Drama Belum Selesai : 5 Kandidat Pelatih Real Madrid Musim Depan
Real Madrid lagi lagi masuk fase “meja rapat panas” di tengah musim. Dalam pengumuman resminya pada 12 Januari 2026, klub menyatakan berpisah dengan Xabi Alonso lewat kesepakatan bersama. Tidak menunggu lama, Álvaro Arbeloa langsung ditunjuk menjadi pelatih tim utama.
Langkah cepat ini memang khas Madrid. Ketika arah proyek terasa goyah, pergantian pelatih bisa terjadi seperti menekan tombol reset. Namun penunjukan Arbeloa juga memunculkan satu pertanyaan besar: apakah ia solusi jangka panjang, atau sekadar “jembatan” sampai musim panas?
Laporan sejumlah media Spanyol menyebut Madrid sudah mulai menyurvei kandidat untuk musim depan, yang artinya posisi Arbeloa bisa saja bersifat sementara. Di titik inilah bursa nama mulai liar, dari yang emosional sampai yang benar benar pragmatis.
Berikut lima kandidat paling masuk akal untuk kursi panas Real Madrid musim depan, lengkap dengan gaya main, potensi kecocokan, dan rintangan yang perlu dibereskan.
Real Madrid dan kursi pelatih yang tidak pernah “aman”
Madrid bukan klub yang memberi waktu panjang untuk “proses”. Bahkan pelatih yang sudah memberi trofi pun tetap bisa kena evaluasi ketat saat performa menurun. Pada kasus Xabi Alonso, perpisahan terjadi hanya beberapa hari setelah kekalahan dari Barcelona di final Supercopa.
Arbeloa sendiri datang membawa narasi Madridismo yang kuat. Dalam pernyataan resmi klub, ia dipilih sebagai pelatih tim utama dan langsung bicara soal tanggung jawab besar serta tuntutan yang tidak bisa ditawar.
Yang menarik, Madrid tetap terasa seperti “mencari sosok final” untuk memimpin proyek baru. Karena ketika tekanan kompetisi makin ganas, Madrid biasanya menginginkan pelatih yang bukan cuma taktik, tapi juga punya aura.
Zinédine Zidane: opsi nostalgia yang selalu menggoda
Nama Zidane tidak pernah benar benar hilang dari lingkaran Madrid. Bahkan ketika ia tidak melatih, bayangannya tetap ada di ruang ganti Bernabéu.

Kenapa Zidane selalu relevan di Madrid
Zidane adalah paket lengkap versi Real Madrid. Ia paham cara kerja klub, paham ritme tekanan media, dan yang paling krusial, paham cara menenangkan ruang ganti bertabur bintang tanpa terlihat “takut”.
Madrid bukan sekadar tim yang butuh taktik rapi, tapi juga butuh pelatih yang bisa membuat para pemain merasa dihargai, tanpa mengorbankan kedisiplinan. Zidane punya reputasi itu.
Tantangan Zidane jika kembali untuk periode ketiga
Kalau Zidane balik, ekspektasi publik otomatis naik dua kali lipat. Fans tidak hanya ingin menang, mereka ingin menang dengan cara Madrid. Ditambah, proyek skuad saat ini lebih kompleks karena komposisinya campuran bintang mapan dan talenta muda yang butuh tangan sabar.
Ada juga variabel ambisi Zidane sendiri yang kerap dikaitkan dengan timnas Prancis, sehingga Madrid harus yakin ia benar benar datang untuk “misi penuh”, bukan singgah sebentar.
Gaya main yang mungkin dibawa
Zidane bukan pelatih yang kaku pada satu pakem. Ia fleksibel, bisa bermain langsung dengan transisi cepat, tapi juga mampu mengontrol tempo bila dibutuhkan. Dengan materi Madrid yang kaya kreativitas, gaya fleksibel semacam ini sering terasa lebih “nyambung” daripada skema yang terlalu menuntut detail mikro di setiap gerakan.
Jürgen Klopp: energi besar, tapi apakah Madrid siap “hidup di intensitas”?
Dari semua nama yang beredar, Klopp adalah kandidat yang paling membuat imajinasi publik menyala.
Klopp sendiri sempat merespons rumor tersebut, dan ia menyinggung bahwa situasi Madrid “seperti ada yang tidak beres” sehingga ia tidak mau menyeret namanya terlalu jauh.

Mengapa Klopp pantas ?
Klopp adalah spesialis membangun tim dengan identitas kuat. Ia bukan tipe pelatih yang hanya mengandalkan kualitas individu, melainkan menciptakan mesin kolektif yang kejam saat tanpa bola dan tajam saat menyerang.
Madrid selama bertahun tahun sering menang karena kualitas pemain. Klopp akan menawarkan sesuatu yang berbeda: tim yang menang karena sistem plus mentalitas.
Hambatan terbesar: kultur ruang ganti Real Madrid
Di sinilah pertarungan sebenarnya. Klopp menuntut intensitas, fokus latihan, dan kepatuhan pada detail. Sementara Madrid dikenal memiliki bintang yang butuh ruang untuk “menjadi diri sendiri”.
Jika ruang ganti Madrid sedang sensitif, Klopp bisa jadi obat sekaligus racun. Obat karena ia bisa membenahi standar kerja. Racun karena kalau pemain besar tidak mau membeli idenya, konflik bisa cepat membesar.
Madrid versi Klopp akan seperti apa
Bayangkan Madrid bermain dengan pressing yang lebih konsisten, transisi lebih cepat, dan tenaga yang meledak di 20 menit pertama. Itu khas Klopp. Namun Madrid juga harus siap dengan tuntutan rotasi dan stamina, karena gaya ini menguras fisik dan mental.
Thomas Tuchel: taktik elite untuk tim elite
Tuchel sering masuk daftar ketika klub besar butuh pelatih “langsung jadi”. Ia punya reputasi sebagai pemecah masalah di level tertinggi, dan disebut sebagai salah satu opsi kuat karena banyak pelatih top yang kontraknya fleksibel menuju musim panas.

Kekuatan utama Tuchel untuk Real Madrid
Tuchel tajam membaca pertandingan. Ia bisa mengubah struktur tim di tengah laga, mematikan kekuatan lawan, lalu menghidupkan senjata sendiri lewat penyesuaian kecil.
Untuk Madrid yang sering bermain di kompetisi dengan lawan beragam, tipe pelatih seperti ini sangat berguna. Terutama di UEFA Champions League, detail taktik sering jadi pembeda.
Risiko yang selalu mengikuti Tuchel
Satu hal yang tidak bisa diabaikan: Tuchel sering membawa “gesekan” di balik layar. Di beberapa klub, ia bisa bersitegang dengan manajemen soal transfer dan struktur kerja.
Madrid punya hierarki yang kuat. Kalau Tuchel datang, dua pihak harus sepakat soal batas wewenang sejak awal. Kalau tidak, masalahnya bukan di lapangan, tapi di kantor.
Seperti apa Madrid di bawah Tuchel
Lebih pragmatis dan lebih kontrol. Madrid bisa jadi lebih “rapi”, tidak selalu bermain liar, dan punya variasi struktur build up. Fans yang suka sepak bola taktikal mungkin senang, tapi sebagian publik Madrid juga selalu ingin timnya tetap bermain dengan aura menyerang yang “menghibur sekaligus mematikan”.
Enzo Maresca: modern, berani, dan bisa jadi pilihan paling “berbeda”
Nama Enzo Maresca terdengar seperti kandidat yang “tidak biasa” untuk Real Madrid, tapi justru itu yang membuatnya menarik.

Kenapa Maresca bisa masuk radar Madrid
Maresca mewakili generasi pelatih baru yang percaya kontrol permainan lewat struktur rapi. Ia punya ide build up, penempatan pemain antar lini, dan pola progresi bola yang jelas.
Jika Madrid ingin bergerak ke arah proyek jangka panjang dengan konsep yang lebih “tergambar”, Maresca bisa menjadi taruhan yang menggoda.
Pertanyaan besar: Real Madrid bukan ruang belajar
Masalahnya, Madrid bukan tempat untuk belajar sambil jalan. Nama besar boleh saja, tetapi begitu hasil dua pekan jelek, alarm sudah berbunyi.
Maresca harus siap dengan malam malam berat, konferensi pers yang tajam, dan ekspektasi yang tidak memberi ruang untuk “transisi filosofi” terlalu lama.
Potensi Madrid versi Maresca
Madrid akan lebih sering menguasai bola dengan tujuan yang jelas, bukan sekadar possession. Tim juga bisa lebih konsisten dalam mengontrol momen, kapan menyerang cepat dan kapan memancing lawan keluar.
Namun ia harus punya rencana khusus untuk memaksimalkan bintang, karena di Madrid, sistem tanpa ruang improvisasi sering membuat pemain top terlihat “diborgol”.
Julian Nagelsmann: jenius muda yang selalu punya magnet Bernabéu
Nagelsmann adalah tipe nama yang selalu muncul ketika klub besar ingin pelatih dengan taktik mutakhir.

Mengapa Nagelsmann cocok untuk skuad bintang plus talenta muda
Nagelsmann jago mengembangkan pemain muda tanpa mengorbankan kompetisi. Ia juga fleksibel dalam formasi, bisa tiga bek, bisa empat bek, bisa bermain dengan inverted fullback atau lebar klasik.
Madrid yang selalu punya kombinasi wonderkid dan superstar, butuh pelatih yang bisa menyatukan keduanya.
Tantangan paling realistis: statusnya di timnas
Jika Nagelsmann masih memimpin Jerman, Madrid harus menunggu atau menebus dengan negosiasi yang rumit. Untuk klub yang suka kepastian, ini faktor yang cukup besar.
Namun Madrid juga klub yang kadang mampu membuat sesuatu “yang tidak mungkin” jadi mungkin, terutama jika presidennya sudah menentukan target.
Madrid akan dapat apa dari Nagelsmann
Tim yang lebih terstruktur tanpa menghilangkan agresivitas. Nagelsmann suka membangun pressing dengan trigger yang jelas, dan menyerang dengan overload di area tertentu. Madrid bisa tampil lebih “modern” dan sulit ditebak, asalkan skuadnya mau mengikuti pola.
Satu kunci yang sama: siapa pun pelatihnya, ia harus menang cepat
Pergantian pelatih bukan sekadar soal nama besar. Real Madrid sedang mencari sosok yang sanggup mengendalikan ruang ganti, memperbaiki performa, dan tetap membuat tim terasa “menakutkan” di Eropa.
Dengan status Arbeloa sebagai pelatih saat ini lewat penunjukan resmi klub, semua mata akan tertuju pada bagaimana hasil Madrid berjalan sampai musim panas, dan apakah manajemen benar benar memberi proyek penuh atau memilih “nama besar” untuk memadamkan api.
Kalau Madrid memilih jalan romantis, Zidane adalah jawaban paling aman. Kalau mereka ingin revolusi energi, Klopp adalah bom atomnya. Jika butuh taktik instan, Tuchel punya CV elit. Untuk taruhan modern jangka panjang, Maresca bisa jadi kejutan. Dan bila Madrid ingin gabungan ide segar dan kualitas elite, Nagelsmann adalah kandidat yang secara sepak bola sangat masuk.