Krisis Cedera Hantui Man City Jelang Derbi, Guardiola Dipaksa Putar otak
Manchester City datang ke Old Trafford dengan satu beban besar yang sulit ditutupi: daftar cedera yang menumpuk, terutama di lini belakang. Derby Manchester pada Sabtu, 17 Januari 2026 bukan cuma soal gengsi, tapi juga ujian kreativitas Pep Guardiola dalam merangkai tim dengan stok pemain yang tidak ideal.
City memang masih menempel papan atas dan berada di jalur persaingan titel, namun jarak dengan pemuncak klasemen mulai terasa mengganggu. Di momen seperti ini, derby biasanya jadi panggung pembuktian. Masalahnya, Guardiola justru harus memikirkan cara bertahan dulu sebelum bicara bagaimana menyerang.
Tumpukan Cedera yang Membuat City Kehilangan “Pondasi”
Di tim Guardiola, pertahanan bukan sekadar urusan empat bek. Itu adalah pondasi cara City menguasai pertandingan, memulai serangan, dan menekan lawan sejak awal. Begitu pemain inti di sektor ini rontok bersamaan, ritme permainan ikut goyah.
Krisis ini paling terasa di posisi bek tengah. City kehilangan beberapa nama yang biasanya jadi “tulang punggung” saat menghadapi laga besar. Situasi itu membuat opsi rotasi semakin tipis dan memaksa Guardiola mempertimbangkan solusi darurat.
Trio Bek Tengah Tumbang Bersamaan
Nama-nama seperti Ruben Dias, Josko Gvardiol, dan John Stones masuk daftar pemain yang absen, dan ini bukan kehilangan biasa. Dias dan Gvardiol sebelumnya bahkan mengalami masalah saat City ditahan imbang Chelsea, dan Guardiola sempat menegaskan kekhawatirannya karena stok pemain makin habis.

Dalam laporan jelang derby, ketiganya tetap dinyatakan tidak tersedia. Bukan cuma satu lubang yang harus ditambal, tapi hampir seluruh struktur bek tengah yang biasanya jadi pusat komando.
Efek Domino ke Sistem Build-up City
City terkenal karena selalu berani membangun serangan dari belakang. Namun saat bek inti hilang, kualitas umpan pertama dan ketenangan saat ditekan ikut menurun. Biasanya, Dias atau Stones adalah pemain yang bisa mengubah situasi sempit jadi peluang menyerang hanya lewat satu umpan vertikal.
Kalau pondasi ini rapuh, maka dua hal terjadi sekaligus: lawan lebih berani pressing, dan lini tengah City jadi lebih sering “turun” untuk membantu, membuat jarak antarlini melebar. Di derby, jarak seperti itu adalah undangan terbuka untuk serangan cepat.
Berikut tabel daftar pemain Manchester City yang cedera/diragukan jelang Derby Manchester (vs Man United, 17 Januari 2026):
| Pemain | Status | Kondisi | Catatan Singkat |
|---|---|---|---|
| Rúben Dias | Cedera (absen) | Hamstring | Diperkirakan menepi beberapa pekan |
| Joško Gvardiol | Cedera (absen) | Retak/cedera tulang kering (tibia) | Masuk kategori absen cukup panjang |
| John Stones | Cedera (absen) | Cedera paha | Belum siap main jelang derby |
| Mateo Kovačić | Cedera (absen) | Masalah pergelangan/ankle | Masih pemulihan |
| Oscar Bobb | Cedera (absen) | Hamstring | Belum kembali ke skuad |
| Savinho | Cedera (absen) | Cedera (tidak selalu dirinci di laporan) | Tidak masuk opsi pertandingan |
| Nico González | Diragukan | Knock / benturan ringan | Menunggu tes kebugaran terakhir |
Catatan tambahan (bukan cedera):
| Pemain | Status | Alasan | Catatan |
|---|---|---|---|
| Omar Marmoush | Tidak tersedia | AFCON (tugas timnas) | Absen karena agenda internasional, bukan cedera |
Guardiola Dipaksa Mengubah Rencana, Bukan Sekadar Mengganti Pemain
Derby sering dipersiapkan dengan detail kecil: siapa yang menutup half-space, siapa yang menjaga transisi, siapa yang memancing pressing. Masalahnya, semua rencana itu biasanya dibuat dengan asumsi pemain kunci tersedia. City sekarang tidak punya kemewahan itu.
Guardiola juga sudah memberi sinyal bahwa ia bisa saja memakai lebih banyak pemain muda untuk mengisi skuad pertandingan, tanda bahwa krisis ini nyata dan bukan sekadar “manipulasi psikologis” jelang laga besar.

Bek Darurat dan Opsi Kombinasi yang Tidak Lazim
Prediksi susunan pemain jelang derby menunjukkan City bisa menurunkan bek yang lebih “fungsional” ketimbang ideal. Ada skenario di mana pemain seperti Nathan Aké jadi senior yang harus menstabilkan rekan di sampingnya, sementara City memasukkan nama muda demi menutup kekurangan stok.
Dalam situasi seperti ini, Guardiola biasanya mencari dua hal: pemain yang berani duel dan pemain yang tenang ketika bola ada di kaki. Tidak mudah menemukan kombinasi itu sekaligus saat pilihan terbatas.
Nico Masih Tanda Tanya, Masalah City Bisa Bertambah
Bukan cuma bek tengah. Guardiola juga menyebut masih ragu soal kebugaran Nico yang absen saat menang atas Newcastle karena mengalami benturan atau masalah ringan. Keputusan akan sangat tergantung sesi latihan terakhir.
Detail kecil seperti ini penting, karena dalam pertandingan besar, satu pemain yang “setengah siap” bisa jadi celah yang terus diserang lawan. Apalagi derby sering berjalan panas, intens, dan penuh duel.
Bukan Cuma Belakang, Lini Tengah Ikut Berlubang
City tidak hanya dipukul dari sisi pertahanan. Cedera juga merembet ke area gelandang, membuat Guardiola kehilangan opsi energi dan kontrol tempo.
Mateo Kovacic termasuk yang masih sidelined, membuat rotasi di lini tengah tidak seleluasa biasanya. Dalam beberapa kondisi, Kovacic adalah tipe pemain yang cocok untuk derby karena bisa menenangkan permainan saat suasana Old Trafford memanas.
Ketergantungan pada Rodri Makin Tinggi
Jika Rodri dimainkan, City akan sangat berharap ia bisa jadi pusat keseimbangan: menyapu serangan balik sekaligus membuka jalur umpan.
Masalahnya, di laga seperti derby, Rodri bukan cuma diminta bermain bagus. Ia diminta jadi “asuransi” untuk seluruh tim. Kalau City kehilangan bola, Rodri harus langsung memutus serangan. Kalau City membangun serangan, Rodri harus jadi jalur aman. Beban ini besar, apalagi ketika belakang tidak dalam kondisi ideal.
Kemenangan di Newcastle Jadi Modal, Tapi Juga Menguras Energi
City baru saja meraih hasil positif di ajang piala dengan mengalahkan Newcastle 2-0 pada leg pertama semifinal Carabao Cup. Hasil itu menunjukkan City masih punya karakter pemenang, bahkan saat kondisi skuad tidak sempurna.
Namun derby datang cepat. Ada sisi lain dari kemenangan itu: intensitas pertandingan piala bisa menguras tenaga dan memaksa Guardiola melakukan rotasi, padahal rotasi juga sulit karena stok pemain terbatas.

Guardiola Punya Dilema: Menjaga Ritme atau Menghindari Risiko Cedera Baru
Di klub yang normal, laga piala bisa jadi tempat mengistirahatkan pemain tertentu. Di City versi sekarang, laga piala justru menjadi momen di mana Guardiola harus memainkan kombinasi yang ada, lalu berharap tidak ada cedera baru.
Dilema ini membuat derby semakin rumit. Guardiola harus memilih: tetap menyerang seperti biasa dan mengambil risiko transisi, atau bermain lebih pragmatis demi menjaga struktur pertahanan.
Derbi di Old Trafford: City Datang dengan Tekanan Berlapis
Derby ini digelar di Old Trafford pada Sabtu, 17 Januari 2026. Jadwal siang hari membuat atmosfer sering terasa “langsung meledak” dari menit awal, terutama jika tuan rumah bermain agresif.
Bagi Manchester United, laga ini juga spesial karena menjadi pertandingan derby pertama di era interim mereka bersama Michael Carrick. Itu artinya City bukan hanya melawan tim, tapi melawan energi baru yang biasanya muncul ketika pergantian pelatih terjadi.
United Punya Motivasi Tambahan, City Tidak Bisa Santai
Derby ini bisa jadi momen pembuktian bagi Carrick yang baru masuk sebagai pelatih interim. City wajib siap menghadapi United yang tampil lebih “hidup”, meski secara kualitas skuad mungkin tidak sempurna.
Yang berbahaya buat City adalah skenario sederhana: United menumpuk tenaga di transisi, memaksa City melakukan duel lari, lalu mengincar celah di bek tengah yang tidak biasanya. Dengan absennya pilar utama, rencana seperti ini bisa jadi senjata.
Guardiola Berpikir Cepat: Transfer Darurat Mulai Dibicarakan
Krisis bek City bukan cuma ramai di ruang ganti, tapi juga di bursa. Ada laporan bahwa City bergerak untuk mencari tambahan tenaga di lini belakang karena kondisi semakin mengkhawatirkan.
Salah satu nama yang mencuat adalah Marc Guéhi. City dikabarkan mendekati kesepakatan dengan Crystal Palace, dan ini disebut berkaitan langsung dengan keadaan darurat di pertahanan, karena beberapa bek inti sedang cedera.
Jika Rekrutan Datang, Efeknya Bisa Cepat atau Justru Lambat
Masalah di tengah musim adalah adaptasi. Bek baru tidak otomatis paham mekanisme pressing City, kapan harus naik, kapan harus bertahan, kapan harus memutus risiko. Guardiola terkenal perfeksionis soal detail. Jadi meski tambahan pemain bisa meredakan krisis di atas kertas, efek nyata di lapangan belum tentu instan.
Namun setidaknya, sinyal transfer menunjukkan City mengakui masalah ini serius. Derby bisa jadi pemicu: jika City terpukul di Old Trafford, tekanan untuk bergerak di bursa akan semakin kencang.
City Masih Punya Senjata Depan, Tapi Harus Lebih Efisien
Dalam laga besar, biasanya City tetap bisa menciptakan peluang. Namun ketika pertahanan rapuh, City tidak boleh menyia-nyiakan momen di depan gawang. Setiap peluang harus punya nilai.
Prediksi susunan pemain menunjukkan Erling Haaland tetap jadi tumpuan, dengan dukungan kreator seperti Phil Foden dan winger yang memberi ancaman dari sisi.
Haaland Butuh Pasokan Lebih Bersih
Ketika City kehilangan kestabilan di belakang, distribusi bola ke depan sering jadi tidak rapi. Serangan bisa putus di tengah, forcing Haaland menerima bola dalam kondisi sulit atau terlalu jauh dari kotak penalti.
Di derby, Haaland bisa tetap berbahaya walau tidak banyak sentuhan, tapi City harus memastikan ada skema yang membuatnya mendapatkan bola di area paling mematikan, bukan sekadar jadi pemantul bola.
Kunci Derby: City Harus Menang “Lewat Kontrol”, Bukan Adu Lari
City paling nyaman ketika pertandingan berjalan sesuai skenario mereka: memegang bola, menekan, memaksa lawan bertahan lama. Tapi krisis cedera membuat City rentan saat pertandingan berubah menjadi duel terbuka.
Guardiola tahu betul, derby bukan tempat untuk uji coba mental. Dengan absennya Dias, Gvardiol, dan Stones, City harus mengatur tempo seketat mungkin, karena sekali pertandingan liar, celah di belakang akan terlihat jelas.
Jika City Bisa Menjinakkan Atmosfer Old Trafford, Mereka Punya Peluang Besar
Cara paling efektif adalah membuat Old Trafford “diam” lewat penguasaan bola panjang, forcing United berlari mengejar. Masalahnya, City juga harus berani mengambil risiko progresi bola, karena penguasaan bola yang terlalu aman bisa membuat derby justru memberi United momentum untuk mencuri satu momen.
Itulah inti masalah City jelang derby ini: Guardiola sedang mencoba menang dengan tangan yang tidak lengkap. Jika berhasil, itu akan terlihat seperti kelas master. Jika gagal, semua orang akan menunjuk satu hal yang sama, pertahanan City sedang bocor bahkan sebelum peluit pertama dibunyikan.