City Baru Bergerak untuk Vinicius, Syaratnya Guardiola Pergi Dulu
Rumor besar kadang tidak lahir dari kebutuhan taktik semata, tapi dari momen pergantian kekuasaan. Itulah yang membuat isu Manchester City dan Vinicius Junior terasa berbeda dari gosip transfer biasa. Bukan sekadar City mengincar winger kelas dunia, melainkan ada syarat yang membuat rencana itu seperti ditahan di laci meja: langkah serius baru akan dijalankan ketika Pep Guardiola benar benar hengkang.

Di Etihad, Guardiola masih menjadi pusat orbit. Setiap keputusan rekrutmen besar, gaya bermain, sampai profil pemain yang dibeli, pada akhirnya akan bertemu satu pertanyaan: cocok atau tidak dengan Guardiola. Karena itulah, ketika muncul laporan bahwa sejumlah petinggi City justru mempersiapkan proyek Vinicius untuk era setelah Guardiola, banyak orang langsung membaca satu pesan tersirat: City sedang menyusun jembatan menuju rezim baru, bahkan sebelum rezim lama menutup pintu.
“Kalau rumor ini benar, saya melihat City bukan sedang belanja pemain. Mereka sedang belanja simbol. Vinicius bukan sekadar tambahan gol, dia pernyataan bahwa era berikutnya harus tetap garang.”
Kenapa Vinicius Dihubungkan dengan City Saat Nama Guardiola Ikut Disebut
Ada dua lapis cerita dalam rumor ini. Lapis pertama adalah kualitas Vinicius. Ia tipe pemain yang bisa mengubah arah pertandingan sendirian, dengan akselerasi, duel satu lawan satu, dan kemampuan menciptakan peluang dari ruang sempit. Lapis kedua adalah soal waktu. City disebut menunggu momen ketika Guardiola tidak lagi memegang kendali tim, baru kemudian transfer sebesar ini dianggap tidak akan menabrak preferensi taktik pelatih.
Di beberapa laporan, disebut ada figur di internal City yang sangat tertarik pada kemungkinan mendatangkan Vinicius, tetapi ini bukan agenda utama Guardiola saat ini. Yang menarik, rencana itu malah dikaitkan dengan antisipasi Guardiola pergi di akhir musim atau menjelang berakhirnya kontrak.
Kontrak Guardiola dan rumor soal jeda karier
Guardiola masih punya kontrak, dan spekulasi biasanya muncul setiap kali ia memberi sinyal soal kelelahan atau kebutuhan rehat. Ia pernah menyampaikan ke media bahwa setelah kontraknya berakhir, ia ingin berhenti sejenak. Kalimat seperti ini selalu memantik pasar untuk menebak, kapan tepatnya berhenti itu terjadi.
Di sisi lain, Guardiola juga tetap bekerja dengan City dalam tekanan kalender yang padat, sambil mendorong tim mengejar persaingan gelar. Bahkan jelang laga liga terbaru, ia menekankan pentingnya jeda singkat untuk menyegarkan fisik dan pikiran pemain. Ini memperlihatkan musim City bukan sedang santai, sehingga wajar jika klub sekaligus menyiapkan rencana jangka lebih panjang.
Mengapa rumor menunggu Guardiola terasa masuk akal
Vinicius bukan pemain yang netral. Ia punya karakter permainan yang sangat spesifik: dominan dari sisi kiri, suka menerima bola di ruang lebar, lalu menyerang bek dengan kecepatan. Guardiola biasanya menyukai winger yang disiplin posisi, kuat dalam kombinasi, dan ikut mengontrol tempo. Vinicius bisa melakukan itu, tapi gaya eksplosifnya sering menuntut kebebasan yang lebih besar.
Maka, masuk akal bila sebagian petinggi klub memandang Vinicius sebagai wajah era baru, bukan proyek yang harus langsung disesuaikan dengan pola Guardiola.
Alasan City berani memikirkan Vinicius
Kalau City benar benar mengarah ke Vinicius, ini bukan cuma soal mencari pengganti pemain sayap, tapi menambah dimensi. City era Guardiola identik dengan dominasi dan kontrol. Di beberapa pertandingan, mereka tetap membutuhkan satu hal yang paling mahal di sepak bola modern: kecepatan murni yang bisa mematahkan blok rendah tanpa harus menunggu celah terbuka.
Vinicius memberi dua ancaman sekaligus. Ia bisa mengantar bola ke kotak penalti lewat tusukan, dan ia juga memaksa lawan menggeser garis pertahanan lebih dalam. Itu membuat ruang di half space lebih longgar, dan City sangat suka ruang itu.
Profil Vinicius dan situasi kontrak yang jadi celah spekulasi
Vinicius meneken kontrak Real Madrid hingga 2027. Fakta ini justru membuka dua jenis rumor. Pertama, jalur transfer dengan biaya besar sebelum kontrak habis. Kedua, skenario lebih sunyi yaitu menunggu sampai mendekati akhir kontrak agar negosiasi jadi lebih terbuka.
Namun Real juga tidak diam. Dalam wawancara tahun lalu, Vinicius sempat menyatakan dirinya bahagia di Real dan ingin memperpanjang kontrak sesegera mungkin. Pernyataan seperti ini biasanya dipakai Real untuk menenangkan publik, sekaligus mengirim sinyal bahwa klub tidak mudah digoyang.
Mengapa City tidak sekadar beli bintang tanpa hitung hitungan
Manchester City adalah klub yang selama bertahun tahun membeli pemain bintang, tapi mereka jarang membeli pemain yang tidak cocok dengan pola. Itulah ciri yang membuat rumor Vinicius terasa unik. Jika benar mereka menunggu Guardiola pergi, berarti transfer ini dianggap terlalu besar untuk dipaksakan dalam sistem yang belum tentu memberi Vinicius kebebasan maksimal.
Di level elite, ini bukan soal siapa lebih hebat. Ini soal ruang yang disediakan tim untuk membuat pemain itu jadi versi terbaiknya.
Era pasca Guardiola butuh wajah baru
Setiap era besar selalu punya ikon. Guardiola punya De Bruyne, punya berbagai mesin pengontrol tempo, dan struktur permainan yang rapat. Ketika era itu mendekati akhir, klub akan mencari simbol yang membuat publik percaya bahwa City tetap menakutkan.
Vinicius adalah simbol yang mudah dijual tanpa banyak kata. Ia terkenal, ia efektif, dan ia punya gaya yang menghibur. Bahkan dari sisi komersial, wajah seperti ini adalah investasi yang terasa langsung.
Real Madrid bukan klub yang gampang membuka pintu
Di sisi seberang, Real Madrid punya cara kerja sendiri. Mereka bisa melepas pemain, tapi biasanya dengan harga yang sesuai kehendak mereka, kecuali pemain yang kontraknya benar benar berada di ujung. Maka bila City ingin Vinicius sebelum 2027, mereka harus siap dengan negosiasi yang sangat keras.
Karena itu, sebagian laporan menautkan rencana City dengan waktu, bukan hanya uang. Menunggu momen yang tepat bisa mengubah posisi tawar secara drastis.
City saat ini masih kuat, tapi kebutuhan sayap selalu berubah
Musim ini City tetap menunjukkan daya saing tinggi. Mereka bahkan sedang dalam laju kemenangan, dan Guardiola bicara soal pentingnya menjaga kebugaran mental pemain di tengah jadwal padat.
Salah satu bukti bahwa City masih punya ketajaman adalah kemenangan 2 1 atas Newcastle pada 21 Februari 2026, laga yang juga memperlihatkan City bisa menang dengan cara yang tidak selalu halus, karena mereka harus bertahan di menit akhir.
Statistik pertandingan Manchester City vs Newcastle
| Statistik | Manchester City | Newcastle |
|---|---|---|
| Skor | 2 | 1 |
| Penguasaan bola | 54.8% | 45.2% |
| Tembakan tepat sasaran | 7 | 7 |
| Total tembakan | 15 | 13 |
Angka ini memberi gambaran sederhana: City tetap mampu mengontrol, tapi lawan juga tetap bisa menciptakan ancaman. Dalam laga seperti ini, pemain sayap dengan kemampuan memecah duel satu lawan satu bisa menjadi jalan cepat untuk mengunci pertandingan lebih awal.
Bagaimana Vinicius akan mengubah City
Jika Vinicius benar datang, City akan punya senjata yang selama ini sering dicari klub dominan: pelari sayap yang tidak harus menunggu skema sempurna. Ia bisa menerima bola dalam kondisi tidak ideal, lalu menciptakan situasi ideal dengan kecepatannya sendiri.
Kombinasi dengan Haaland yang membuat lawan pusing
Di City, duet impian yang mudah dibayangkan adalah Vinicius sebagai penyedia chaos dari kiri, dan Haaland sebagai penghukum di kotak penalti. Vinicius suka mengirim bola datar ke area berbahaya, dan Haaland sangat kuat menyerang ruang itu.
Kombinasi ini juga memaksa bek lawan membuat pilihan sulit. Menutup Vinicius berarti fullback butuh bantuan, dan itu membuka ruang untuk gelandang City masuk. Membiarkan Vinicius berduel berarti risiko langsung terbuka.
Harga yang bukan cuma uang, tapi juga struktur tim
Namun City juga harus memikirkan struktur. Vinicius butuh ruang, dan tim yang memberinya ruang biasanya harus menyesuaikan sisi seberang, posisi gelandang, sampai cara fullback naik. Inilah alasan rumor menunggu Guardiola pergi terasa relevan, karena pelatih baru bisa membangun struktur dengan Vinicius sebagai titik awal, bukan sebagai tambahan.
Real Madrid, Vinicius, dan permainan negosiasi
Di Madrid, Vinicius bukan sekadar pemain inti. Ia ikon, ia simbol generasi, dan ia aset yang punya nilai politik di ruang ganti. Karena itu, rumor soal kepergian selalu memancing reaksi.
Satu sisi, ada sinyal dari Vinicius bahwa ia bahagia dan ingin bertahan. Sisi lain, ada pembahasan media soal berbagai opsi jika kontraknya tidak cepat diperpanjang, termasuk kemungkinan pergi gratis pada 2027.
Dua sisi ini yang membuat pasar selalu punya ruang berimajinasi.
Kenapa rumor ini tetap akan panas meski belum ada tawaran resmi
Sepak bola modern hidup dari dua hal: informasi dan tebakan. Dalam rumor City dan Vinicius, ada bahan yang membuatnya terus menyala.

Pertama, ada timeline yang jelas. Kontrak Vinicius sampai 2027.
Kedua, ada isu tentang masa kerja Guardiola yang selalu jadi bahan diskusi, apalagi ketika ia sendiri pernah bicara soal ingin rehat setelah kontrak berakhir.
Ketiga, ada laporan media yang menautkan rencana City mendekati Vinicius dengan periode setelah Guardiola.
Di luar itu, City juga sedang menatap fase penting kompetisi Eropa. Mereka akan kembali bertemu Real Madrid di fase gugur Liga Champions, memperpanjang rivalitas yang sudah berulang dari musim ke musim. Pertemuan seperti ini selalu membuat rumor transfer di antara dua kubu terasa makin bernyawa.