Manchester United Kena Tolak Lagi, Setelah Tuchel, Siapa Kandidat yang Realistis
Manchester United kembali merasakan pahitnya bursa pelatih. Setelah nama Thomas Tuchel sempat dikaitkan kuat sebagai opsi elite, pintu itu resmi tertutup. Tuchel memilih memperpanjang masa baktinya bersama Timnas Inggris sampai Euro 2028, sebuah keputusan yang sekaligus mengirim sinyal tegas bahwa ia belum ingin kembali ke panasnya sepak bola klub dalam waktu dekat.
Buat United, ini bukan sekadar kehilangan satu nama besar. Ini memperpanjang kesan bahwa pekerjaan di Old Trafford sedang berada pada fase paling sulit: bukan cuma soal mencari pelatih bagus, tetapi mencari pelatih bagus yang mau masuk ke proyek yang masih berantakan, dengan ekspektasi raksasa dan tekanan harian yang tidak pernah turun.
Tuchel Memilih Inggris, United Kembali Menghitung Ulang
Keputusan Tuchel memperpanjang kontrak datang lewat pernyataan resmi federasi dan diperkuat laporan media besar di Inggris. Dalam periode rumor, Tuchel memang terus dikaitkan dengan beberapa klub, termasuk Manchester United, tetapi pada akhirnya ia menegaskan komitmen untuk membawa Inggris melewati Piala Dunia 2026 dan menargetkan Euro 2028.

Bagi United, narasinya otomatis berubah. Dari yang sempat berharap mendapat pelatih top dengan pengalaman Liga Champions, kini mereka harus kembali ke papan tulis.
Kenapa penolakan Tuchel terasa lebih menyakitkan
Tuchel bukan sekadar kandidat populer di kalangan fans. Ia dianggap tipe pelatih yang punya kombinasi langka: struktur taktik yang rapi, mental kompetisi, dan pengalaman mengelola ruang ganti bintang.
Ketika nama sebesar itu memilih jalur lain, United kembali berhadapan dengan pertanyaan lama: apakah kursi Old Trafford masih semenarik dulu untuk pelatih kelas elite, atau justru sudah jadi pekerjaan yang membuat orang berpikir dua kali.
“Kini Siapa Lagi” dan Kenyataan: Banyak Nama, Sedikit yang Benar Benar Terjangkau
Di luar Tuchel, daftar nama yang pernah disebut seputar pencarian pelatih United cukup panjang. Ada nama pelatih muda yang sedang naik, ada nama pelatih mapan, ada juga nama yang identik dengan tim nasional.
Masalahnya, menyebut nama itu mudah. Membawa mereka ke Old Trafford adalah cerita yang berbeda.
Kandidat kelas atas yang kemungkinan sulit ditarik
Ada tipe kandidat yang secara nama mengkilap, tetapi secara realitas sangat rumit.
Nagelsmann dan Luis Enrique
Nama seperti Nagelsmann atau Luis Enrique sering muncul dalam obrolan analis sebagai profil yang cocok untuk klub sebesar United.
Namun kategori ini biasanya punya hambatan klasik: kontrak, proyek yang sedang berjalan, dan kontrol penuh yang biasanya mereka minta. United saat ini sedang berada pada fase di mana pelatih baru pasti akan menuntut kuasa besar atas struktur tim. Tidak semua klub siap memberi itu.
Xavi Hernandez
Xavi juga sempat masuk bursa pembicaraan. Secara gaya, Xavi identik dengan penguasaan bola dan struktur posisi. Tetapi di Premier League, tuntutan fisik dan tempo bisa jadi ujian tambahan. Ditambah lagi, Xavi biasanya ingin skuad yang sesuai dengan prinsipnya, bukan skuad yang tambal sulam.
Kandidat realistis yang bisa jadi jalan tengah
Ketika pintu kandidat super elite tertutup, klub besar biasanya mengarah ke dua tipe lain: pelatih yang sedang naik daun, atau pelatih yang dinilai bisa menstabilkan tim.
Oliver Glasner
Glasner sering dilihat sebagai pelatih yang pragmatis tapi modern, mampu membentuk tim dengan intensitas dan transisi cepat. Untuk United yang sering rapuh saat kehilangan bola, profil seperti ini terasa cocok.
Gareth Southgate
Kelebihannya ada pada manajemen ruang ganti dan kestabilan. Kekurangannya, ia hampir pasti akan diuji keras soal ide taktik di level klub, apalagi di United yang semua hal dibedah setiap hari.
Enzo Maresca
Jika benar United tertarik pada profil ini, artinya mereka mempertimbangkan pelatih dengan ide permainan yang jelas dan berani. Tetapi pelatih tipe ini biasanya butuh waktu, sementara United sedang berada pada mode yang tidak sabar.
Faktor yang Membuat Banyak Kandidat Ragu: Ini Bukan Sekadar Gaji
Kalau cuma soal uang, United tidak akan kekurangan daya tarik. Hambatan utamanya adalah paket pekerjaan yang ikut datang.
Tekanan harian dan siklus panik
Di klub seperti United, dua hasil buruk bisa mengubah suasana klub. Tekanan media, tekanan legenda klub, tekanan suporter, semuanya berlapis.
Pelatih top pun akan menghitung risikonya. Jika mereka merasa struktur klub belum stabil, mereka akan memilih proyek lain yang lebih tenang.
Struktur skuad yang butuh bedah, bukan tambal
United punya masalah yang terasa berulang: konsistensi permainan. Ada pertandingan di mana mereka terlihat dominan, lalu ada pertandingan di mana mereka seperti kehilangan arah.
Pelatih baru akan dituntut memperbaiki itu, tetapi juga dituntut menang cepat. Dua tuntutan yang sering saling bertabrakan.
Statistik yang Menunjukkan Masalah United Masih Nyata
Untuk membaca konteks performa, kita bisa melihat salah satu pertandingan liga yang baru baru ini: Manchester United vs Tottenham Hotspur. Dalam laga itu, United menang 2 0, tetapi data pertandingan memberi gambaran soal karakter permainan mereka: dominan bola, banyak tembakan, namun tetap butuh efisiensi.
Berikut statistik pertandingan dalam tabel.
| Statistik | Manchester United | Tottenham |
|---|---|---|
| Penguasaan bola | 65.2% | 34.8% |
| Expected goals | 1.78 | 0.49 |
| Total tembakan | 23 | 7 |
| Tembakan tepat sasaran | 10 | 1 |
| Umpan sukses | 649 | 273 |
Angka ini menampilkan sisi positif United: mereka bisa mengontrol laga dan menciptakan peluang. Tapi di level musim penuh, tantangannya adalah membuat standar seperti ini muncul setiap pekan, bukan hanya di laga tertentu. Pelatih baru akan dinilai dari kemampuan menjadikan performa dominan sebagai kebiasaan, bukan pengecualian.
Jadi, “Setelah Tuchel, Kini Siapa Lagi”
Jika pertanyaannya adalah siapa yang paling mungkin, jawabannya bukan satu nama. Jawabannya adalah kategori.
Opsi satu: pelatih mapan yang bisa menenangkan klub
Nama seperti Southgate atau Glasner masuk ke kategori ini. Mereka bukan pilihan glamor seperti Tuchel, tetapi punya peluang lebih realistis karena tidak selalu terikat proyek super elite yang sulit diganggu.
Opsi dua: pelatih ideolog yang butuh waktu
Jika United ingin benar benar berubah, mereka bisa mengejar profil seperti Maresca atau Xavi. Tetapi konsekuensinya jelas: harus ada dukungan penuh dan kesabaran nyata.
Opsi tiga: mempertahankan solusi internal lebih lama

Di banyak klub besar, saat kandidat top menolak, opsi lanjut dengan yang ada sampai musim selesai sering menjadi jalan aman sambil menata ulang proses rekrutmen.
Yang pasti, penolakan Tuchel membuat United tidak bisa lagi bersembunyi di balik rumor. Mereka harus memilih: cari nama besar berikutnya dengan risiko ditolak lagi, atau beralih ke kandidat yang lebih realistis namun mungkin memancing perdebatan baru di kalangan fans.