Haaland Mandul di 6 Laga, Cuma 1 Gol : Ada Apa dengan Mesin Gol City?

Erling Haaland biasanya cuma butuh satu momen untuk mengubah pertandingan. Satu sentuhan, satu ruang, bola masuk. Tapi beberapa pekan terakhir, publik Etihad dibuat geleng geleng. Striker yang identik dengan ledakan gol itu mendadak “hemat” produktivitas, bahkan dalam enam laga terakhir ia hanya mencatat satu gol. Itu pun bukan dari permainan terbuka, melainkan lewat titik putih.

Ini bukan cerita Haaland tiba tiba “habis”. Justru sebaliknya, situasinya lebih kompleks: kombinasi kondisi fisik, cara lawan bertahan, sampai ritme Manchester City yang tak sehalus biasanya. Pep Guardiola sendiri memberi sinyal jelas bahwa ada faktor kelelahan yang menggerogoti ujung tombak andalannya.


Statistik Haaland Musim Ini: Tetap Tajam, Tapi Grafiknya Menurun

Sebelum bicara soal “seret”, satu hal wajib dicatat: Haaland tetap mengerikan jika melihat total angka musim ini. Ia masih berada di jalur produktif, hanya saja kecepatannya menurun di momen yang terasa sensitif, ketika City butuh pembeda.

Berikut ringkasan statistik Haaland musim 2025/26 per pertengahan Januari 2026.

KompetisiMainGolAssist
Premier League21204
Liga Champions660
Piala FA100
Piala Liga100
Total29264

Data ini menunjukkan Haaland masih gila di Premier League: 20 gol dari 21 laga. Namun catatan “cuma 1 gol dalam rentang pertandingan terakhir” menjadi alarm karena ritme City ikut melambat saat ia tak meledak.

Satu Gol Itu Pun Penalti: Tanda yang Tidak Biasa untuk Haaland

Jika ada satu momen yang merangkum fase ini, itu terjadi saat City bertemu Brighton pada awal Januari. Haaland mencetak gol penalti yang sekaligus menjadi gol ke 150-nya bersama Manchester City. Angkanya terasa megah, tapi konteksnya bikin diskusi panjang: penalti itu jadi satu satunya golnya dalam rangkaian performa yang dianggap turun.

Di sisi lain, ada juga sorotan bahwa Haaland cukup lama tidak mencetak gol dari permainan terbuka sejak Desember. Artinya, lawan mulai sukses “mengunci” jalur favoritnya, sementara City juga tidak selalu mampu menciptakan peluang yang bersih untuknya.


Kelelahan dan Beban Menumpuk: Guardiola Sampai Bicara “Exhausted”

Setajam apa pun seorang penyerang, tubuh tetap punya batas. Haaland main hampir selalu, menitnya tinggi, duel fisiknya brutal, dan beban ekspektasi di City juga tidak main main.

Guardiola sempat menyinggung bahwa Haaland kelelahan dan City butuh opsi agar beban ujung tombaknya bisa terbagi. Ini bukan sekadar komentar basa basi, karena ketika penyerang seperti Haaland mulai kehilangan energi, dampaknya bukan cuma “tembakannya jadi meleset”. Biasanya yang turun itu detail kecil: timing lari sepersekian detik lebih lambat, langkah pertama tidak setajam biasanya, dan keputusan di kotak penalti jadi terasa setengah ragu. Dalam sepak bola level elite, detail sekecil itu cukup untuk mengubah gol menjadi peluang terbuang.

Intensitas City Membuat Striker “Kerja Lembur” Tanpa Terlihat

City mendominasi bola, tapi dominasi tidak selalu berarti mudah. Ketika lawan bertahan rendah, Haaland bukan cuma menunggu bola. Ia harus jadi pemantul, jadi pemecah blok, jadi target duel, sekaligus tetap siap sprint ke tiang dekat.

Itu pekerjaan ganda, dan saat tenaga menurun, sentuhan pertama yang biasanya rapih bisa jadi mental. Finishing yang biasanya insting bisa jadi dipikirkan. Dan di fase seperti ini, striker kelas dunia pun bisa terlihat “biasa saja”.


Lawan Mulai Punya Formula: Kunci Area Favorit Haaland

Penurunan gol Haaland juga lahir dari adaptasi lawan. Klub klub Premier League sudah cukup lama “mempelajari” pola City, dan Haaland jadi titik fokus utama. Polanya terasa berulang:

  1. Bek tengah menempel ketat dari belakang
  2. Satu gelandang turun untuk menutup jalur cutback
  3. Fullback lawan tidak terpancing naik terlalu tinggi
  4. City dipaksa melebar dan mengirim bola silang

Haaland bisa menang duel udara, tapi City bukan tim yang hidup dari crossing tradisional setiap pekan. Mereka lebih sering menciptakan gol lewat kombinasi di half space dan cutback mendatar. Saat jalur cutback ditutup, Haaland mendadak “dijauhkan” dari zona eksekusi favoritnya.

Haaland Dipaksa Menjauh dari Kotak, City Kehilangan “Tap In”

Ada satu hal yang sering luput: City terbaik itu bukan saat Haaland bikin gol salto atau tembakan roket. City paling mematikan justru ketika Haaland dapat peluang tap in yang terlihat sederhana.

Ketika lawan memaksa dia keluar kotak untuk menerima bola, jumlah tap in itu turun. Dan saat peluang “mudah” hilang, Haaland tetap bisa mencetak gol, tapi ia butuh peluang yang lebih sulit, lebih sedikit, dan lebih berisiko.


Ritme City Tidak Sempurna: Cedera dan Rotasi Ikut Memengaruhi Suplai

Penyerang tajam butuh suplai tajam. Kalau City lagi stabil, bola datang dari mana mana: cutback, umpan terobosan, kombinasi cepat, bahkan bola kedua dari pressing.

Masalahnya, City juga sempat mengalami situasi yang membuat mereka tidak selalu rapi. Ketika beberapa pemain kunci absen atau rotasi dilakukan terus menerus, struktur tim ikut berubah, termasuk saat membangun serangan. City memang tetap dominan, tapi dominasi itu tidak selalu menghasilkan peluang bersih untuk Haaland.

Dalam periode beberapa hasil imbang, City terlihat menguasai pertandingan, namun penyelesaiannya tidak mematikan. Mereka memegang kontrol, tapi tidak mendapatkan “pukulan terakhir” yang biasa jadi ciri khas.

Saat Kreator Tidak 100 Persen, Haaland Ikut “Kering”

Haaland sangat cocok dengan pengumpan berani yang mau mengirim bola cepat ke ruang sempit. Ketika kreator City tidak dalam performa top atau lawan mampu memotong jalur operan awal, Haaland jadi korban kedua.

Ia tetap bergerak, tetap menarik bek, tetap membuka ruang, tapi bola yang datang sering terlambat atau tidak ideal. Dalam situasi seperti ini, striker sehebat apa pun akan terlihat lebih sulit mencetak gol, karena ia “dipaksa” menyelesaikan peluang setengah matang.


Haaland Masih Jadi Magnet: City Malah Lebih “Rame” Pencetak Golnya

Ada sisi positif dari fase Haaland yang tidak meledak: City mulai menemukan sumber gol lain. Ini terlihat dalam beberapa laga ketika pemain sayap atau gelandang yang justru jadi penentu.

Dalam sebuah laga besar di ajang domestik, City mampu menang dan mencetak gol lewat pemain lain meski Haaland tidak masuk daftar pencetak gol. Haaland tetap jadi pusat perhatian bek lawan, tetap jadi titik yang membuat garis pertahanan musuh tidak berani terlalu tinggi. Dalam banyak momen, ia bekerja seperti magnet, menyedot marking, lalu membuka ruang untuk rekan rekan yang datang dari lini kedua.

Buat City, ini dua mata pisau. Bagus karena tim tidak terlalu tergantung pada satu pemain. Tapi sekaligus jadi bukti bahwa peluang Haaland bisa “dicuri” oleh skema, entah karena ia dijadikan pemancing ruang atau karena serangan City memilih opsi lain.

Haaland Tidak Hilang, Dia Cuma Tidak Jadi Eksekutor Utama di Setiap Serangan

Dalam sepak bola Guardiola, striker bisa jadi alat strategis. Haaland bisa saja tidak mencetak gol, tapi membuka ruang untuk cut inside winger atau late run gelandang.

Namun ketika publik menilai dari satu metrik saja, yaitu gol, perannya terlihat seperti menurun drastis. Padahal dalam beberapa laga, City tetap “hidup” karena Haaland memaku dua bek sekaligus.


Detail yang Sering Terlewat: Penalti, VAR, dan Momentum Psikologis

Dalam periode ketika gol seret, momen kecil sangat menentukan. Penalti melawan Brighton jadi penyelamat statistik, sekaligus penanda bahwa City butuh jalur alternatif untuk mencetak gol.

Di pertandingan lain, keputusan tipis dan detail seperti offside juga sering mengubah momentum. Situasi seperti ini membuat narasi cepat bergeser: striker terlihat “buntu”, padahal tim sebenarnya menciptakan situasi gol yang tinggal menunggu finishing.

Dan soal psikologis, striker itu makhluk momentum. Satu gol bisa bikin semua terasa ringan. Sebaliknya, beberapa laga tanpa gol bisa bikin gerakan jadi “mencari”, bukan lagi natural. Ketika lari ke tiang dekat mulai terasa dipikirkan, ketika tembakan pertama tidak jadi karena ingin kontrol satu sentuhan ekstra, di situlah penurunan produktivitas biasanya dimulai.


Apa yang Harus Dilakukan City untuk Menghidupkan Haaland Lagi?

City tidak perlu panik. Bahkan di fase “turun”, Haaland masih punya 26 gol musim ini. Tapi kalau ingin versi Haaland yang benar benar brutal kembali, ada beberapa hal yang terlihat penting.

Beri Haaland “makanan” favorit: cutback cepat, bukan crossing asal

City paling mematikan saat bola masuk kotak dengan kecepatan tinggi dan arah mendatar. Haaland tinggal mengubah arah bola. Ketika serangan terlalu lama diputar, lawan keburu rapat dan peluang berubah jadi tembakan sulit.

Haaland itu predator. Bukan penyerang yang harus berkali kali mengolah bola di antara tiga pemain. Jadi semakin banyak City menciptakan situasi satu sentuhan, semakin cepat pula Haaland kembali ke mode “mesin”.

Rotasi menit: istirahat bukan kemewahan, tapi kebutuhan

City butuh berani mengatur menit bermain Haaland. Ini bukan soal menurunkan mentalnya, tapi soal menjaga “ledakan” fisiknya.

Haaland paling berbahaya saat ia segar, bisa sprint berulang, dan masih punya tenaga untuk duel sampai menit akhir. Bahkan satu kali ia absen atau hanya main sebagian menit di laga tertentu bisa jadi kunci agar dalam laga besar berikutnya ia tampil seperti Haaland yang selama ini ditakuti lawan.

Tambah variasi serangan: jangan selalu mengantar bola ke Haaland lewat jalur sama

Lawan sudah menyiapkan perangkap. Jika City terus menyerang dengan pola identik, Haaland akan terus dibendung dengan cara yang sama.

Yang perlu ditambah adalah variasi: kombinasi satu dua di area sempit, umpan terobosan lebih dini, dan lebih banyak pergerakan tanpa bola dari lini kedua yang membuat bek lawan ragu memilih fokus. Ketika bek lawan mulai ragu, sepersekian detik ruang itu muncul, dan Haaland hanya butuh itu.

Derby dan Jadwal Padat: Momen Tepat untuk Membalik Rumor

Sepak bola sering memberi kesempatan cepat untuk “menghapus” cerita negatif. Haaland sudah berkali kali membalikkan situasi seperti ini, dan City kini masuk fase jadwal yang penuh tekanan, termasuk laga besar di liga serta kejaran trofi domestik.

Kalau satu gol datang di momen yang pas, misalnya di laga besar, semua pembicaraan soal “mandul” bisa berubah jadi cerita klasik: Haaland sempat senyap, lalu meledak lagi.

Dan kalau itu terjadi, publik Premier League mungkin akan kembali ke kesimpulan yang selama ini paling masuk akal: Haaland bukan sedang habis, ia cuma sedang mengambil napas sebelum ledakan berikutnya.

Leave a Reply