King MU is back ! Carrick Debut, Manchester United Giling Man City 2-0
Old Trafford mendadak terasa “hidup” lagi. Ada pertandingan yang bukan cuma soal tiga poin, tapi soal rasa percaya diri yang balik, soal atmosfer yang kembali bikin bulu kuduk berdiri, dan soal sebuah kalimat yang pas banget buat menggambarkannya: kok ada sih tim yang hobinya menang terus?
Sabtu, 17 Januari 2026, Manchester United menutup derby dengan senyum lebar. Debut Michael Carrick sebagai pelatih kepala langsung dibayar lunas lewat kemenangan 2 0 atas Manchester City, lengkap dengan permainan disiplin, agresif, dan sangat “United banget” saat momen besar datang.
Gol dicetak oleh Bryan Mbeumo menit 65 dan Patrick Dorgu menit 76. City yang biasanya menekan sampai lawan lupa napas, kali ini malah kehabisan ide di depan blok pertahanan MU yang rapat.
Derby yang Bikin Old Trafford Bangun Lagi
Kalau ada satu kata buat menggambarkan MU di laga ini, itu berani. Berani menekan, berani main direct saat perlu, dan berani bertahan dengan tenang tanpa panik.
Menariknya, dari sisi angka, City memang terlihat “menguasai bola” dengan sangat dominan. Tapi derby ini jadi bukti klasik: possession tidak selalu identik dengan kontrol pertandingan.
City memegang bola 68,2%, sementara MU cuma 31,8%. Namun justru MU yang lebih tajam, lebih siap menghukum, dan lebih cepat mengubah momen kecil jadi peluang besar.
Atmosfer Old Trafford juga terasa beda. Setiap tekel Casemiro, setiap sapuan Maguire, bahkan setiap duel Lisandro Martínez, semuanya disambut seperti gol. Ini bukan cuma menang, ini semacam “pengumuman” kalau MU masih bisa jadi monster di derby.
Debut Carrick: Cerdas, Tenang, dan Tepat Sasaran
Michael Carrick datang ke laga ini bukan bawa janji manis, tapi bawa rencana yang jelas.
MU terlihat bermain dengan pendekatan yang sangat masuk akal:
tutup jalur tengah, paksa City melebar, lalu serang balik secepat mungkin.

Yang paling kelihatan adalah struktur. MU tidak asal bertahan, tapi bertahan dengan pola. Ketika City mencoba masuk lewat kombinasi pendek, MU langsung rapat. Saat City mengulur tempo, MU sabar. Begitu bola lepas, transisinya cepat dan menusuk.
Dan ya, buat laga debut, ini terasa seperti “klik” yang instan.
Babak Pertama: City Pegang Bola, MU Pegang Mentalitas
Di 45 menit pertama, City tetap City. Mereka rapi saat build up, dan sabar cari celah. Tapi yang mengejutkan, MU sama sekali tidak terlihat ciut.
City bisa banyak umpan, bisa menguasai area, tapi jarang benar-benar membuat MU kelabakan. Bahkan beberapa momen justru MU yang terlihat lebih “niat” saat menyerang.
Ada juga satu momen panas yang jadi bahan perdebatan: tekel Dalot ke Doku yang dianggap sebagian pihak pantas kartu merah.
Namun derby selalu punya logikanya sendiri. Ketika kartu tidak keluar, pertandingan lanjut, dan MU tetap konsisten menjaga ritme.
Babak Kedua: Mbeumo Buka Kunci, Dorgu Mengunci Derby
Gol 1: Mbeumo menit 65, serangan balik yang bikin City beku
Menit 65, Old Trafford meledak.
Gol pertama MU lahir dari momen yang sangat “Carrick”: rapi, cepat, dan langsung ke titik lemah. Bryan Mbeumo menyelesaikan serangan balik dengan finishing yang tenang, dan gol ini benar-benar mengubah mood stadion jadi lautan euforia.

Yang bikin gol ini terasa nikmat untuk fans MU adalah prosesnya:
bukan keberuntungan, tapi hasil dari pola. City naik, MU bertahan, lalu sekali lepas langsung menusuk.
Gol 2: Dorgu menit 76, sekali gigit langsung habis
City belum sempat benar-benar bangkit, MU sudah menambah luka.
Menit 76, Patrick Dorgu mencetak gol kedua setelah memanfaatkan situasi yang membuat pertahanan City terlihat goyah. Skor 2 0, derby langsung berubah: City tampak buru-buru, MU malah semakin percaya diri.
City Mandek: Banyak Bola, Minim Luka
City boleh dominan penguasaan bola, tapi angka paling “menusuk” buat mereka adalah ini:
hanya 1 tembakan tepat sasaran sepanjang laga.
Ya, cuma satu.
Dan itu bukan karena City tidak punya pemain depan, tapi karena MU sukses membuat Haaland dan kawan-kawan seperti kehabisan ruang hidup.
Statistik Pertandingan: MU Efisien, City Dominan Tapi Tumpul
Berikut statistik utama derby:
| Statistik | Manchester United | Manchester City |
|---|---|---|
| Skor akhir | 2 | 0 |
| Penguasaan bola | 31,8% | 68,2% |
| Total tembakan | 11 | 7 |
| Tembakan tepat sasaran | 7 | 1 |
| Expected Goals (xG) | 2,27 | 0,45 |
| Sepak pojok | 1 | 6 |
| Akurasi umpan | 79,5% | 89,9% |
| Umpan sukses | 240 | 581 |
| Kartu kuning | 2 | 3 |
Kalau dilihat dari xG, MU jelas lebih “berbahaya” walau bola lebih sedikit. Ini tipe laga yang fans sering sebut: City main cantik, MU main menang.
Bruno Fernandes Jadi Remote Control di Tengah Lapangan
Ada pemain yang di laga seperti ini tidak harus selalu cetak gol untuk jadi pusat cerita. Bruno Fernandes adalah tipe itu.

Ia jadi tombol “switch” MU: kapan harus cepat, kapan harus tahan, kapan harus langsung kirim bola ke depan. Dalam proses gol pertama, kontribusinya juga terasa sangat penting karena ia ikut menghidupkan transisi cepat yang jadi senjata MU.
Maguire dan Lisandro: Tembok yang Bikin City Frustrasi
Ada malam ketika bek tengah tidak cuma bertahan, tapi juga “mengirim pesan”.
Harry Maguire tampil solid, tegas, dan tidak ragu duel. Lisandro Martínez juga tampil dengan gaya khasnya: agresif, rapat, dan suka muncul di momen krusial.
Kalau City biasanya bikin lawan berputar-putar tanpa arah, kali ini justru MU yang bikin City seperti muter kunci tapi pintunya tidak kebuka.
Kenapa MU Bisa “Terlihat Seperti Tim yang Hobi Menang Terus”?
Ini mungkin bagian paling menarik dari derby ini. MU bukan cuma menang, tapi menang dengan cara yang bikin orang bertanya-tanya:
“Ini MU yang sama, kan?”
Jawabannya ada di 3 hal:
1. Mereka punya alasan untuk berlari
Di derby, motivasi kadang lebih penting dari taktik. MU terlihat lapar. Mereka berlari bukan sekadar mengejar bola, tapi mengejar harga diri.
2. Mereka memilih momen untuk menggigit
MU tidak menekan membabi buta. Mereka menunggu City naik terlalu tinggi, lalu “hajar” lewat transisi cepat.
3. Mereka bertahan sebagai tim, bukan sebagai individu
Bertahan MU rapi. Lini tengah bantu bek. Bek tidak dibiarkan sendirian. Dan itulah yang bikin City cuma punya 1 shot on target.
Dampaknya di Klasemen: MU Naik, City Tersandung
Kemenangan ini membuat MU merangkak ke zona atas dan memanaskan persaingan papan atas, sementara City kehilangan poin penting dalam perburuan gelar.

City juga mendapat pukulan dari sisi psikologis karena mereka datang sebagai tim yang biasa “mengontrol” lawan, tapi justru dipaksa menelan derby yang tidak nyaman sejak awal.
Setelah Derby: PR Besar City, Momentum Emas untuk Carrick
Buat City, pertandingan seperti ini biasanya jadi alarm: dominasi saja tidak cukup kalau tidak ada ketajaman. Mereka harus menemukan cara untuk lebih mematikan ketika lawan memilih bertahan rapat.
Sementara untuk MU, ini bukan cuma soal menang 2 0.
Ini semacam tiket untuk percaya lagi. Para pemain terlihat lebih “nyala”, fans kembali bersuara, dan Carrick dapat start yang, jujur saja, susah ditolak kalau bicara momentum.
MU sudah memberi sinyal: di hari yang tepat, mereka masih bisa jadi tim yang bikin orang ngomong, “kok bisa menang terus sih?”