Baru Laga Kedua Sudah Menyala, Miliano Jonathans Punya Mimpi Besar di Excelsior
Miliano Jonathans baru dua kali mengenakan seragam Excelsior Rotterdam, tapi namanya sudah langsung jadi pembicaraan. Bukan karena sensasi, melainkan karena impact yang terasa nyata. Di penampilan keduanya, winger muda yang akrab dijuluki “Pangeran Depok” itu keluar dari bangku cadangan dan mencetak gol krusial yang menyelamatkan Excelsior dari kekalahan.
Di Eredivisie, momen kecil seperti ini sering jadi pemantik. Apalagi untuk pemain yang sedang mencari ritme, menit bermain, dan rasa percaya diri. Dan Miliano terlihat seperti sudah paham betul, kesempatan sekecil apa pun harus langsung “dipukul” dengan aksi.
Gol Debut yang Datang di Momen Paling Tepat
Excelsior bertandang ke markas AZ Alkmaar dengan tekanan yang jelas. Mereka butuh poin untuk menjauh dari zona berbahaya, sementara AZ tetap jadi tim yang sulit ditaklukkan di kandang sendiri. Situasi makin menegangkan ketika tuan rumah lebih dulu unggul pada menit ke 65.
Di saat seperti ini, banyak pemain muda biasanya butuh waktu untuk “masuk” ke permainan. Tapi Miliano punya cerita berbeda. Ia masuk pada menit ke 78, dan hanya butuh beberapa sentuhan untuk membuat perbedaan.
Masuk Menit 78, Cetak Gol Menit 81

Begitu masuk, Miliano langsung bermain agresif. Tidak banyak basa basi, tidak terlalu sering mengoper ke belakang, dan berani menusuk ke kotak penalti. Hasilnya keluar di menit ke 81.
Ia menyelesaikan peluang dengan sontekan kaki kiri, memanfaatkan umpan dari Mike van Duinen. Gol itu jadi penyeimbang, sekaligus menjaga Excelsior tetap membawa pulang poin.
Di atas kertas, itu “cuma” satu gol. Tapi untuk tim yang sedang berjuang, satu gol di laga tandang bisa bernilai seperti emas.
Dari Pemain Pelapis Jadi Penentu Skor
Cerita yang membuat publik makin terpikat adalah cara gol itu lahir. Miliano bukan starter. Ia datang dari bangku cadangan, masuk ketika tempo sudah panas, lalu tampil tanpa canggung.
Ini yang membuat banyak orang merasa penampilannya bukan kebetulan. Ia seperti pemain yang siap kapan pun pelatih memanggil. Satu kesempatan, satu aksi, satu hasil.
Menyala di Laga Kedua, Miliano Tahu Apa yang Harus Dikejar
Banyak pemain muda terbuai ketika mencetak gol debut. Tapi Miliano justru memberi sinyal kalau ini baru permulaan. Yang ia kejar bukan sekadar sorotan media, melainkan konsistensi.
Dalam beberapa pernyataan, Miliano menegaskan targetnya sederhana tapi berat: mendapatkan menit bermain yang cukup, mencetak gol, dan membantu Excelsior bertahan di Eredivisie.
Ia tidak sedang mengejar gaya. Ia sedang mengejar tempat.
Ekspektasi untuk Pemain Muda Timnas Itu Selalu Dua Kali Lipat
Miliano bukan pemain biasa. Ia membawa label pemain tim nasional. Itu berarti tekanannya otomatis lebih besar. Setiap menitnya dinilai, setiap sentuhannya diperhatikan, bahkan ekspresinya bisa jadi bahan perdebatan.
Tapi justru di situ letak tantangannya. Kalau ia bisa menjawab di liga sekeras Eredivisie, maka levelnya akan naik sendiri.
Dan menariknya, Miliano terlihat menikmati tekanan itu. Ia tidak main aman, tidak ragu duel satu lawan satu, dan cukup percaya diri untuk mengambil keputusan cepat di kotak penalti.
Dari Laga Pertama yang “Pemanasan” ke Laga Kedua yang Menggigit
Penampilan ini juga terasa spesial karena ada progres yang jelas.
Di pertandingan pertamanya bersama Excelsior melawan Telstar, Miliano hanya bermain sebentar dari bangku cadangan. Ia masih menyesuaikan ritme dan belum banyak terlibat dalam momen berbahaya.
Namun di laga kedua melawan AZ, ia seperti sudah hafal jalur. Begitu masuk, langsung cari ruang, langsung “minta bola”, dan akhirnya jadi penentu skor.
Itu perkembangan yang cepat. Dan buat pelatih, pemain seperti ini biasanya susah untuk diabaikan.
Cara Excelsior Memakai Miliano, Bukan Sekadar Cadangan Biasa
Di sepak bola modern, pemain pengganti tidak selalu berarti pelapis yang kalah level. Justru banyak tim menyimpan pemain tertentu untuk menit menit akhir, karena lawan sudah lelah dan ruang mulai terbuka.
Miliano cocok untuk skenario seperti itu.
Ia punya kecepatan, dribel yang hidup, dan naluri menyerang yang cukup tajam. Saat bek lawan mulai berat, winger seperti Miliano bisa bikin panik.
Senjata Menit Akhir, Tapi Bisa Naik Kelas Jadi Starter
Kalau Miliano terus tampil efektif sebagai supersub, pelatih Excelsior akan punya dilema yang enak.
Tetap memakainya sebagai “bom waktu” di akhir laga, atau mulai memberinya menit sejak awal supaya pengaruhnya bisa lebih panjang.
Biasanya, pemain muda akan memenangi hati pelatih lewat dua hal: disiplin dan efektivitas. Di laga melawan AZ, Miliano sudah menunjukkan keduanya.
Ia masuk tanpa merusak struktur permainan, tapi tetap berani mengambil risiko.
Gol Ini Bukan Cuma Buat Excelsior, Tapi Juga Buat Kariernya
Di level karier, momen seperti ini bisa jadi titik balik. Apalagi kalau sebelumnya Miliano sempat kesulitan menembus menit bermain reguler.
Banyak pemain muda hilang karena satu hal: terlalu lama duduk. Latihan bagus, tapi pertandingan itu dunia yang berbeda. Saat jarang main, insting memudar.
Excelsior adalah tempat yang pas untuk Miliano “menghidupkan” lagi nalurinya. Tim ini butuh pemain yang lapar. Miliano butuh panggung yang memberi ruang.
Keduanya ketemu di waktu yang tepat.
Kepercayaan Diri Itu Menular
Satu gol bisa mengubah cara pemain memandang dirinya sendiri.
Sebelumnya, mungkin Miliano masuk dengan pikiran “jangan salah”. Setelah gol ini, ia akan masuk dengan pikiran “gue bisa bikin beda”.
Ini efek psikologis yang besar. Dan Excelsior jelas diuntungkan kalau pemain mudanya bermain dengan rasa percaya diri tinggi.
Pangeran Depok dan Beban Nama Besar
Julukan “Pangeran Depok” terdengar lucu dan akrab, tapi di balik itu ada ekspektasi yang tidak kecil. Publik Indonesia punya kebiasaan unik: kalau ada pemain diaspora atau pemain muda potensial, dukungannya bisa luar biasa, tapi kritiknya juga bisa lebih tajam dari tekel dua kaki.

Miliano harus siap dengan dua dunia itu.
Namun kalau dilihat dari responsnya di lapangan, ia tidak terlihat terbebani. Ia tetap berani, tetap progresif, dan tetap ingin jadi ancaman.
Gaya Main yang Nggak Takut Ambil Risiko
Yang paling menonjol dari Miliano adalah keberaniannya mengambil keputusan cepat.
Ada pemain muda yang masuk lalu terlalu “aman”. Oper pendek, buang bola, cari selamat. Miliano justru kebalikannya. Ia mencari ruang, cari celah, dan saat ada peluang, ia tancap gas.
Di Eredivisie, gaya seperti ini dihargai. Karena liga ini memang terkenal sebagai tempat pemain muda berkembang lewat keberanian, bukan lewat rasa takut.
Excelsior Butuh Poin, Miliano Datang di Saat yang Pas
Posisi Excelsior di klasemen tidak ideal. Mereka butuh hasil, butuh gol, dan butuh momentum untuk menutup musim tanpa drama degradasi.
Pemain yang bisa mencetak gol penyeimbang di kandang AZ jelas bukan tambahan biasa. Itu tambahan yang bisa mengubah mental tim.
Setelah hasil imbang ini, Excelsior punya modal untuk menatap laga berikutnya dengan kepala lebih tegak.
Jadwal Berikutnya Lebih Sadis, Tapi Ini Ujian yang Dicari
Usai menahan AZ, Excelsior akan menghadapi FC Twente dalam pertandingan berikutnya. Laga semacam ini selalu jadi ujian, bukan cuma buat tim, tapi juga buat pemain yang baru bergabung.
Kalau Miliano kembali diberi menit dan bisa mengulang impact serupa, statusnya bisa naik drastis. Dari pemain “cadangan menarik” menjadi opsi serius untuk starter.
Dan di titik itu, harapan Miliano bersama Excelsior akan berubah level. Tidak lagi sekadar ingin menit bermain, tapi mulai bicara soal peran besar.
Harapan Miliano yang Paling Masuk Akal: Konsisten Dulu, Baru Ngomong Besar
Kalau ada satu hal yang terasa realistis dari perjalanan Miliano di Excelsior, itu adalah pendekatannya yang tidak meledak ledak.
Ia tidak datang dengan janji muluk. Ia datang dengan target yang logis: bermain lebih sering, memberi kontribusi, dan mengangkat levelnya pelan pelan.
Di sepak bola, yang bertahan lama bukan yang paling viral, tapi yang paling konsisten.
Dan setelah menyala di pertandingan kedua, Miliano sekarang punya satu hal yang tidak bisa dibeli: momentum.