Dari Cole ke Havertz : 15 Pemain yang Pernah Bela Chelsea dan Arsenal

Rivalitas Chelsea dan Arsenal itu unik. Sama sama klub London, sama sama punya sejarah besar, dan sama sama punya basis fans yang keras kepala. Tapi di balik panasnya derby, ada satu jalur yang selalu bikin heboh: jalur pemain yang pernah memakai dua warna, biru Stamford Bridge dan merah Emirates.

Menariknya, bukan cuma satu dua nama. Dalam era Premier League saja, ada 15 pemain yang pernah membela Arsenal dan Chelsea. Daftar ini seperti album kenangan, ada yang jadi legenda, ada yang cuma numpang lewat, ada juga yang pindah justru saat tensi dua kubu lagi tinggi tingginya.


Daftar 15 nama yang bikin fans dua kubu sering salah fokus

Kalau kamu kira perpindahan antar dua klub ini cuma soal transfer biasa, coba lihat nama namanya. Ada bek ikonik, gelandang maestro, kiper juara Liga Champions, sampai penyerang yang pernah jadi idola dan tiba tiba pindah “ke seberang”.

Daftar pemain yang pernah membela Arsenal dan Chelsea adalah: Ashley Cole, Cesc Fabregas, Petr Cech, Olivier Giroud, David Luiz, Emmanuel Petit, Lassana Diarra, Nicolas Anelka, Pierre Emerick Aubameyang, Raheem Sterling, William Gallas, Willian, Yossi Benayoun, Jorginho, dan Kai Havertz.

Ashley Cole, transfer yang sampai hari ini masih terasa panas

Nama Ashley Cole biasanya langsung memecah suasana. Buat fans Arsenal, dia adalah salah satu bek kiri terbaik yang pernah mereka punya. Buat fans Chelsea, dia jadi bagian penting dari era yang penuh trofi. Yang bikin cerita ini “berisik” adalah cara pindahnya, karena transfer ini bukan sekadar pindah klub, tapi juga menyentuh harga diri rival.

Cole pindah ke Chelsea dan sejak itu derby London jadi punya bumbu tambahan. Setiap kali dia kembali menghadapi Arsenal, atmosfernya beda. Ini tipe transfer yang membuat pemain selalu diingat, entah sebagai pahlawan atau pengkhianat, tergantung kamu berdiri di tribun yang mana.

William Gallas, pertukaran yang ikut mengubah peta pertahanan

Kalau Ashley Cole jadi api, William Gallas adalah bagian dari asap tebalnya. Gallas datang ke Arsenal dari Chelsea dalam paket transfer yang membuat Cole bergerak ke arah sebaliknya. Ceritanya tidak cuma soal taktik, tapi juga soal tekanan besar karena dia datang dengan label “eks pemain rival”.

Di Arsenal, Gallas sempat jadi figur senior, bahkan pernah menyandang ban kapten. Tetapi publik London tahu, membela Arsenal setelah Chelsea itu seperti berjalan di atas kaca. Satu blunder bisa diingat lebih lama dibanding sepuluh tekel bersih.

Petr Cech, legenda Chelsea yang memilih menutup karier di Emirates

Petr Cech adalah contoh pindah yang lebih “dewasa” dalam konteks karier. Ia meninggalkan Chelsea setelah bertahun tahun jadi simbol kejayaan, lalu pindah ke Arsenal untuk tetap bermain di level tertinggi.

Yang bikin kisahnya menarik adalah reaksi fans yang cenderung campur aduk. Banyak yang menghormati, tetapi tetap ada yang merasa aneh melihat kiper identik warna biru tiba tiba berdiri di bawah mistar dengan jersey merah. Cech tidak menghapus masa lalunya, ia membawa pengalaman juara ke ruang ganti Arsenal, sesuatu yang selalu berharga untuk tim mana pun.

David Luiz, pindah saat derby lagi sensitif sensitifnya

David Luiz adalah tipe pemain yang selalu bikin pertandingan ramai. Entah karena gaya main, ekspresi, atau momen dramatisnya. Arsenal merekrutnya dari Chelsea dan transfer ini langsung memantik komentar karena dilakukan di London, di tengah kompetisi yang ketat.

Luiz bukan pindah sebagai pemain muda, melainkan sebagai bek senior yang punya pengalaman juara. Di Arsenal, ia lebih sering jadi sosok yang dicari saat tim butuh karakter. Tetapi seperti biasa, karier Luiz selalu punya dua sisi: bisa jadi penyelamat, bisa juga jadi sumber drama.

Emmanuel Petit, pemenang Piala Dunia yang sempat lewat dua kubu London

Emmanuel Petit adalah nama yang kadang terlupakan jika bicara rival Arsenal Chelsea, padahal statusnya tidak main main. Ia pernah jadi bagian Arsenal di masa awal Wenger, lalu beberapa tahun kemudian berseragam Chelsea.

Petit itu contoh pemain yang tidak pernah jadi “produk derby”, tapi tetap punya aura besar karena reputasinya sudah terbentuk di level dunia. Kalau kamu penikmat sepak bola era 90an, nama ini punya bobot yang beda.

Lassana Diarra, si “pindah cepat” yang jadi teka teki bagi banyak fans

Tidak semua pemain lintas Chelsea Arsenal punya cerita panjang. Lassana Diarra salah satunya. Ia sempat membela Chelsea, lalu pindah ke Arsenal, tetapi waktunya singkat di kedua klub.

Kadang cerita seperti ini justru yang paling menarik, karena menunjukkan tidak semua transfer itu soal ambisi besar. Ada juga yang murni soal menit bermain dan kebutuhan karier yang cepat berubah.

Cesc Fabregas, pengkhianatan atau profesionalisme murni

Kalau ada satu nama yang bisa bikin fans Arsenal refleks mengetik panjang di komentar, itu Cesc Fabregas. Ia tumbuh sebagai ikon Arsenal, playmaker yang seperti wajah klub. Ketika ia akhirnya memakai seragam Chelsea, itu terasa seperti plot twist film.

Di Chelsea, Fabregas membuktikan kualitasnya masih kelas top. Bagi sebagian orang, ini murni profesionalisme dan perjalanan karier. Tapi derby tidak pernah hanya soal logika. Ada unsur rasa yang tidak bisa dihitung angka statistik.

Jorginho, transfer yang bikin debat di dua sisi

Jorginho adalah salah satu contoh modern, transfer yang terjadi saat tekanan media sosial sudah gila gilaan. Arsenal merekrut Jorginho dari Chelsea dan pengumumannya sempat jadi perbincangan panjang karena dilakukan tepat di momen kompetisi lagi sengit.

Di atas kertas, ini transfer yang masuk akal. Arsenal butuh pengalaman dan kontrol tempo, Jorginho punya itu. Tetapi karena datang dari Chelsea, fans langsung menguji: apakah ia “beneran Arsenal” atau sekadar solusi sementara. Jawabannya, seperti biasa, ditentukan oleh performa di laga besar.

Kai Havertz, perpindahan mahal yang menuntut pembuktian

Kai Havertz pindah dari Chelsea ke Arsenal dan langsung jadi headline besar. Ia bukan pemain yang “aman” untuk diperdebatkan. Gaya mainnya bisa terlihat elegan, tapi juga bisa bikin orang frustrasi karena bukan tipe yang selalu meledak ledak.

Di Arsenal, ia datang dengan label mahal dan eks pemain rival. Itu paket tekanan yang berat. Tetapi justru di situ letak serunya: setiap gol, setiap kontribusi, selalu terasa seperti “jawaban” untuk satu stadion.

Willian, transfer gratis yang sempat bikin kening berkerut

Willian adalah contoh transfer yang saat diumumkan langsung menimbulkan reaksi, dari senyum sinis sampai optimisme. Masalahnya, ekspektasi publik waktu itu tinggi. Willian punya pengalaman, punya trofi, dan Arsenal butuh sosok senior.

Tapi di lapangan, ceritanya tidak selalu semulus yang diharap. Meski begitu, namanya tetap masuk kategori “pernah lintas dua kubu”, dan itu saja sudah cukup untuk membuatnya jadi bahan obrolan derby.

Yossi Benayoun, pinjaman yang sering terlupakan tapi tetap penting

Tidak semua kisah harus megah. Yossi Benayoun adalah contoh pemain yang datang ke Arsenal dengan status pinjaman dari Chelsea. Benayoun bukan pemain yang jadi pusat proyek jangka panjang, tetapi dalam sepak bola, pemain seperti ini sering berguna sebagai pengisi celah.

Dan anehnya, justru kisah kisah seperti ini yang membuat rivalitas terasa realistis. Di dunia nyata, klub besar pun kadang butuh solusi cepat.

Olivier Giroud, mantan striker Arsenal yang menang banyak di Chelsea

Ini salah satu transfer yang membuat orang bertanya, “kok bisa ya?” Giroud pernah jadi striker utama Arsenal, lalu pindah ke Chelsea. Yang membuat ceritanya tajam adalah bagaimana Giroud kemudian mengukir momen penting bersama Chelsea, termasuk di kompetisi Eropa.

Dalam perspektif fans Arsenal, ada rasa “dia menang setelah pergi”. Dalam perspektif fans Chelsea, Giroud adalah bukti bahwa rekrutan dari rival pun bisa jadi potongan puzzle yang pas.

Nicolas Anelka, si pengembara yang selalu punya bab London

Nicolas Anelka itu seperti karakter utama yang selalu muncul di berbagai episode Premier League. Ia pernah berada di Arsenal dan kemudian punya periode besar bersama Chelsea. Kisahnya menunjukkan bahwa karier pemain tidak selalu linear. Kadang seorang pemain pergi muda, berkembang, lalu kembali ke liga yang sama lewat pintu berbeda.

Anelka mungkin bukan contoh “satu klub satu hati”, tapi dia contoh nyata bahwa kualitas akan selalu menemukan tempatnya, bahkan di tengah rivalitas paling panas.

Pierre Emerick Aubameyang, kisah singkat yang tetap bikin ramai

Aubameyang sempat jadi kapten Arsenal dan mesin gol, lalu bergabung dengan Chelsea. Walau waktunya di Chelsea tidak sepanjang masa emasnya di Arsenal, statusnya sebagai mantan idola membuat perpindahan ini otomatis memancing emosi.

Ada pemain yang pindah lalu dilupakan, tapi Auba bukan tipe itu. Nama besarnya terlalu kuat untuk sekadar lewat.

Raheem Sterling, jalur pinjaman yang terasa seperti “plot kejutan”

Sterling mungkin bukan nama yang paling kamu bayangkan saat bicara jalur Chelsea Arsenal, tapi faktanya ia pernah menjadi bagian dari keduanya. Yang membuat cerita ini menarik adalah konteksnya.

Sterling datang bukan sebagai proyek jangka panjang, melainkan sebagai solusi yang tiba tiba terasa perlu. Dalam sepak bola modern, kadang transfer paling mengejutkan justru yang terjadi karena situasi “darurat” dan momentum.


Kenapa jalur Chelsea dan Arsenal selalu terbuka

Yang lucu dari sepak bola London adalah begini: dua klub bisa saling sindir sepanjang musim, tapi tetap bertemu di bursa transfer seperti tetangga yang pura pura tidak kenal lalu belanja di minimarket yang sama.

Kadang pemain pindah karena mencari menit bermain, kadang karena proyek pelatih, kadang karena klub butuh uang, kadang karena situasi sudah tidak bisa diselamatkan. Dan selama Chelsea serta Arsenal sama sama bersaing di level teratas, nama nama semacam ini akan terus muncul, entah sebagai legenda yang disambut, atau tamu yang datang dengan sorak sinis dari tribun.

Leave a Reply