Tottenham Tinggal Empat Poin dari Jurang, Lebih Seram dari Arsenal yang Dibilang Tanpa Trofi?

Tottenham lagi tidak sedang “jelek biasa”. Ini fase yang bikin kipas angin ruang ganti berasa mati total, dan tiap pekan selalu ada bau krisis baru. Setelah dihajar Arsenal dengan skor 4:1 di derby London Utara, Spurs resmi berdiri cuma empat poin di atas zona degradasi. Angka itu bukan sekadar jarak, itu alarm yang bunyinya nyaring sepanjang minggu.

Sementara di sisi lain kota, Arsenal memimpin liga dan masih hidup di banyak jalur. Tapi ejekan klasik soal “tanpa trofi” tetap nongol, seolah satu musim tanpa piala lebih memalukan daripada klub besar yang tiba tiba harus belajar hidup di mode survival. Perbandingan ini yang bikin diskusi panas, dan Tottenham kebagian sorotan paling pedas.

Sebelum masuk ke bedahannya, satu hal perlu ditaruh di meja. Ketika sebuah tim sebesar Tottenham terjebak di posisi 16 dan masih belum menang di liga sepanjang 2026, itu bukan lagi soal “lagi sial”. Itu tanda sistemnya lagi bocor di banyak titik.

Empat poin dari zona merah itu bukan angka kecil, itu napas terakhir

Empat poin terdengar aman kalau konteksnya tim papan tengah yang stabil. Masalahnya Tottenham tidak stabil, dan jadwal sisa musim bukan cuma soal lawan, tapi soal kondisi mental tim yang sudah keburu retak.

Tottenham sekarang cuma empat poin di atas batas bawah aman setelah dipermalukan Arsenal. Ancaman degradasi bukan sesuatu yang bisa ditertawakan. Situasinya makin tajam karena performa terbaru mereka termasuk yang terburuk di liga, ditambah krisis cedera yang membuat opsi taktik terasa sempit.

Di papan klasemen, Arsenal masih di puncak. Di saat Arsenal bicara soal jarak dengan Manchester City, Tottenham justru menghitung jarak ke garis merah. Dua dunia yang beda, tapi ketemunya di satu kota dan satu derby, makanya rasa malunya berlipat.

Kenapa empat poin terasa makin tipis menjelang akhir musim

Kalau tersisa 30 pertandingan, empat poin bisa dikejar dengan satu rangkaian hasil. Tapi ketika sisa laga tinggal 11 dan tim sedang sulit menang, empat poin berubah jadi tali yang ditarik kencang.

Ada satu detail yang membuat semuanya lebih mencekam. Tottenham disebut belum meraih kemenangan liga sepanjang tahun 2026. Tim besar yang masuk tahun baru tanpa kemenangan liga, itu resep klasik buat panik kolektif.

Derby yang jadi cermin, Arsenal 4:1 Tottenham dan semua boroknya kebuka

Derby itu bukan cuma kalah. Cara kalahnya yang bikin Spurs terlihat seperti tim yang belum selesai dirakit, sementara Arsenal terlihat seperti tim yang tahu kapan harus ngebut dan kapan harus ngerem.

Arsenal menang 4:1, dengan Eberechi Eze dan Viktor Gyokeres sama sama mencetak dua gol. Tottenham sempat menyamakan, tapi setelah itu mereka seperti kehabisan akal.

Di angka angka, jaraknya lebih kejam daripada skor. Tottenham hampir tidak punya ancaman berarti dibanding Arsenal yang mendominasi peluang.

Statistik pertandingan Tottenham vs Arsenal

Berikut ringkasan statistik utama derby di Tottenham Hotspur Stadium.

StatistikTottenhamArsenal
Skor14
Penguasaan bola39.9%60.1%
Tembakan620
Tembakan tepat sasaran57
Expected goals (xG)0.762.07
Big chances06
Sepak pojok25

Kalau kamu Tottenham dan lawanmu membuat 6 big chances sementara kamu nol, itu bukan cerita “kurang beruntung”. Itu tanda kamu kalah kelas dalam kualitas serangan, progresi bola, dan posisi akhir.

Apa yang paling menyakitkan dari derby ini

Derby biasanya punya unsur emosi, bisa memutar logika. Tapi pertandingan ini malah rapi dari sisi Arsenal dan berantakan dari sisi Spurs.

Di level manajerial, ini juga jadi awal pahit era Igor Tudor. Dalam situasi baru, waktu persiapan mepet, dan tekanan langsung meledak di laga paling sensitif.

Tottenham lebih “mengerikan” dari Arsenal tanpa trofi, ini maksudnya

Kalimat “lebih mengerikan” di sini bukan soal siapa lebih besar. Ini soal jenis rasa sakitnya.

Arsenal bisa saja menjalani musim hebat tapi berakhir tanpa piala, lalu dicibir. Itu pedas, iya. Tapi itu pedas yang masih datang dari posisi atas. Mereka bersaing, mereka relevan, mereka di jalur juara.

Tottenham beda. Mereka sedang terancam kehilangan status. Degradasi itu bukan cuma hilang piala, itu mengubah semuanya: pemasukan, daya tarik pemain, suasana klub, sampai cara fans memandang identitas tim.

Perdebatan yang sering muncul justru sengaja memancing emosi. Apakah lebih memalukan Tottenham degradasi atau Arsenal gagal angkat piala. Dan lucunya, debat itu muncul karena Tottenham memang sedang benar benar dekat jurang.

Arsenal “tanpa trofi” itu ejekan yang tidak selalu akurat, tapi tetap nyolot

Kalau yang dimaksud trofi mayor, Arsenal pernah mengangkat FA Cup pada 2020 saat menang atas Chelsea.

Namun, Arsenal juga pernah menjuarai Community Shield pada 2023 setelah menghadapi Manchester City dan menang adu penalti. Ini bukan trofi yang semua orang anggap setara liga atau Eropa, tapi tetap piala resmi yang masuk lemari.

Namun, inti debatnya bukan soal “Arsenal punya piala atau tidak”. Intinya: bagi Tottenham, ancaman degradasi jauh lebih mengoyak daripada sekadar jadi bahan meme.

Kenapa Spurs bisa nyasar sampai posisi 16, masalahnya bukan satu dua orang

Kalau mencari kambing hitam tunggal, biasanya orang lari ke pelatih atau kapten. Tapi kasus Tottenham lebih mirip benang kusut. Banyak simpul, ditarik satu, yang lain tetap nyangkut.

Tottenham juga harus menghadapi kombinasi performa buruk dan krisis cedera. Di liga seketat Premier League, kehilangan beberapa pilar saja bisa membuat fondasi ambruk, apalagi kalau struktur timnya memang sedang rapuh.

Gejala yang terlihat di lapangan: serangan ada, tapi tajamnya hilang

Dalam derby, Tottenham hanya punya 6 tembakan sementara Arsenal 20. Bukan berarti Spurs tidak pernah masuk seceiga akhir, tapi begitu sampai area berbahaya, ide mereka mentok.

Ini pola yang sering muncul saat tim kehilangan mekanisme di area final. Bola bisa jalan, tapi keputusan terakhir selalu telat: umpan satu sentuhan yang harusnya cepat jadi dua sentuhan, gerak tanpa bola tidak sinkron, dan crossing jadi pilihan putus asa.

Tekanan mental: satu gol kebobolan terasa seperti dua

Ketika tim sedang ringkih, satu momen buruk mengubah seluruh wajah laga. Di derby, Spurs kebobolan beruntun di babak kedua dan terlihat seperti kehilangan pegangan.

Ini bukan cuma soal taktik, tapi soal percaya diri. Tim yang percaya diri kebobolan satu masih bisa balas. Tim yang ragu kebobolan satu langsung merasa pertandingan sudah selesai.

Jalan keluar Tottenham: bukan jurus ajaib, tapi keputusan yang tidak bisa telat

Membahas solusi Tottenham selalu bikin fans panas karena kedengarannya seperti ulang ulang: benahi struktur, perjelas peran, perbaiki disiplin, dan cari kemenangan satu dulu. Tapi justru karena terdengar klise, banyak klub gagal melakukannya.

Yang pasti, Tottenham butuh memutus rangkaian tanpa kemenangan di liga pada 2026 secepat mungkin. Bukan demi gaya, tapi demi menurunkan level kepanikan.

Bukan cuma menang, tapi menang dengan cara yang membuat ruang ganti percaya lagi

Kemenangan tipis bisa jadi awal, tapi Tottenham juga butuh tanda permainan mereka kembali punya bentuk. Minimal, garis pertahanan tidak panik, dan saat menyerang ada pola jelas: siapa yang jadi pemantul, siapa yang lari di half space, siapa yang isi kotak.

Kalau tidak, bahkan saat menang pun, rasa was was tetap tinggal.

Derby sudah lewat, tapi efeknya masih menempel

Kekalahan 4:1 dari rival membuat tekanan publik makin berat. Laga besar sering meninggalkan bekas yang mempengaruhi pertandingan berikutnya: sorakan jadi lebih cepat berubah jadi siulan, pemain jadi lebih ragu ambil risiko, dan tiap kesalahan kecil dibesar besarkan.

Tottenham tidak punya kemewahan untuk mengobati luka terlalu lama. Di zona ini, sepak bola berubah jadi hitungan sederhana: poin dulu, estetika belakangan.

Leave a Reply