Anak Asuh Grosso Menggila, Inter Hancurkan Sassuolo 5-0 di Mapei Stadium

Inter Milan datang ke markas Sassuolo tanpa banyak basa basi. Di Mapei Stadium, Reggio Emilia, Nerazzurri membuat tuan rumah seperti kehilangan pegangan sejak menit awal, lalu menutup laga dengan kemenangan telak lima gol tanpa balas yang terasa kejam. Federico Dimarco jadi pusat cerita, bukan hanya karena energinya di sisi kiri, tetapi karena tiga assistnya yang memecah pertahanan Sassuolo menjadi kepingan kecil.

Sassuolo sebenarnya sempat memberi sinyal berbahaya di detik detik pertama, namun Inter justru terlihat makin percaya diri setelah lolos dari momen itu. Ketika permainan mulai stabil, Inter mengunci bola, menaikkan tempo, dan menyerang dengan pola yang rapi. Skor 0-5 bukan sekadar kebetulan hari buruk, melainkan gambaran betapa Inter mengontrol ruang, duel, dan momentum sampai peluit akhir.

Statistik pertandingan yang bicara keras

Angka angka di bawah ini menjelaskan mengapa Sassuolo seperti terseret arus. Inter menang penguasaan bola, menang jumlah tembakan, dan lebih tajam dalam mengubah situasi menjadi peluang nyata. Sassuolo memang punya beberapa momen, tetapi terlalu sedikit untuk mengubah arah cerita.

StatistikSassuoloInter
Skor akhir05
Penguasaan bola37.9%62.1%
Tembakan tepat sasaran211
Total tembakan723
Sepak pojok56
Penyelamatan kiper41
Kartu kuning11
Kartu merah10

Babak pertama: Inter menancap gas, Sassuolo tersandera ritme

Inter tidak menunggu lama untuk menancapkan dominasi. Kuncinya ada pada dua hal: sirkulasi bola yang sabar di tengah dan serangan sisi kiri yang terus menerus memaksa fullback Sassuolo mundur. Dimarco berkali kali menerima bola dengan posisi tubuh yang sudah siap mengirim umpan, sementara rekan rekannya mengisi kotak penalti dengan timing yang rapi.

Sassuolo sempat hampir mencuri gol pada awal laga, tetapi upaya itu dipatahkan oleh aksi bertahan Dimarco yang menyapu bola di garis. Momen ini penting karena setelah itu Inter seperti berkata, baik, sekarang giliran kami.

Gol pertama: Bisseck membuka pintu lewat bola mati

Menit 11 menjadi awal petaka bagi tuan rumah. Dari situasi sepak pojok, Dimarco mengirim bola yang presisi dan Yann Bisseck menuntaskannya dengan sundulan. Ini bukan hanya gol pembuka, tetapi juga pesan bahwa Inter siap menghukum detail kecil, termasuk set piece yang sering dianggap remeh.

Sesudah gol itu, Sassuolo seperti bermain dengan beban tambahan. Mereka harus memilih: mengejar dan membuka ruang, atau bertahan dan menerima tekanan. Inter membuat pilihan itu terasa sama sama menyakitkan.

Gol kedua: Dimarco menemukan Thuram dengan umpan rendah mematikan

Menit 28, Inter menggandakan keunggulan melalui Marcus Thuram. Lagi lagi Dimarco jadi arsitek, kali ini lewat umpan rendah dari sisi kiri yang tepat mengenai jalur lari penyerang. Penyelesaian Thuram terlihat sederhana, tetapi kesederhanaan itu lahir dari gerakan yang sangat terukur.

Di fase ini, Inter tampak sangat nyaman: bek mereka berani naik, gelandang menjaga jarak antar lini, dan para penyerang menekan dengan disiplin. Sassuolo dipaksa melakukan clearance cepat, lalu mengulang siklus yang sama.

Gol Sassuolo dianulir: VAR meredam harapan

Sassuolo sempat mengira mereka mendapat jalur kembali ke pertandingan saat bola masuk melalui Kristian Thorstvedt. Namun gol itu dianulir karena offside. Bagi tuan rumah, ini seperti pintu yang sempat terbuka sepersekian detik, lalu ditutup rapat.

Awal babak kedua: dua pukulan cepat yang membuat Sassuolo roboh

Jika babak pertama adalah periode Inter membangun pondasi, maka awal babak kedua adalah sesi penghancuran. Dalam rentang beberapa menit, Inter menambah dua gol, mengubah skor menjadi 0 4, dan membuat stadion terasa hening.

Inter memulai babak kedua dengan intensitas yang sama, bahkan lebih tinggi. Mereka menekan lebih cepat setelah kehilangan bola dan mempercepat progresi bola ke area berbahaya. Sassuolo belum sempat menata ulang bentuk bertahan, sudah keburu diserang dari berbagai arah.

Gol ketiga: Lautaro menyelesaikan serangan langsung

Menit 50, Lautaro Martinez mencetak gol ketiga. Prosesnya berawal dari situasi yang membuat pertahanan Sassuolo kehilangan struktur, lalu Lautaro menuntaskan dengan tembakan rendah yang tegas. Setelah gol ini, ekspresi pemain Sassuolo terlihat jelas: mereka tahu jalan pulang makin jauh.

Lautaro sendiri seusai laga menyoroti kualitas Dimarco, menyebutnya sedang berada di level yang bisa mendominasi pertandingan. Kalimat itu terasa pas, karena Inter benar benar punya tombol kontrol di kaki Dimarco malam itu.

Gol keempat: Akanji, Dimarco, dan set piece yang kembali menggigit

Tiga menit berselang, menit 53, Manuel Akanji menambah gol keempat lewat sundulan, lagi lagi dari umpan sepak pojok Dimarco. Ini adalah pola yang sama, tetapi Sassuolo tidak mampu menemukan jawaban. Ketika situasi bola mati berulang, Inter tidak hanya mengandalkan tinggi badan, mereka juga mengandalkan penempatan dan blocking yang rapi untuk membuka jalur sundulan.

Di titik ini, pertandingan praktis sudah selesai. Tetapi Inter belum mau menurunkan tempo, dan Sassuolo makin frustrasi.

Titik balik emosi: kartu merah Matic dan pertandingan yang makin berat sebelah

Saat tim sedang tertinggal jauh, emosi biasanya ikut naik. Itulah yang terjadi pada Sassuolo. Nemanja Matic menerima kartu kuning kedua dan berujung kartu merah karena protes, membuat tuan rumah bermain dengan sepuluh pemain. Dalam kondisi sudah tertinggal empat gol, kehilangan satu pemain adalah hukuman ganda.

Setelah kartu merah, bentuk pertahanan Sassuolo semakin renggang. Mereka cenderung turun terlalu dalam, tetapi tidak punya tekanan awal untuk menghentikan umpan umpan Inter. Hasilnya adalah satu arah: Inter memutar bola, menunggu celah, lalu masuk.

“Kalau ada pertandingan yang terasa seperti sesi latihan level tinggi, ya ini. Inter terlihat tenang, tapi tetap lapar. Itu kombinasi yang bikin lawan cepat habis.”

Gol kelima: Luis Henrique menutup pesta, Inter kian percaya diri

Inter akhirnya menambah gol kelima pada menit 88 melalui Luis Henrique, tembakan dari tepi kotak penalti yang mengunci skor 0 5. Gol di menit akhir seperti ini biasanya terasa bonus, tetapi dalam konteks persaingan papan atas, bonus sering berarti sinyal: Inter tidak ingin sekadar menang, mereka ingin menang dengan cara yang meyakinkan.

Apa arti kemenangan ini untuk Inter dan apa yang harus dibenahi Sassuolo

Inter pulang dengan tiga poin, lima gol, dan penampilan yang memberi rasa aman bagi pendukungnya. Dari sisi permainan, kemenangan ini memperlihatkan Inter punya banyak cara untuk mencetak gol: bola mati, crossing rendah, transisi cepat, sampai tembakan dari luar kotak. Dimarco menjadi ikon laga, tetapi yang paling mengesankan adalah betapa sistem Inter membuat para pemainnya selalu punya opsi.

Sassuolo, sebaliknya, perlu mengevaluasi dua area yang terlihat paling rapuh pada laga ini. Pertama, pertahanan bola mati yang terlalu mudah dibobol, terutama ketika lawan punya pengirim bola sekelas Dimarco. Kedua, kontrol emosi saat pertandingan tidak berjalan sesuai rencana, karena kartu merah di tengah situasi sulit hanya mempercepat keruntuhan.

Pertandingan ini akan lama diingat pendukung Sassuolo sebagai malam yang berat, sementara bagi Inter, ini adalah pesan keras ke seluruh Serie A: ketika mereka menemukan ritme, mereka bisa membuat siapa pun terlihat kecil.

Leave a Reply