Pascal Struijk Diserbu Fans Garuda, Tapi Masih Setia Menanti Panggilan Belanda

Nama Pascal Struijk kembali jadi bahan obrolan hangat di kalangan pencinta Timnas Indonesia. Bukan karena ia mencetak gol penentu kemenangan atau melakukan tekel keras yang viral, melainkan karena satu topik yang selalu memantik rasa penasaran publik sepak bola Tanah Air: kemungkinan sang bek Leeds United dinaturalisasi dan membela skuad Garuda.

Kali ini, Struijk akhirnya angkat bicara secara terbuka. Ia mengaku senang dengan antusiasme fans Indonesia yang “ramai” mendatanginya, namun pada saat yang sama ia menegaskan bahwa mimpi terbesarnya masih satu: dipanggil Timnas Belanda.


Struijk dan “Keramaian” yang Datang dari Indonesia

Bagi sebagian pemain Eropa, komentar fans dari negara lain mungkin hanya lalu lalang. Namun buat Struijk, Indonesia terasa berbeda. Ia benar benar merasakan energi publik yang terus mendorong namanya masuk ke pembahasan Timnas.

Dalam wawancara dengan ESPN Belanda, Struijk mengaku menikmati situasi tersebut, bahkan tertawa ketika menceritakan bagaimana fans Timnas Indonesia hadir di kolom komentar akun media sosialnya.

“Saya senang melihat bagaimana para penggemar di sana dan betapa mereka sangat ingin saya ke sana,” ujar Struijk sambil tertawa.

Kalimat itu terdengar sederhana, tapi punya makna besar. Struijk tidak sedang “menutup pintu”, ia hanya menggambarkan realitas bahwa ia mengetahui betul betapa kuatnya ketertarikan publik Indonesia terhadap pemain keturunan yang bermain di Eropa.

Komentar fans yang tidak ada habisnya

Struijk menyebut fenomena ini sebagai sesuatu yang lucu. Bukan karena mengejek, melainkan karena ia benar benar melihat betapa sepak bola bisa menjadi urusan perasaan yang serius bagi sebuah negara.

Ia pun menilai antusiasme itu sebagai bukti bahwa Indonesia adalah negara sepak bola besar, dengan dukungan publik yang tidak main main.

Indonesia dianggap “negara sepak bola yang sangat besar”

Struijk menyampaikan bahwa kehebohan di kolom komentarnya mencerminkan satu hal: sepak bola hidup di Indonesia, tumbuh di keseharian publik, dan menjadi kebanggaan bersama.

Di era ketika banyak pemain asing mulai terbuka dengan opsi membela negara lain, perhatian fans seperti ini sering kali menjadi faktor emosional yang kuat. Bedanya, Struijk memilih tetap berdiri di jalurnya sendiri.

Jawaban yang Tegas: Fokusnya Masih Leeds dan Belanda

Meski senang disambut hangat oleh fans Indonesia, Struijk menegaskan prioritasnya saat ini bukan soal paspor. Ia ingin menutup musim dengan kuat bersama Leeds United, lalu berharap panggilan Belanda datang pada waktunya.

“Itu bukan sesuatu yang saya fokuskan. Saya ingin mengakhiri musim ini dengan kuat bersama Leeds United,” ucapnya.

Pernyataan ini penting untuk dipahami dengan jernih. Struijk tidak sedang menyerang gagasan naturalisasi. Ia hanya mengatakan bahwa hidupnya sekarang ada di ritme kompetisi, target klub, dan ambisi pribadi yang belum tercapai.

Target klub yang masih ia kejar

Struijk menyebut Leeds ingin bertahan di Premier League dan finis setinggi mungkin.
Kalau membaca ini dari kacamata pemain profesional, masuk akal. Bek tengah butuh stabilitas performa. Ia tidak bisa membiarkan isu besar di luar lapangan mengganggu fokus, apalagi di musim dengan tuntutan tinggi.

Di Leeds, Struijk bukan pemain pelengkap. Ia kerap jadi kapten, tampil konsisten, dan punya peran penting dalam struktur permainan.

Menunggu panggilan yang selalu ia incar

Pertanyaan paling menarik muncul setelah itu: bagaimana soal Timnas Belanda?

Jawabannya singkat, tapi terasa jujur.

“Mari berharap hal itu akan terjadi suatu saat nanti,” kata Struijk.

Kalimat seperti ini biasanya keluar dari pemain yang merasa dirinya mampu, namun belum mendapat kesempatan. Dan Struijk memang masuk kategori itu: kualitas klubnya jelas, performanya stabil, tetapi pintu tim nasional senior belum terbuka sepenuhnya.

Mimpi yang Ia Pegang: Struijk Ingin Dipanggil Oranje

Struijk tidak menutupi ambisinya. Ia menyatakan secara terbuka bahwa membela Timnas Belanda tetap menjadi impian utamanya.

“Bermain untuk tim nasional Belanda masih selalu menjadi impian bagi saya,” ungkap Struijk.

Ia juga menambahkan bahwa semuanya tergantung performa. Dalam bahasa pemain, ini seperti pesan halus: ia akan terus bekerja sampai pelatih timnas tidak bisa mengabaikannya.

Cara Struijk “mengetuk pintu” timnas

Struijk menyampaikan bahwa pemain harus tampil di level tertinggi dan memastikan pelatih nasional melihatnya sebagai opsi serius.

Buat seorang bek, ini bukan perkara mudah. Penilaian bek sering tidak sepopuler penilaian striker. Bek harus konsisten, minim kesalahan, unggul duel, tenang saat ditekan, dan tetap tajam membaca permainan.

Di sisi lain, Belanda dikenal punya stok pemain belakang yang selalu muncul dari berbagai generasi. Jadi ketika Struijk berkata “pelatih tidak bisa mengabaikan Anda”, itu seperti menggambarkan betapa ketatnya persaingan.

Pernah membela Belanda, tapi belum senior

Struijk pernah memperkuat Timnas Belanda U17 pada 2016, namun belum menembus tim senior.
Artinya, dari sisi status internasional, ia masih berada di wilayah yang memungkinkan banyak opsi.

Ia bahkan sempat masuk daftar awal panggilan Belanda pada salah satu periode internasional beberapa tahun lalu, sebelum akhirnya tidak masuk skuad final. Buat pemain, momen seperti itu terasa seperti “hampir”, dan rasa hampir sering membuat seseorang makin keras mengejar.


Darah Indonesia dan Kisah yang Membuat Fans Tidak Mau Berhenti Berharap

Dari mana koneksi Indonesia itu datang? Struijk lahir di Deurne, Belgia pada 11 Agustus 1999.
Ia disebut memiliki darah Indonesia dan hubungan itu berawal dari kakek dan nenek yang pernah meninggalkan Hindia Belanda dan pindah ke Belgia sejak lama.

Cerita seperti ini selalu punya magnet tersendiri untuk publik Indonesia. Ada rasa “pulang” yang melekat pada gagasan pemain keturunan, apalagi ketika levelnya Premier League.

Struijk juga heran, kok bisa orang Indonesia tahu

Ada satu potongan cerita yang membuat kasus Struijk makin menarik. Ia pernah mengaku heran karena orang Indonesia bisa mengetahui garis keturunannya.

“Di Indonesia mereka rupanya tahu bahwa saya memiliki darah Indonesia. Entah bagaimana mereka mengetahuinya,” katanya.

Kalau dibaca dengan senyum, ini justru terasa sangat “Indonesia”. Publik kita memang terkenal rajin menelusuri jejak pemain diaspora, dari nama keluarga, riwayat kakek nenek, sampai dokumen lama yang mungkin sudah tidak dibicarakan di negara asalnya.

PSSI disebut ikut menelusuri jejak dokumen

PSSI tentu menelusuri jejak sejarah serta dokumen terkait darah keturunan Struijk.
Langkah seperti ini memang lazim ketika ada potensi naturalisasi, karena jalur administrasi harus jelas dan sesuai regulasi.

Namun, satu hal yang perlu digarisbawahi: meski dokumen bisa dicari, keputusan tetap berada di tangan pemain. Dan untuk saat ini, Struijk memilih menunggu Belanda.


Kalau Benar Benar Terjadi, Struijk Akan Mengisi Posisi yang “Mahal” di Timnas

Bayangkan Timnas Indonesia punya bek kidal dengan postur tinggi, pengalaman liga top, dan mental bertanding melawan striker elite. Ini bukan sekadar “tambah pemain”, tapi berpotensi mengubah kualitas organisasi pertahanan.

Jika suatu hari ia bersedia membela Garuda, Struijk bisa menjadi opsi yang sangat kuat, bukan hanya karena nama besar klubnya, tetapi karena pengalaman dan kualitas bertahannya sudah teruji di kompetisi yang keras.

Kombinasi yang menarik di lini belakang

Di Timnas Indonesia sekarang, publik sudah terbiasa melihat fondasi pertahanan semakin solid. Kalau ada pemain seperti Struijk masuk, komposisi lini belakang jelas membuka banyak opsi, baik untuk sistem tiga bek maupun empat bek.

Secara gaya main, Struijk punya karakter bek modern: bisa membangun serangan dari belakang, tenang membawa bola, dan kuat duel udara. Pengalaman menghadapi berbagai tipe penyerang juga membuatnya tidak mudah panik.

Efek untuk skuad Garuda

Selain aspek taktik, ada efek psikologis yang sering luput dibahas. Ketika skuad dipenuhi pemain yang rutin merasakan atmosfer kompetisi elite, standar latihan otomatis ikut naik. Bukan hanya di lapangan, tapi juga di hal kecil seperti cara menjaga tubuh, cara membaca pertandingan, sampai disiplin recovery.

Struijk, jika suatu hari datang, akan membawa kebiasaan sepak bola Inggris yang keras, intens, dan menuntut fokus setiap pekan.

Pintu itu Tidak Tertutup, Tapi Struijk Jelas Punya Prioritas

Yang paling aman disimpulkan dari semua pernyataannya adalah ini: Struijk tidak sedang memusuhi Timnas Indonesia. Ia menghargai antusiasme fans, ia tahu Indonesia besar, dan ia sadar pembicaraan soal naturalisasi ada di sekelilingnya.

Namun ia juga mengirim sinyal yang tegas: ia masih mengejar satu impian, yaitu mengenakan seragam Oranje.

Saat ini, ia memilih menunggu panggilan Belanda sambil memastikan performanya di klub tetap tinggi. Dan di situlah letak dramanya, fans Indonesia akan terus berharap, sementara Struijk berjalan di jalur yang ia yakini paling tepat untuk kariernya sekarang.

Leave a Reply