Inter vs Bodø/Glimt Leg Kedua Memanas, San Siro Jadi Arena Balas Dendam Nerazzurri
Inter datang ke leg kedua play off Liga Champions 2025 2026 dengan beban sekaligus peluang. Kekalahan 1-3 di markas Bodø/Glimt pada leg pertama membuat wakil Italia itu wajib tampil jauh lebih tajam saat menjamu tim Norwegia di San Siro, Selasa 24 Februari 2026. Laga ini dijadwalkan berlangsung pukul 20.00 UTC di Giuseppe Meazza, Milan, dengan agregat sementara 1-3 untuk keunggulan Bodø/Glimt.
Situasinya jelas membuat tensi meningkat. Inter tidak hanya mengejar kemenangan, tetapi juga harus memburu selisih gol agar tiket ke babak 16 besar tetap terbuka. Di sisi lain, Bodø/Glimt datang dengan kepercayaan diri tinggi setelah mencetak kejutan besar pada pertemuan pertama. Reuters mencatat kemenangan itu memperpanjang kisah manis klub Norwegia tersebut di Liga Champions musim ini.
Kekalahan di Norwegia yang Mengubah Segalanya

Leg pertama di Aspmyra Stadion bukan sekadar hasil buruk bagi Inter, tetapi juga alarm keras. Bodø/Glimt menang 3-1 lewat gol Sondre Brunstad Fet, Jens Petter Hauge, dan Kasper Høgh, sementara Inter sempat menyamakan skor melalui Pio Esposito. Reuters menyoroti peran Høgh yang sangat penting karena menyumbang dua assist dan satu gol dalam laga tersebut.
Inter sebenarnya tidak sepenuhnya tampil pasif. Setelah jeda, mereka sempat mendominasi fase permainan dan menciptakan ancaman, termasuk peluang Lautaro Martinez yang mengenai tiang gawang serta upaya Carlos Augusto yang memaksa penyelamatan kiper Nikita Haikin. Namun, justru kesalahan defensif Inter yang kemudian membuka jalan bagi Bodø/Glimt untuk menghukum mereka dengan dua gol cepat pada babak kedua.
Itu sebabnya narasi leg kedua bukan hanya soal membalikkan agregat, tetapi juga soal bagaimana Inter memperbaiki detail permainan. Kekalahan di laga tandang memperlihatkan bahwa penguasaan bola saja tidak cukup ketika transisi bertahan rapuh dan konsentrasi menurun pada momen penting.
Pio Esposito dan Sinyal Positif yang Tertutup Kekalahan

Di tengah hasil buruk, Inter tetap membawa satu catatan positif dari leg pertama. Reuters menyebut Pio Esposito yang berusia 20 tahun mencetak gol penyeimbang dan menjadi pemain Italia termuda yang mencetak gol untuk Inter di fase gugur kompetisi ini. Itu menunjukkan Inter tetap punya sumber ancaman, termasuk dari pemain muda yang berani mengambil peran di laga besar.
Gol Esposito lahir dari pergerakan tajam di dalam kotak penalti setelah menerima bola terobosan. Momen itu penting karena sempat mengubah arah pertandingan dan memperlihatkan bahwa lini belakang Bodø/Glimt juga bisa ditembus jika Inter mampu meningkatkan kecepatan sirkulasi bola serta kualitas umpan vertikal.
Statistik Leg Pertama yang Menjelaskan Cerita Pertandingan
Jika melihat angka pertandingan, Inter sebenarnya unggul dalam beberapa aspek dasar, tetapi tetap kalah pada hal yang paling menentukan, yaitu efisiensi penyelesaian akhir dan ketegasan di momen transisi. Data pertandingan menampilkan gambaran yang cukup jelas untuk menjelaskan perbedaan tersebut.
Tabel Statistik Leg Pertama Bodø/Glimt vs Inter
| Statistik | Bodø/Glimt | Inter |
|---|---|---|
| Skor | 3 | 1 |
| Penguasaan bola | 42.4% | 57.6% |
| Tembakan tepat sasaran | 6 | 4 |
| Total percobaan tembakan | 8 | 15 |
| Kartu kuning | 1 | 1 |
| Sepak pojok | 3 | 3 |
| Penyelamatan kiper | 3 | 3 |
Angka di atas menunjukkan kontras yang sangat tajam. Inter melepaskan lebih banyak percobaan tembakan dan lebih unggul dalam penguasaan bola, tetapi Bodø/Glimt lebih efektif karena mampu mencatatkan lebih banyak tembakan tepat sasaran dengan jumlah percobaan yang lebih sedikit. Dalam duel seperti ini, efisiensi menjadi pembeda utama.
Bagi Inter, statistik tersebut bisa dibaca sebagai dua sisi. Sisi pertama, mereka tetap mampu membangun volume serangan dan mengontrol permainan. Sisi kedua, kualitas keputusan di area akhir serta perlindungan ruang saat kehilangan bola masih menjadi masalah besar. Kalau pola yang sama terulang di San Siro, risiko kebobolan dari serangan cepat Bodø/Glimt akan tetap tinggi.
San Siro dan Misi Balas Dendam yang Tidak Bisa Ditunda
Leg kedua kini bergeser ke San Siro, panggung yang secara psikologis menguntungkan Inter. Duel Inter kontra Bodø/Glimt dimainkan di San Siro atau Giuseppe Meazza, Milan, pada 24 Februari 2026 pukul 20.00 UTC. Agregat sementara 1 3 menegaskan besarnya pekerjaan rumah Inter malam ini.
Bermain di kandang membuat Inter punya peluang mengendalikan atmosfer sejak menit awal. Dukungan suporter, familiaritas lapangan, serta dorongan untuk menebus hasil leg pertama bisa mengangkat intensitas permainan mereka. Namun tekanan ini juga bisa berbalik menjadi beban jika Inter gagal mencetak gol cepat dan mulai frustrasi menghadapi blok pertahanan Bodø/Glimt.
Inter secara historis adalah klub besar Eropa dengan tiga gelar Piala Champions atau Liga Champions. Justru karena reputasi itulah leg kedua ini terasa sangat emosional, karena Inter dituntut menunjukkan reaksi tim besar setelah dipukul di laga pertama.
Target Inter Bukan Sekadar Menang
Dalam konteks agregat 1 3, kemenangan tipis tidak cukup. Inter membutuhkan margin yang pas untuk menyamakan atau membalikkan kedudukan, dan itu memengaruhi cara mereka menyusun laga sejak awal. Mereka harus agresif, tetapi tidak boleh membuka ruang terlalu lebar untuk diserang balik.
Ini yang membuat leg kedua terasa seperti pertandingan catur dengan tempo tinggi. Inter perlu menekan, sementara Bodø/Glimt bisa memanfaatkan keunggulan agregat untuk bermain lebih sabar dan menunggu momen. Setiap gol akan mengubah struktur pertandingan secara drastis, terutama jika tim tamu mampu mencetak satu gol yang akan membuat tugas Inter semakin berat.
Chivu Menyalakan Keyakinan, tetapi Ada Ujian Skuad
Menjelang leg kedua, pelatih Inter Cristian Chivu menyampaikan nada optimistis. Chivu menegaskan timnya masih bisa membalikkan defisit dua gol dan lolos ke 16 besar. Ia menekankan bahwa Inter harus tampil sebagai versi terbaik mereka jika ingin menjaga peluang.
Pernyataan itu penting secara psikologis karena Inter datang dari kekalahan yang mengguncang. Bahasa tubuh pelatih dan keyakinan yang ia tunjukkan dapat memengaruhi respons pemain sejak awal pertandingan. Chivu tampak berusaha menggeser fokus dari tekanan hasil menuju tanggung jawab performa, sebuah pendekatan yang sering dipakai untuk menjaga kejernihan tim di laga besar.
Namun Inter juga menghadapi persoalan personel. Inter akan bermain tanpa kapten Lautaro Martinez, sementara kondisi Hakan Calhanoglu belum mendapat pembaruan pasti karena sempat mengalami masalah otot dalam beberapa pekan terakhir. Jika situasi ini benar benar memengaruhi komposisi inti, maka kreativitas dan ketajaman Inter harus dicari dari pemain lain.
Absennya Lautaro Bisa Mengubah Pola Serangan
Tanpa Lautaro, Inter kehilangan satu titik referensi penting di lini depan, baik untuk penyelesaian akhir maupun kepemimpinan emosional di momen krusial. Lautaro sempat menjadi ancaman di leg pertama lewat peluang yang mengenai tiang, sehingga absennya sang kapten bisa terasa besar dalam duel penentuan seperti ini.
Konsekuensinya, Inter perlu mengoptimalkan dukungan gelandang dan wing back agar tekanan ke kotak penalti tetap konsisten. Mereka tidak bisa hanya mengandalkan satu jalur serangan. Variasi permainan menjadi kunci, terutama untuk membongkar organisasi Bodø/Glimt yang sudah terbukti mampu bertahan dan menyerang dengan disiplin dalam satu paket.
Bodø/Glimt Bukan Tim Kecil Biasa, Ini Mesin Kejutan yang Sudah Teruji
Salah satu kesalahan terbesar Inter jika meremehkan Bodø/Glimt hanya karena nama besar berbeda jauh. Tim Norwegia ini sebelumnya juga mengalahkan Manchester City 3 1 di fase liga dan bangkit untuk mengalahkan Atletico Madrid 2 1 demi mengamankan tempat di play off. Artinya, kemenangan atas Inter bukan kebetulan tunggal.
Perjalanan debut Bodø/Glimt di Liga Champions musim ini sangat mengejutkan, dengan kemenangan atas City dan Atletico menjadi bukti bahwa mereka mampu menghadapi lawan elite dengan keberanian serta pola main yang jelas. Tim ini sudah berkali kali menunjukkan mentalitas untuk tampil lepas di laga besar.
Karena itu, misi balas dendam Inter tidak akan berhasil hanya dengan reputasi dan dukungan kandang. Mereka harus benar benar menekan kualitas permainan Bodø/Glimt di area yang menjadi kekuatan tim Norwegia tersebut, terutama transisi menyerang, kerja sama antarlini, dan efektivitas di sepertiga akhir. Leg pertama sudah menunjukkan bagaimana Bodø/Glimt menghukum kelengahan Inter.
Kasper Høgh dan Jens Petter Hauge Wajib Diawasi Ketat
Nama yang paling menonjol dari leg pertama adalah Kasper Høgh. Ia terlibat langsung besar dalam kemenangan lewat dua assist dan satu gol. Høgh bukan hanya eksekutor, tetapi juga penghubung serangan yang mampu membaca ruang dan mengambil keputusan cepat.
Jens Petter Hauge juga layak mendapat sorotan karena golnya di babak kedua menjadi titik balik yang membuat Inter goyah. Kombinasi Høgh dan Hauge memperlihatkan bahwa Bodø/Glimt punya kualitas untuk memanfaatkan ruang kecil, terutama saat lawan terlalu agresif menumpuk pemain di depan. Inter harus menjaga jarak antarlini agar tidak kembali dihukum dengan pola serupa.
Jalur Laga yang Mungkin Terjadi di Leg Kedua
Melihat agregat dan konteks kandang tandang, ada beberapa pola pertandingan yang sangat mungkin muncul. Skenario pertama, Inter langsung menekan sejak menit awal untuk mencari gol cepat. Ini logis karena gol awal akan mengubah atmosfer, menambah keyakinan tuan rumah, dan menekan mental Bodø/Glimt. Inter sempat menunjukkan fase dominan pada leg pertama, jadi dorongan awal di San Siro kemungkinan lebih kuat lagi.
Skenario kedua, Bodø/Glimt memilih blok menengah dan menunggu momentum serangan balik. Dengan keunggulan agregat dua gol, mereka tidak harus memaksakan permainan terbuka. Jika Inter terlalu cepat kehilangan keseimbangan, Bodø/Glimt punya cukup bukti kualitas untuk mencetak gol dari peluang yang lebih sedikit tetapi lebih bersih. Statistik leg pertama mendukung pembacaan ini karena mereka lebih efisien dalam tembakan tepat sasaran.
Skenario ketiga, laga berjalan sangat emosional dan ditentukan oleh detail kecil seperti bola mati, kesalahan individual, atau keputusan pergantian pemain. Pada pertandingan dengan tensi tinggi dan target agregat yang ketat, satu momen bisa menggeser ritme total pertandingan. Itulah mengapa Inter harus tampil agresif sekaligus tenang dalam eksekusi.
Pertarungan Mental Sama Pentingnya dengan Taktik
Inter masuk lapangan dengan tuntutan untuk membalas kekalahan dan menjaga gengsi sebagai klub besar. Bodø/Glimt masuk dengan semangat giant killer yang justru membuat mereka bisa bermain tanpa beban berlebihan. Dua kondisi mental yang bertolak belakang ini akan membentuk tempo pertandingan sejak awal.
Chivu sendiri menekankan pentingnya keyakinan tim menjelang laga, dan pesan itu menunjukkan bahwa aspek mental memang sedang menjadi perhatian utama di kubu Inter. Mereka tidak hanya perlu menyusun rencana menyerang, tetapi juga menjaga stabilitas emosi jika pertandingan tidak berjalan sesuai harapan pada 15 sampai 20 menit pertama.
Implikasi Laga untuk Babak Berikutnya
Leg kedua ini juga punya konsekuensi besar untuk peta babak 16 besar. Pemenang duel Inter melawan Bodø/Glimt akan menghadapi Manchester City atau Sporting CP pada fase berikutnya. Artinya, siapa pun yang lolos dari partai ini akan langsung menghadapi tantangan berat lain di ronde selanjutnya.
Bagi Inter, lolos dari situasi sulit ini bisa menjadi titik balik moral yang sangat besar untuk kampanye Eropa mereka. Sebaliknya, bagi Bodø/Glimt, jika berhasil mempertahankan keunggulan di San Siro, itu akan menjadi satu lagi pernyataan keras bahwa mereka memang pantas diperhitungkan di level tertinggi. Leg kedua bisa menjadi bab paling bersejarah berikutnya bagi tim Norwegia tersebut.
Yang pasti, laga di San Siro bukan lagi sekadar formalitas leg kedua. Ini adalah duel harga diri, duel efektivitas, dan duel keberanian membaca momen. Inter memburu balas dendam di depan publik sendiri, sementara Bodø/Glimt datang membawa keyakinan bahwa kejutan lain masih mungkin terjadi.