Kalulu Jadi Penyelamat, Juventus Tahan Lazio 2-2 di Allianz Stadium
Juventus nyaris menelan malam pahit di kandang sendiri, tetapi sebuah sundulan di detik paling akhir mengubah segalanya. Di Allianz Stadium, Turin, Juventus bangkit dari ketertinggalan dua gol untuk memaksa Lazio berbagi angka, berakhir imbang 2-2, dengan Pierre Kalulu menyamakan skor pada menit 90 tambah 6.
“Kalau ada satu hal yang terasa khas Juventus, itu momen ketika laga seperti sudah habis, lalu tiba tiba ada satu kepala, satu bola, satu teriakan stadion yang menyelamatkan malam,”
Juventus Menguasai Bola, Lazio Menyengat di Waktu yang Tepat

Sejak sepak mula, Juventus tampil menekan. Mereka memutar bola cukup lama di area Lazio, menempatkan banyak pemain di sepertiga akhir, dan memaksa lawan bertahan rapat. Penguasaan bola tinggi membuat Juventus terlihat mengendalikan jalannya pertandingan, tetapi kontrol seperti ini juga punya risiko ketika bola hilang pada area yang salah.
Lazio membaca itu dengan sabar. Mereka tidak terpancing untuk adu terbuka terlalu lama. Mereka menunggu momen untuk mencuri bola, lalu melepas serangan cepat yang langsung mengarah ke area paling berbahaya di depan gawang.
Bentuk Awal yang Membuat Juventus Punya Banyak Jalur Serangan
Juventus memulai laga dengan struktur 3 4 2 1, sementara Lazio memilih 4 3 3. Struktur ini membuat Juventus punya banyak jalur serangan dari sayap, terutama lewat Andrea Cambiaso yang rajin naik dan berani mengambil risiko mengirim bola ke kotak penalti. Di belakang penyerang, dua pemain kreatif Juventus beberapa kali bergerak melebar untuk membuka ruang, lalu masuk lagi ke half space untuk menjemput bola.
Dominasi itu terasa nyata. Juventus bisa menekan lebih tinggi, merebut bola lebih cepat, lalu menyerang lagi. Namun dominasi tidak selalu setara dengan keunggulan, apalagi ketika finishing tidak segera hadir.
Provedel Mengawali Malam dengan Aksi Aksi Penyelamatan
Pada fase awal, Juventus sempat mengancam dari beberapa situasi, termasuk bola silang dan sundulan. Sejumlah bola yang mengarah ke gawang membuat kiper Lazio, Ivan Provedel, mulai sibuk sejak dini. Ada momen ketika Juventus terasa hanya butuh satu sentuhan bersih untuk mengubah pertandingan, tetapi Lazio bertahan cukup rapat untuk membuat sentuhan terakhir itu tidak nyaman.
Di titik ini, Juventus terlihat lebih dekat ke gol. Tetapi sepak bola sering kali tidak menghukum tim yang membuang peluang, ia malah memberi hadiah pada tim yang lebih klinis.
Gol Pertama Lazio: Satu Kesalahan, Satu Defleksi, Satu Keunggulan
Menjelang turun minum, ketika laga terasa akan berakhir tanpa gol di babak pertama, Juventus justru terpeleset. Lazio memanfaatkan momen transisi, bola direbut, lalu mengalir cepat ke Pedro. Tembakannya kemudian berbelok arah dan masuk, membuat Juventus tertinggal pada menit 45 tambah 2.
Gol ini penting bukan hanya karena membuat Lazio unggul, tetapi juga karena mengubah emosi stadion. Juventus yang dominan justru masuk ruang ganti dalam kondisi tertinggal, sementara Lazio mendapatkan rasa percaya diri yang biasanya sulit didapat ketika bermain tandang di Turin.
Bola Hilang di Tengah, Lazio Langsung Menghukum
Rangkaian kejadian itu terasa sederhana tetapi mematikan. Juventus kehilangan bola pada area yang seharusnya aman, Lazio langsung memindahkan arah serangan, dan Pedro memanfaatkan ruang dengan cepat. Defleksi membuat bola berubah arah, dan pada saat seperti itu, kiper sering kali hanya bisa bereaksi terlambat.
Bagi Juventus, kebobolan seperti ini rasanya menyakitkan karena ia muncul di momen ketika kontrol permainan sudah mulai terasa. Tetapi babak kedua justru memberi luka yang lebih dalam.
Babak Kedua Baru Mulai, Lazio Tambah Luka Juventus

Belum sempat Juventus merapikan reaksi, Lazio kembali menghantam. Kali ini lewat serangan balik cepat yang diakhiri Gustav Isaksen dari sudut sempit, menaklukkan Michele Di Gregorio pada menit 47.
Di momen ini, Juventus berada di tepi jurang. Tertinggal dua gol di kandang, melawan tim yang cukup nyaman bertahan, sering kali menjadi resep kekalahan. Lazio punya alasan untuk menurunkan tempo, menutup ruang, dan memaksa Juventus menembak dari posisi yang tidak ideal.
Serangan Balik yang Mengiris, Juventus Sempat Kehilangan Pegangan
Gol kedua Lazio lahir dari satu ide yang jelas: keluar dari tekanan secepat mungkin, manfaatkan Juventus yang sudah menumpuk pemain di depan, lalu serang ruang di belakang garis pertahanan. Penyelesaian Isaksen dari sudut sempit menambah frustrasi tuan rumah karena ia datang saat Juventus masih mencari ritme selepas jeda.
Namun justru pada situasi paling sulit, Juventus menemukan cara untuk mengubah arah pertandingan.
McKennie Memantik Kebangkitan: Sundulan yang Menyalakan Harapan
Juventus akhirnya mendapatkan gol yang mereka cari pada menit 59. Andrea Cambiaso mengirim umpan silang, Weston McKennie menyambutnya dengan timing sempurna, dan bola masuk. Skor berubah, Juventus 1 Lazio 2, stadion kembali hidup.
Gol ini bukan hanya mengurangi ketertinggalan. Ia adalah tombol yang menyalakan kembali keberanian. Juventus mulai menekan dengan intensitas lebih tinggi, mengambil risiko lebih besar, dan menempatkan lebih banyak pemain di sekitar kotak penalti Lazio.
“Di laga seperti ini, satu gol kecil bisa terasa seperti pintu yang dibuka paksa. Begitu pintunya terbuka, Juventus tiba tiba terlihat seperti tim yang yakin bisa membalikkan semuanya,”
Cambiaso Menjadi Mesin Umpan dari Sisi Sayap
Dalam fase kebangkitan, Cambiaso menjadi salah satu titik penting. Umpan silangnya bukan sekadar bola asal masuk, tetapi bola yang dipilih dengan sudut dan kecepatan yang mengundang pemain datang menyambut. McKennie membaca itu dengan sangat baik, dan sundulannya terasa seperti sinyal bahwa Juventus belum selesai.
Juventus Makin Berani, Lazio Mulai Terlihat Menjaga Keunggulan
Setelah gol tersebut, Juventus menaikkan intensitas. Ada tembakan jarak jauh, ada bola bola yang dipantulkan kembali ke kotak penalti, dan ada tekanan beruntun yang membuat Lazio lebih sering membuang bola daripada membangun serangan. Juventus juga sempat berada pada situasi yang membuat mereka merasa layak mendapat lebih, termasuk momen momen keputusan wasit yang memantik protes.
Lazio bertahan dengan disiplin, tetapi semakin lama, pertahanan seperti ini akan meminta satu hal: konsentrasi sempurna sampai peluit akhir. Dan di sinilah Juventus terus memaksa, menunggu celah sekecil apa pun.
Kalulu Mengubah Nasib: Menit 90 Tambah 6 yang Jadi Milik Juventus
Saat waktu normal menipis, Juventus terus mengepung. Dan ketika Lazio gagal mematikan laga lewat sebuah peluang serangan balik, hukuman datang. Pada menit 90 tambah 6, Jérémie Boga mengirim bola ke area kotak, Pierre Kalulu menyundulnya masuk. Skor 2 2, Allianz Stadium meledak.
Ini bukan sekadar gol balasan. Ini gol penyelamat yang menjaga Juventus tetap berdiri, tetap bernapas, dan tetap membawa pulang sesuatu dari laga yang sempat terlihat akan jadi kekalahan paling pahit di kandang sendiri.
Boga Datang dari Bangku Cadangan, Assist Langsung Menggigit
Kontribusi pemain pengganti terasa menonjol pada momen terakhir. Boga masuk dan langsung memberi efek, umpan silangnya punya kualitas, dan Kalulu menyerang bola dengan keyakinan penuh. Untuk seorang bek, gol seperti ini sering lahir dari kombinasi insting dan keberanian, dan Kalulu punya keduanya pada detik yang paling menentukan.
Kalulu dan McKennie Punya Catatan Khusus di Laga Ini
McKennie sekali lagi menunjukkan keunggulannya di duel udara. Ia datang dari lini kedua, memilih ruang, lalu menyundul dengan akurat. Kalulu, di sisi lain, bukan hanya solid dalam bertahan, tetapi juga tampil sebagai penyelamat ketika Juventus paling membutuhkan.
Ada rasa khas dari gol menit akhir seperti ini. Bukan karena ia selalu terjadi, tetapi karena ketika ia terjadi di stadion seperti Allianz, ia terasa seperti cerita yang akan diulang ulang.
Statistik Pertandingan: Juventus Mendominasi, Lazio Efisien dan Diselamatkan Kiper
Angka angka pertandingan memperlihatkan kontras yang tajam. Juventus menguasai bola 62,9 persen, melepaskan 34 percobaan tembakan, dan memaksa banyak situasi bola mati. Lazio hanya mencatat 9 percobaan, tetapi sempat unggul dua gol. Pada akhirnya, perbedaan terbesar ada pada dua hal: efektivitas Lazio pada momen transisi, dan ketangguhan Provedel menahan gelombang serangan Juventus.
Berikut statistik utama laga dalam format tabel markdown:
| Statistik | Juventus | Lazio |
|---|---|---|
| Penguasaan bola | 62,9% | 37,1% |
| Tembakan tepat sasaran | 8 | 2 |
| Total tembakan | 34 | 9 |
| Kartu kuning | 0 | 2 |
| Tendangan sudut | 8 | 1 |
| Penyelamatan kiper | 0 | 6 |
Angka yang Menjelaskan Kenapa Juventus Terus Menyerang Sampai Akhir
Total 34 tembakan menunjukkan Juventus benar benar membombardir. Delapan di antaranya tepat sasaran, dan banyak peluang lain memaksa blok atau memaksa Provedel bekerja. Dalam pertandingan seperti ini, ada dua kemungkinan: tekanan berbuah gol lebih cepat, atau tekanan menumpuk sampai akhirnya pertahanan lawan runtuh di menit terakhir. Juventus mendapatkan yang kedua.
Lazio, di sisi lain, menunjukkan bahwa tim tidak selalu butuh banyak peluang untuk membuat pertandingan terasa sulit. Dua gol mereka datang dari momen yang tepat, dan untuk waktu yang lama, itu hampir cukup.
Susunan dan Bentuk Main: Juventus 3 4 2 1, Lazio 4 3 3
Bentuk dasar Juventus memberi mereka fleksibilitas untuk menyerang dari berbagai arah. Tiga bek membuat build up lebih tenang, dua wing back memberi lebar, dan dua gelandang serang bisa berubah posisi untuk mencari celah. Lazio dengan 4 3 3 menutup jalur tengah, memaksa Juventus lebih sering menyerang dari sisi, lalu menunggu kesempatan untuk memotong aliran bola dan menyerang balik.
Kenapa Juventus Kebobolan Dua Kali Saat Mengontrol Laga
Dua gol Lazio menegaskan risiko ketika tim dominan kehilangan bola pada area berbahaya. Gol pertama berawal dari bola yang dicuri di tengah, gol kedua lahir dari transisi cepat setelah jeda. Juventus memang mengontrol wilayah, tetapi kontrol tanpa kewaspadaan bisa berubah jadi undangan untuk diserang balik.
Di laga ini, Juventus belajar dengan cara yang keras, lalu membalasnya dengan cara yang dramatis.
Satu Poin yang Rasanya Seperti Menolak Kalah
Hasil imbang ini tidak memberi Juventus tiga poin, tetapi memberi mereka sesuatu yang sering lebih penting di tengah musim yang panjang: keyakinan bahwa pertandingan belum selesai sebelum peluit akhir. Tertinggal 0 2 di kandang sendiri, lalu memaksa 2 2, adalah sinyal bahwa tim ini punya daya tahan mental yang kuat.
“Kadang sepak bola tidak meminta permainan sempurna. Ia meminta kepala yang tetap dingin saat tertinggal, dan keberanian untuk terus memaksa sampai waktu benar benar habis. Malam ini Juventus mendapatkan itu, lewat McKennie, lalu disegel Kalulu.”