonton menyaksikan Brasil tampil dominan, agresif, dan jauh lebih tajam dibandingkan Skotlandia. Pasukan Carlo Ancelotti tidak sekadar mengamankan tiga poin, tetapi juga memperlihatkan peningkatan permainan setelah melewati dua pertandingan awal Grup C.
Brasil Membuka Pertandingan dengan Tekanan Tinggi
Brasil tidak membutuhkan waktu lama untuk menunjukkan rencana permainannya. Sejak peluit awal dibunyikan, Vinicius Junior, Rayan, Matheus Cunha, dan Lucas Paqueta langsung menekan pemain belakang Skotlandia ketika bola masih berada di wilayah pertahanan lawan.
Tekanan itu membuat para pemain Skotlandia kesulitan membangun serangan dengan tenang. Umpan ke arah gelandang sering terlambat, sedangkan jarak antara pemain belakang dan pemain tengah terlalu renggang. Brasil membaca kelemahan tersebut dan berusaha merebut bola sedekat mungkin dengan kotak penalti.
Vinicius Menghukum Kesalahan Scott McKenna
Gol pertama Brasil tercipta pada menit ketujuh. Scott McKenna terlalu lama menguasai bola di area berbahaya sehingga Rayan dapat datang dari arah samping dan merebutnya. Bola kemudian diarahkan kepada Vinicius yang berdiri bebas di dalam kotak penalti.
Angus Gunn mencoba keluar dari gawang untuk mempersempit ruang tembak. Vinicius tetap tenang. Ia melewati sang penjaga gawang dengan satu sentuhan sebelum mengarahkan bola ke gawang yang telah kosong.
Gol cepat itu mengubah jalannya pertandingan. Skotlandia yang sebelumnya ingin memainkan bola dari bawah mulai terlihat ragu setiap kali menerima tekanan. Para pemain belakang lebih sering mengirimkan umpan panjang, tetapi bola dengan mudah dikuasai Marquinhos dan Gabriel Magalhaes.
Brasil hampir mendapatkan gol kedua tidak lama kemudian. Vinicius kembali merebut bola di dekat kotak penalti dan menaklukkan Gunn. Namun, pemeriksaan video menunjukkan adanya pelanggaran terhadap Jack Hendry sehingga gol tersebut dibatalkan.
Keputusan itu sempat memberi Skotlandia kesempatan untuk memperbaiki permainan. Mereka berusaha menurunkan kecepatan pertandingan melalui penguasaan bola di lini tengah. Akan tetapi, Brasil tetap menjadi tim yang menciptakan peluang paling berbahaya.
Dua Gol Vinicius Menegaskan Ketajaman Sang Penyerang
Vinicius tidak berhenti bergerak setelah mencetak gol pertama. Ia beberapa kali bertukar posisi dengan Rayan dan Matheus Cunha. Pergerakan tersebut menyulitkan pemain bertahan Skotlandia karena mereka tidak dapat menjaga satu pemain secara tetap.
Penyerang Real Madrid itu juga terlihat lebih matang dalam memilih waktu untuk berlari. Ia tidak selalu meminta bola ke kaki, tetapi menunggu ketika pemain tengah Brasil memiliki ruang untuk melepaskan umpan ke belakang garis pertahanan.
Sundulan di Tiang Jauh Menutup Babak Pertama
Skotlandia hampir bertahan sampai jeda dengan hanya tertinggal satu gol. Namun, tekanan Brasil kembali menghasilkan peluang pada tambahan waktu babak pertama.
Bruno Guimaraes mendapatkan ruang di sisi kanan setelah Brasil merebut bola di wilayah lawan. Gelandang tersebut mengangkat kepala dan mengirimkan umpan silang menuju tiang jauh. Vinicius bergerak menjauhi penjaganya, lalu menyambut bola dengan sundulan dari jarak dekat.
Gunn tidak memiliki cukup waktu untuk bereaksi. Bola meluncur ke sudut atas gawang dan membawa Brasil unggul 2 gol tanpa balas pada menit 45+3.
Gol tersebut memperlihatkan bahwa Vinicius bukan hanya berbahaya ketika berlari membawa bola. Ia juga mampu menemukan ruang di dalam kotak penalti dan menyelesaikan peluang melalui sundulan.
Brasil menutup babak pertama dengan 11 percobaan tembakan. Jumlah itu menjadi catatan tembakan babak pertama terbanyak mereka dalam sebuah laga Piala Dunia sejak pertandingan menghadapi Meksiko pada babak 16 besar edisi 2018.
Statistik Pertandingan Skotlandia Melawan Brasil
Brasil lebih unggul dalam penguasaan bola, jumlah percobaan, tembakan tepat sasaran, serta akurasi operan. Skotlandia sebenarnya mampu mendapatkan sejumlah peluang pada babak kedua, tetapi mayoritas datang ketika Brasil telah memimpin tiga gol.
| Statistik | Skotlandia | Brasil |
|---|---|---|
| Skor akhir | 0 | 3 |
| Penguasaan bola | 46% | 54% |
| Total tembakan | 14 | 21 |
| Tembakan tepat sasaran | 5 | 9 |
| Tembakan melenceng | 6 | 7 |
| Tembakan diblok | 3 | 5 |
| Sepak pojok | 7 | 6 |
| Operan akurat | 450 | 564 |
| Akurasi operan | 90% | 93,2% |
| Sentuhan di kotak penalti lawan | 27 | 35 |
| Penyelamatan kiper | 5 | 5 |
| Pelanggaran | 10 | 11 |
| Kartu kuning | 1 | 2 |
| Kartu merah | 0 | 0 |
Brasil mencatatkan 21 tembakan dengan sembilan di antaranya mengarah ke gawang. Angka tersebut menunjukkan bahwa kemenangan tiga gol bukan hanya lahir dari kesalahan individu pemain Skotlandia. Selecao memang mampu menciptakan peluang dalam jumlah besar.
Skotlandia memiliki tujuh sepak pojok dan lima tembakan tepat sasaran. Namun, peluang mereka tidak memiliki kualitas yang sama dengan milik Brasil. Alisson Becker juga tampil sigap ketika Scott McTominay dan Lewis Ferguson mencoba memperkecil ketertinggalan.
Matheus Cunha Menuntaskan Serangan Kolektif Brasil

Brasil tidak mengurangi tekanan setelah memasuki babak kedua. Skotlandia sempat mengancam melalui sundulan McTominay, tetapi bola masih dapat diamankan Alisson.
Tim Samba kemudian kembali menguasai pertandingan. Casemiro dan Bruno Guimaraes menjaga keseimbangan di lini tengah, sementara Paqueta bergerak ke ruang kosong untuk membuka jalur operan.
Bruno Guimaraes Mengirim Dua Assist
Gol ketiga tercipta pada menit ke 60 melalui rangkaian operan yang cepat. Bruno Guimaraes membawa bola memasuki kotak penalti setelah melewati tekanan pemain tengah Skotlandia.
Ia sebenarnya memiliki kesempatan melepaskan tembakan, tetapi memilih mengirimkan bola kepada Matheus Cunha yang berada dalam posisi lebih bebas. Cunha menyelesaikannya dengan sepakan kaki kanan ke sudut bawah gawang.
Itu menjadi assist kedua Bruno dalam pertandingan tersebut. Ia sebelumnya mengirimkan umpan silang untuk gol kedua Vinicius. Selain dua assist, gelandang itu juga menciptakan tiga peluang sepanjang laga.
Cunha kini telah mencetak tiga gol pada Piala Dunia 2026. Penampilannya memberi Ancelotti pilihan menarik di posisi penyerang tengah. Ia tidak hanya menunggu bola di depan gawang, tetapi aktif turun untuk menghubungkan lini tengah dan lini serang.
Pergerakan Cunha juga memberi ruang lebih luas bagi Vinicius. Ketika bek tengah Skotlandia mengikuti Cunha, Vinicius dapat bergerak dari sisi kiri menuju area tengah tanpa mendapatkan penjagaan ketat.
Kembalinya Neymar Disambut Riuh Penonton Miami

Momen yang paling ditunggu terjadi pada menit ke 76. Neymar berdiri di sisi lapangan dan bersiap menggantikan Matheus Cunha. Suara penonton langsung meningkat ketika nomor punggung 10 Brasil terlihat di papan pergantian pemain.
Penampilan tersebut menjadi pertandingan pertamanya bersama Brasil sejak Oktober 2023. Neymar terakhir kali membela negaranya ketika menghadapi Uruguay pada kualifikasi Piala Dunia. Dalam pertandingan itu, ia mengalami cedera ligamen lutut dan meniskus yang membuatnya menjalani masa pemulihan panjang.
Neymar kembali ke lapangan bersama tim nasional setelah 981 hari. Ia juga mencatatkan penampilan keempatnya di putaran final Piala Dunia setelah sebelumnya tampil pada edisi 2014, 2018, dan 2022.
Sentuhan Pertama yang Masih Menyimpan Kreativitas
Ancelotti tidak meminta Neymar bermain sebagai penyerang yang terus berlari di belakang bek. Ia ditempatkan lebih dalam dan diberi kebebasan mencari bola di antara lini tengah dan pertahanan Skotlandia.
Dalam waktu sekitar 14 menit, Neymar mencatatkan 24 sentuhan, menciptakan tiga peluang, dan melepaskan satu tembakan tepat sasaran. Kondisi fisiknya memang belum terlihat berada pada tingkat tertinggi, tetapi kemampuan membaca ruang masih tampak jelas.
Salah satu peluang terbaik tercipta ketika Neymar mengirimkan umpan kepada Vinicius di sisi kiri kotak penalti. Vinicius berhadapan langsung dengan Gunn dan berkesempatan mencetak tiga gol. Namun, penjaga gawang Skotlandia mampu melakukan penyelamatan.
Neymar juga mengambil tendangan sudut dan beberapa kali mencoba melakukan kombinasi pendek dengan Vinicius. Kehadirannya membuat Brasil memiliki pemain tambahan yang mampu memberikan umpan terakhir ketika lawan bertahan rapat.
Kembalinya Neymar tidak langsung menggeser peran pemain lain. Dalam susunan saat ini, Vinicius telah berkembang menjadi pusat serangan utama. Neymar datang sebagai pemain berpengalaman yang dapat mengatur tempo, membuka ruang, dan memberi pilihan berbeda dari bangku cadangan.
Vinicius Kini Menjadi Pemimpin Serangan Tim Samba
Dua gol ke gawang Skotlandia membawa Vinicius mengoleksi empat gol di Piala Dunia 2026. Ia mencetak gol dalam setiap pertandingan fase grup dan terlibat langsung dalam sebagian besar serangan berbahaya Brasil.
Vinicius juga menjadi pemain Brasil kelima yang mampu mencetak gol dalam tiga pertandingan fase grup pada satu edisi Piala Dunia. Ia mengikuti catatan Jairzinho pada 1970, Romario pada 1994, serta Ronaldo dan Rivaldo pada 2002.
Nama nama tersebut membawa Brasil menjadi juara pada edisi masing masing. Catatan itu tentu meningkatkan perhatian kepada Vinicius, meski perjalanan pada turnamen kali ini masih panjang.
Kecepatan dan Penyelesaian Akhir Semakin Seimbang
Pada beberapa tahun sebelumnya, Vinicius sering dianggap lebih menonjol dalam menggiring bola dibandingkan menyelesaikan peluang. Penampilan melawan Skotlandia memperlihatkan perkembangan besar pada bagian terakhir permainannya.
Gol pertama dicetak melalui ketenangan menghadapi penjaga gawang. Gol kedua lahir dari penempatan posisi dan sundulan. Ia bahkan mencetak satu gol lain yang dibatalkan serta mendapatkan beberapa kesempatan menambah koleksi gol pada babak kedua.
Vinicius mencatatkan delapan tembakan, lima tembakan tepat sasaran, dan lima dribel sukses. Ia terus menjadi ancaman meskipun Skotlandia menempatkan lebih dari satu pemain di sisi kanan pertahanan.
Kerja sama antara Vinicius dan Neymar juga menjadi bagian yang menarik. Neymar tidak lagi harus membawa seluruh beban serangan seperti pada beberapa turnamen sebelumnya. Ia dapat membantu pemain yang kini berada dalam usia terbaik dan memiliki kecepatan untuk menyerang ruang.
Skotlandia Tertekan oleh Kesalahan Pemain Sendiri
Skotlandia memasuki pertandingan dengan peluang untuk lolos langsung apabila mampu mengalahkan Brasil. Namun, rencana Steve Clarke terganggu oleh kesalahan yang terjadi pada menit awal.
Kehilangan bola Scott McKenna berujung gol pertama, sedangkan lemahnya penjagaan di tiang jauh memberikan kesempatan kepada Vinicius mencetak gol kedua. Skotlandia juga gagal menghentikan pergerakan Bruno Guimaraes sebelum gol ketiga Cunha.
Peluang Babak Kedua Datang Terlambat
McTominay akhirnya mencatatkan tembakan tepat sasaran pada awal babak kedua. Sundulannya menjadi percobaan tepat sasaran pertama Skotlandia setelah mengalami puasa selama 200 menit di turnamen.
Ferguson kemudian menguji Alisson melalui tendangan bebas. McTominay memperoleh peluang lain dari sepak pojok, tetapi kiper Brasil kembali mampu mengamankan bola.
Skotlandia mencatatkan lima tembakan tepat sasaran sampai pertandingan selesai. Jumlah itu terlihat cukup baik di atas kertas, tetapi sebagian besar peluang muncul setelah Brasil menurunkan tekanan karena telah unggul tiga gol.
Kekalahan tersebut membuat Skotlandia menutup Grup C di posisi ketiga dengan tiga poin dan selisih gol minus tiga. Mereka harus menunggu hasil dari grup lain untuk mengetahui apakah dapat lolos sebagai salah satu tim peringkat ketiga terbaik.
Ancelotti Menemukan Susunan yang Lebih Seimbang
Brasil menyelesaikan fase grup dengan tujuh poin setelah meraih satu hasil imbang dan dua kemenangan. Mereka tampil lebih meyakinkan dari satu pertandingan ke pertandingan berikutnya.
Ancelotti mulai menemukan keseimbangan antara pemain yang agresif menyerang dan pemain yang menjaga struktur. Casemiro memberikan perlindungan di depan bek tengah, sedangkan Bruno Guimaraes memiliki kebebasan lebih besar untuk bergerak mendekati kotak penalti.
Di lini depan, Cunha dapat menjadi penghubung, Rayan menghadirkan energi saat menekan, dan Vinicius menjadi penyelesai utama. Neymar memberi opsi tambahan ketika Brasil membutuhkan kreativitas di ruang sempit.
Masuknya Fabinho, Gabriel Martinelli, Endrick, dan Neymar pada babak kedua juga menunjukkan kedalaman skuad Brasil. Ancelotti dapat mengubah karakter serangan tanpa harus kehilangan kendali permainan.
Brasil kini memasuki babak 32 besar dengan Vinicius berada dalam kondisi tajam, Cunha mulai rutin mencetak gol, Bruno Guimaraes produktif menciptakan peluang, serta Neymar kembali tersedia. Menit bermain Neymar kemungkinan akan ditambah secara bertahap sesuai kondisi fisiknya, sementara Vinicius tetap menjadi pemain yang paling banyak menerima bola ketika Brasil memasuki wilayah pertahanan lawan.