Inter Milan Mengamuk di San Siro: Tertinggal Dua Gol, Pisa Dilumat 6-2!

San Siro sempat terdiam. Inter Milan yang biasanya rapi dan tenang, tiba tiba dibuat kelabakan oleh tim papan bawah Pisa. Dalam 23 menit pertama, Nerazzurri sudah kebobolan dua kali. Tapi malam itu juga jadi bukti lain, Inter musim ini punya satu kebiasaan yang bikin lawan frustrasi: mereka bisa panik sebentar, lalu tiba tiba berubah jadi badai gol. Hasil akhirnya benar benar liar, Inter menang 6 2 dan menjaga posisi puncak Serie A.

Awal Pertandingan yang Bikin Inter Kaget Setengah Mati

Inter sebenarnya membuka laga dengan percaya diri. Penguasaan bola dominan, tempo cepat, dan tekanan dari sayap sudah terlihat sejak menit awal. Pisa lebih banyak menunggu, membentuk blok rendah, lalu sesekali menyalakan serangan balik dengan umpan direct ke depan.

Yang membuat pertandingan jadi “pecah” bukan karena Pisa bermain cantik sepanjang laga, tetapi karena mereka memaksimalkan momen kecil yang biasanya tidak akan Inter berikan.

Blunder Sommer dan Gol Pembuka Moreo

Momen paling menentukan di awal laga datang pada menit ke 11. Yann Sommer keluar dari area untuk mengantisipasi bola, tetapi justru membuat operan yang tidak presisi. Bola tanggung itu langsung dibaca Stefano Moreo. Striker Pisa itu tidak ragu, ia mengangkat bola dengan lob dari jarak jauh saat Sommer masih berada di posisi yang salah.

San Siro mendadak senyap. Inter tertinggal, dan rasa gugup mulai terlihat di cara mereka mengalirkan bola.

Pisa Menggandakan Keunggulan dari Situasi Bola Mati

Belum habis rasa kaget, Pisa menambah luka pada menit ke 23. Lagi lagi Stefano Moreo jadi tokohnya. Pisa mendapat sepak pojok, Matteo Tramoni mengirim bola ke area dekat, lalu Moreo menyambar dengan sundulan yang keras. Sommer tidak punya waktu untuk bereaksi.

Skor berubah jadi 0 2, dan itu seperti menampar Inter yang selama ini dikenal sebagai tim paling stabil di papan atas.

Inter Membalas, Dimarco Masuk dan Permainan Langsung Berubah

Di tengah situasi yang tidak nyaman, Inter tidak menunggu lama untuk mengubah arah laga. Pelatih Inter melakukan langkah cepat: Federico Dimarco dimasukkan pada menit ke 34. Pergantian ini bukan sekadar ganti pemain, tapi ganti “mesin” serangan.

Begitu Dimarco masuk, sisi kiri Inter terasa lebih hidup. Umpan silang jadi lebih tajam, progresi bola lebih cepat, dan Pisa mulai kehilangan tenaga untuk bertahan serendah itu.

Penalti Zielinski Menghidupkan Inter Lagi

Momentum comeback benar benar lahir menjelang jeda. Pada menit ke 39, Inter mendapat penalti setelah bola tembakan Piotr Zielinski mengenai tangan Tramoni di kotak terlarang. Zielinski sendiri maju sebagai eksekutor, dan ia mengeksekusi tanpa ragu. Bola meluncur tegas dan Inter memperkecil skor jadi 1 2.

Gol ini penting bukan cuma karena angka di papan skor, tetapi karena ekspresi Inter langsung berubah. Mereka seperti baru “bangun” dan sadar pertandingan ini masih bisa dibalik.

Dua Menit Kemudian, Lautaro Menyamakan Skor

Belum sempat Pisa mengatur napas, Inter langsung menyambar lagi. Menit ke 41, Dimarco mengirim bola melayang ke area depan gawang, dan Lautaro Martinez menanduknya masuk. Skor 2 2, dan San Siro kembali hidup.

Gol ini terasa seperti pukulan telak untuk Pisa. Mereka sempat begitu percaya diri, tetapi tiba tiba dua gol hilang hanya dalam hitungan menit.

Esposito Membuat Inter Balik Unggul Sebelum Turun Minum

Inter belum puas. Mereka mengejar gol ketiga sebelum babak pertama selesai, dan itu akhirnya datang pada menit 45 tambah 2. Alessandro Bastoni mengirim crossing, Francesco Pio Esposito menyambut dengan sundulan bertenaga, bola masuk, Inter memimpin 3 2 saat jeda.

Dalam delapan menit terakhir babak pertama, Inter mencetak tiga gol. Dari tertinggal dua, sekarang jadi unggul satu. Pisa yang tadi terlihat berani, mendadak seperti kehilangan pegangan.

Babak Kedua: Inter Mengurung, Pisa Bertahan Sambil Berharap Keajaiban

Setelah turun minum, skrip pertandingan berubah total. Inter makin tenang, Pisa makin dalam bertahan. Jika di awal laga Pisa berani menekan, di babak kedua mereka lebih sering menumpuk pemain di sepertiga akhir.

Inter juga seperti tidak terburu buru. Mereka memutar bola, menunggu celah, memancing Pisa keluar, lalu mengirim serangan dari area half space. Dan ketika Pisa tidak mau keluar, Inter memakai senjata paling sederhana: tekanan panjang sampai lawan capek sendiri.

Satu Sisi Lapangan Jadi Jalur Neraka untuk Pisa

Masuknya Dimarco membuat Inter punya “jalur cepat” di kiri. Sementara di sisi lain, Inter tetap agresif dalam menumpuk pemain di kotak penalti setiap kali bola masuk area final third.

Di fase ini, Pisa tidak benar benar tanpa peluang, tetapi mereka terlalu sering kehilangan bola sebelum bisa mengancam. Inter memotong suplai ke Moreo, dan Tramoni tidak lagi bebas mengirim bola matang seperti babak pertama.

Dimarco Menutup Pintu, Lalu Inter Menggila di Akhir Laga

Inter memimpin 3 2 cukup lama, dan ini yang membuat pertandingan tetap terasa terbuka. Satu gol Pisa saja bisa membuat laga kembali panas. Tapi Inter tidak memberi ruang itu terlalu lama.

Menit menit akhir berubah jadi pesta, dan Pisa benar benar runtuh.

Gol Keempat: Dimarco Akhirnya Ikut Menulis Namanya

Pada menit ke 82, Federico Dimarco mencetak gol yang jadi simbol dominasi Inter. Ia menuntaskan serangan dengan penyelesaian yang membuat keunggulan Inter melebar jadi 4 2.

Di momen inilah Pisa terlihat benar benar habis. Mereka sudah tidak punya tenaga untuk menutup ruang, sementara Inter seperti makin ringan melangkah.

Bonny Menambah Luka, Mkhitaryan Mengunci Skor

Empat menit setelah gol Dimarco, Inter menambah satu lagi lewat Ange Yoan Bonny pada menit 86. Serangan Inter terlalu cepat, Pisa tidak sempat membentuk ulang pertahanan, dan bola kembali bersarang di gawang mereka.

Lalu pada menit 90 tambah 3, Henrikh Mkhitaryan ikut mencatatkan gol. Sebuah momen penutup yang menegaskan satu hal: Inter tidak cuma menang, mereka menghukum. Skor akhir 6 2.

Statistik Pertandingan: Inter Dominan Total di Semua Arah

Pertandingan ini terlihat liar di skor, tapi kalau melihat angka, Inter memang menguasai hampir semua aspek. Mereka memegang bola lama, menembak berkali kali, dan memaksa Pisa bertahan tanpa jeda.

Berikut ringkasan statistik laga Inter vs Pisa yang sudah dirapikan:

StatistikInterPisa
Penguasaan bola66,4%33,6%
Total tembakan348
Tembakan tepat sasaran143
Sepak pojok75
Kartu kuning23
Penyelamatan kiper15

Angka 34 percobaan tembakan adalah cermin bagaimana Inter terus menekan sampai akhir. Pisa mungkin sempat unggul cepat, tapi setelah itu mereka lebih sering bertahan dan bertahan, sampai akhirnya jebol berkali kali.

Pisa Sempat Menggigit, Tapi Tidak Punya Nafas untuk Bertahan 90 Menit

Pisa sebenarnya punya dua hal yang layak diapresiasi di laga ini: keberanian menyerang di awal, dan efisiensi mereka dalam memanfaatkan momen. Dua gol Moreo lahir dari dua situasi yang jelas, satu memanfaatkan kesalahan, satu lagi menang duel udara.

Masalahnya, menghadapi Inter yang terus memutar tekanan, bertahan terlalu lama biasanya berakhir buruk. Apalagi saat Inter sudah menemukan ritme, mereka akan membuat lawan kehabisan pilihan: mau keluar ditekan, mau bertahan diteror crossing dan cutback.

Pisa akhirnya membayar mahal karena tidak mampu mempertahankan intensitas tinggi seperti 20 menit pertama.

Inter Makin Mantap di Puncak, San Siro Dapat Pertunjukan Gila

Kemenangan ini membuat Inter terus menjaga jarak di puncak klasemen. Mereka mengoleksi 52 poin dan unggul enam angka dari AC Milan di bawahnya. Pisa tetap tertahan di dasar klasemen dengan 14 poin.

Federico Dimarco setelah laga juga menegaskan bahwa reaksi tim adalah kunci. Ia mengakui start Inter tidak bagus, tetapi yang penting mereka punya keinginan untuk membalikkan keadaan, dan akhirnya mencetak tiga gol sebelum jeda.

Inter pun menutup malam itu dengan satu pesan yang jelas: bahkan ketika sempat goyah, mereka tetap tahu cara menang dengan cara yang kejam.

Leave a Reply